Rabu, 09 Oktober 2013

Makam Sunan Bonang

Kompleks makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di belakang Masjid Agung Tuban. Kurang lebih 300 m dari alun-alun mengarah ke barat daya.
Makam Sunan Bonang merupakan salah satu dari makam Sunan di Jawa Timur yang menempati posisi penting setelah Sunan Ampel dan Sunan Giri. Jika orang berziarah makam wali, maka dapat dipastikan akan berziarah ke makam ini. Sunan Bonang menempati posisi kedua setelah Sunan Ampel dalam jajaran kewalian. Ia menjadi guru beberapa wali lain, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Drajat dan bahkan Sunan Giri (Raden Paku) juga pada tahap awal belajar kepadanya.
Kompleks makam Sunan Bonang di Tuban, ditinjau dari segi arkeologi cukup menarik. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bangunan yang ada di kompleks makam masih dalam keadaan asli, walaupun kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.


Kompleks makam Sunan Bonang dikelilingi tembok dan terbagi menjadi tiga halaman yang disusun berurut ke belakang dari arah selatan ke utara, masing-masing halaman dibatasi pagar tembok penghubung antara halaman satu dengan yang lain berupa gerbang  berbentuk paduraksa.
Di halaman dalam banyak ditemukan nisan-nisan kuno dari batu andesit. Di kompleks tersebut, selain makam Sunan Bonang juga terdapat makam para Bupati dan kerabat Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang terdiri dari jirat dan nisan. Bentuk jirat makam Sunan Bonang seperti profil candi. Pada nisan makam Sunan Bonang terdapat hiasan yang menyerupai hiasan surya Majapahit, dan makam Sunan Bonang dilindungi sebuah cungkup dengan atap sirap dari kayu jati yang berukir. Makam Sunan Bonang masih ditutupi lagi dengan kelambu, sehingga terkesan sangat keramat. Di kompleks tersebut juga ada sebuah masjid kecil yang dikenal dengan Masjid Astana.

Latar Belakang Sejarah
Semasa mudanya, Sunan Bonang bernama Raden Maulana Makdum Ibrahim, lahir 1448 Masehi dan wafat 1525 Masehi. Beliau adalah putra Sunan Ampel hasil perkawinan dengan Nyai Ageng Manila, putri Aryo Tejo, Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban.
Menurut cerita, Sunan Bonang bersama Raden Paku (Sunan Giri) suatu hari bermaksud pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanannya mereka hanya sampai di Samudra Pasai. Di Pasai, mereka berjumpa dengan ayahanda Raden Paku yang bernama Maulana Iskak (Syeh Wali Lanang). Keduanya diajarkan ilmu agama Islam dan berbagai ilmu lainnya oleh Maulana Iskak. Setelah selesai belajar pada Maulana Iskak kemudian Raden Paku (Sunan Giri) diberi gelar Raden Satmapta dan Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) diberi gelar Raden Tjakrakusuma. Atas nasehat Syeh Maulana Iskak, keduanya tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Mekkah, tetapi pulang ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Raden Paku menyebarkan ajaran Islam di daerah Giri, Gresik, yang akhirnya terkenal dengan sebutan/gelar Sunan Giri.
Raden Maulana Makdum Ibrahim menyebarkan agama Islam di daerah Bonang, Tuban dan Lasem, yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan/gelar Sunan Bonang. Secara kebetulan pada saat Sunan Bonang mulai aktif berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam, pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit mulai runtuh dan hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Bonang untuk mempercepat penyebaran agama Islam dengan mendirikan pesantren-pesantren dan masjid-masjid. Selain itu, Sunan Bonang juga berusaha memasukkan ajaran agama Islam kepada Raden Patah, seorang putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Halaman 1
Pada halaman pertama terdapat dua bangunan pendapa, dan terletak bersebelahan. Bangunan pendapa itu bentuknya limasan dengan konstruksi bangunan kayu, namun tidak berdinding.
Unsur bangunan yang perlu diperhatikan di sini adalah umpak-umpaknya, yang berwarna putih dan terbuat dari tulang ikan pari. Fungsi bangunan semacam itu selain untuk istirahat, pada waktu-waktu tertentu dipergunakan sebagai tempat selamatan.
Di tempat lain seperti di kompleks makam raja-raja Kota Gede Yogyakarta, bangunan semacam itu disebut sebagai paseban, dan dipakai oleh para peziarah mempersiapkan diri sebelum masuk ke makam utama. Sungguh tepat sekali jika di halaman pertama ini tersedia bangunan seperti itu, karena di sini kita dapat melepaskan lelah sejenak sambil menyeka keringat sebelum menuju ke makam utama.

Halaman 2
Untuk masuk ke halaman kedua, kita melewati sebuah paduraksa yang terbuat dari bata. Jika paduraksa sebagai pintu gerbang kompleks biasanya beratap sirap, maka lain halnya paduraksa ini yang kesemuanya terbuat dari bata. Pintunya teruat dari kayu, dan dihiasi dengan ukir-ukiran yang indah. Di kanan kiri gapura terdapat lubang, sehingga dinding tembok tersebut dapat dipakai untuk jalan. Besar kemungkinannya bahwa dinding tembok gapura ini dahulu tidak berlubang, tetapi karena pertimbangan teknis, pada saat ini tembok tersebut dijebol untuk mengatasi arus pengunjung. Gapura ini mempunyai hiasan yang cukup menarik yang berbentuk geometris, motif sulur-sulur daun, dan hiasan tumpal. Pada tubuh gapura tersebut, dihiasi dengan piring-piring China. Hiasan seperti itu, menyerupai hiasan tubuh candi yang biasanya disebut dengan istilah medallion.


Pada halaman ini terdapat beberapa bangunan fasilitas seperti kamar mandi, WC, serta bangunan masjid yang menurut keterangan dibangun pada tahun 1921. Selain bangunan fasilitas, di sini juga terdapat beberapa tinggalan purbakala seperti tempayan, yoni, pipisan, dan peti batu. Benda-benda purbakala tersebut sekarang disimpan di dalam halaman kecil yang oleh penduduk setempat disebut sebagai pendapa rantai (rante).

Halaman 3
Setelah puas menikmati keunikan yang terdapat di halaman pertama dan kedua, maka Anda dapat meneruskan perjalanan ke dalam halaman utama, untuk berziarah ke Makam Sunan Bonang.  Gapura masuk menuju halaman utama berbentuk sangat indah dan kaya akan hiasan piring-piring China.
Pada bagian belakang terdapat dinding tembok yang lazim disebut dengan bangunan kelir. Sesuai dengan mitologi kuno, bangunan kelir itu berfungsi sebagai penolak bala. Di antara hiasan yang berupa piring China tersebut, beberapa di antaranya terdapat tulisan dengan huruf Arab. Tulisan-tulisan itu di antaranya ada yang berbunyi Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Setelah sampai di halaman ketiga, maka nampak halaman yang penuh dengan makam-makam. Sebagian besar makam itu merupakan makam baru, namun beberapa di antaranya terdapat juga makam-makam kuno. Makam Sunan Bonang berada di dalam cungkup yang cukup besar dan nampak angker. Bangunan cungkup ini mempunyai mustaka yang terbuat dari perunggu dengan hiasan motif tumpal, serta dilengkapi hiasan semacam padma.
Bagian puncak mustaka berbentuk bulat, sedangkan bagian bawahnya berbentuk persegi. Cungkup makam berbentuk sinom dengan atap terbuat dari sirap dan dindingnya dari tembok yang diberi lubang semacam kisi-kisi. Selain mempergunakan dinding tembok, cungkup ini juga mempergunakan dinding kayu, yang lazim disebut dengan nama dinding gebyok. Jirat makamnya mempunyai keunikan tersendiri yaitu beberapa hiasannya menyerupai pola-pola perbingkaian seperti pada candi-candi Hindu. Nisannya terbuat dari batu putih, dan kondisinya masih baik. *** [190913]

Kepustakaan:
Nurcholis & H. Ahmad Mundzir, 2013, Menapak Jejak Sultanul Auliya Sunan Bonang, Tuban: Mulia Abadi.

0 komentar:

Posting Komentar