Rabu, 30 Oktober 2013

Makam Sultanah Nahrasyiyah

Kompleks makam Sultanah Nahrasyiyah terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Lokasi makam ini berada di pemakaman Kesultanan Samudra Pasai Periode II.
Makam ini terbuat dari marmer untuk mengenang Al-Malikah Al-Mu’azhzhamah (Ratu yang Dipertuan Agung) Nahrasyiyah bini Sultan Zainal Abidin. Makam ini bisa diidentifikasi oleh para arkeolog karena adanya inskripsi yang terpahatkan di marmer berwarna putih tersebut. Inskripsi yang menggunakan aksara dan bahasa Arab, berisi (dalam terjemahannya): “Inilah pembaringan yang bercahaya lagi bersih bagi ratu yang dipertuan agung, yang dirahmati lagi diampuni Nahrasyiyah yang digelar dengan Ra-Bakhsya Khadiyu (penguasa yang pemurah) binti Sultan yang berbahagia lagi syahid Zainal Abidin bin Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih, semoga ke atasnya dan ke atas mereka semua dilimpahkan rahmat dan keampunan. Ia meninggalkan negeri yang fana menuju sisi rahmat Allah pada tanggal hari Senin 17 bulan Zulhijjah 831 dari hijrah [Nabi SAW].”
Selain inskripsi di atas yang kaligrafis, di makam tersebut juga terdapat ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu Surat Yasin. Terpahatnya Surat Yasin pada makam Sultanah Nahrasyiyah barangkali memililki suatu makna, seniman seolah hendak menyampaikan bahwa kebaikan Sultanah Nahrasyiyah dan Samudra Pasai pada waktu itu meliputi sisi duniawi dan ukhrawinya (al-mu’immah), jauh dari marabahaya dan mampu mempertahankan dirinya (al-dafi’ah), serta dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya (al-qadhiyah). Selain itu, Surat Yasin adalah juga jantung Al-Qur’an. Mungkin, seniman yang memahat Surat Yasin pada makam Malikah Nahrasyiyah juga ingin mengatakan bahwa Nahrasyiyah adalah jantung Samudera Pasai, dan Samudera Pasai adalah jantung bagi negeri-negeri Islam di Asia Tenggara.


Sejauh penelitian yang dilakukan, pahatan Surat Yasin pada makam bersejarah  di Aceh hanya terdapat pada dua makam. Yang pertama, makam Sultanah Nahrasyiyah, dan yang kedua adalah makam Sultan Alauddin Inayat Syah (seorang sultan dari Kerajaan Aceh Darussalam).
Kompleks makan ini dikelilingi oleh pagar kawat dan beratap seng memanjang. Karena di bawah seng tersebut banyak berjajar makam-makam lainnya. Di sekeliling makam ini, terutama yang berada di sebelah utara masih merupakan lahan tambak ikan/udang yang masih tergolong luas. Sehingga, di lingkungan makam ini udara terasa agak panas. Namun demikian, keindahan makam ini masih terpancar hingga kini. Bahkan, Dr. C. Snouck Hurgronje pernah terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. Makam yang terbuat dari pualam itu, merupakan makam terindah di Asia Tenggara. Makam yang dihiasi dengan ayat-ayat Qur’an tersebut tentu seorang raja yang besar, terbukti dari hiasan makamnya yang sangat istimewa.

Latar Belakang Sejarah
Sultanah Nahrasyiyah merupakan seorang raja perempuan dari Kerajaan Samudera Pasai yang memerintah dari 824-832 H atau 1400-1428 M. Ia adalah puteri Sultan Zainal Abidin bin Al-Malik Ash-Shalih (Sultan Malikussaleh), yang wafat pada hari Senin 17 Dzulhijjah 832 H atau 1428 M.
Sayang, sedikit sekali sumber sejarah tentang dirinya  yang memerintah lebih dari 20 tahun. Kerajaan Samudera Pasai senantiasa mengeluarkan mata uang emas. Akan tetapi, kepunyaan Ratu Nahrasyiyah sampai saat ini belum ditemukan.


Sementara itu, dirham ayahnya ditemukan, di mana di sisi depan mata uang tersebut tercantum “Zainal Abidin Malik az-Zahir”. Nama Sultan Zainal Abidin dalam berita-berita Tiongkok dikenal dengan Tsa-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643) menyebutkan, Raja ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani oleh sida-sida China, Yin Ching kepada maharaja China, Ch’engtsu (1403-1424).
Maharaja China kemudian mengeluarkan dekrit pengangkatannya sebagai Raja Samudera Pasai dan memberikan sebuah cap kerajaan dan pakaian kerajaan. Pada tahun 1415 Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai. Diceritakan, Sekandar, kemenakan suami kedua Ratu, bersama pengikutnya merampok Cheng Ho. Serdadu-serdadu China dan Ratu Kerajaan Samudera Pasai akhirnya dapat mengalahkan Sekandar. Ia ditangkap lalu dibawa ke Tiongkok untuk dijatuhi hukuman mati. Ratu yang dimaksud dalam berita China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasyiyah. *** [300913]

Kepustakaan:
Booklet Tinggalan Sejarah Samudra Pasai yang dikeluarkan oleh Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) Lhokseumawe
Sinopsis yang dipajang di dinding SDN 3 Beureunuen, Pidie

0 komentar:

Posting Komentar