Senin, 28 Oktober 2013

Museum Satriamandala

Museum Satriamandala terletak di Jalan Gatot Subroto 14 Jakarta Selatan, atau kurang lebih 100 m sebelah timur Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lokasi museum ini sangat strategis karena berada di tepi jalan besar yang membelah Jakarta dari Cawang hingga Grogol.
Museum Satriamandala merupakan museum militer yang dikelola oleh Pusat Sejarah (Pusjarah) Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun demikian, museum ini terbuka untuk umum. Artinya, siapa saja boleh mengunjungi museum ini dengan karcis masuk museum sebesar Rp 2.500,-. Awalnya, museum ini memang dicitrakan sebagai propaganda dari Pemerintah Orde Baru (ORBA), namun bila mempertimbangkan informasi sejarah yang dimiliki oleh museum ini, selayaknya informasi tersebut bisa digunakan. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memerlukan waktu yang cukup panjang. Rakyat Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berjuang bersama demi menegakkan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Dengan mempelajari sejarah, kita harapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan.
Ide berdirinya museum ini berasal dari Brigadir Jenderal Prof. DR. Nugroho Notosusanto. Gedung ini dulunya merupakan kediaman Soekarno dengan Ratna Sari Dewi yang dikenal dengan nama Wisma Yaso. Ketika mantan Presiden Soekarno wafat, jenazahnya sempat disemayamkan di gedung ini, dan selanjutnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Museum ini diresmikan oleh Soeharto, Presiden RI ke-2, pada tanggal 5 Oktober 1972. Satriamadala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lingkungan keramat para ksatria.


Museum Satriamandala merupakan salah satu sarana pewarisan nilai-nilai juang 1945 dalam pembinaan serta pelestarian jiwa dan semangat keprajuritan di lingkungan TNI. Di samping itu juga merupakan sarana efektif untuk menanamkan kesadaran sejarah dan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Koleksi yang terdapat di Museum Satriamandala adalah benda-benda bersejarah peninggalan para pejuang TNI dari tahun 1945 hingga kini.
Salah satu koleksi menarik yang menjadi ikon museum ini adalah tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dipakai beiau pada saat memimpin perang gerilnya tahun 1948-1949.
Di dalam kompleks Museum Satriamandala yang memiliki areal seluas 56.670 m² ini, terdapat pula pesawat Curen buatan Jepang tahun 1933 yang pertama kali diterbangkan di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, oleh penerbang Agustinus Adisucipto yang dikenal sebagai salah satu pelopor dunia kedirgantaraan Indonesia.
Di museum ini terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI bersama rakyat dalam membela kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Koleksi senjata yang dipamerkan di Museum Satriamandala mulai dari senjata tradisional seperti bambu runcing dan bom Molotov, hingga senjata modern seperti revolver atau handgun, rocket launcher, berbagai macam senapan mesin ringan, sedang maupun berat.
Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Museum Waspada Purbawisesa yang diresmikan oleh Soeharto pada tanggal 10 November 1987.
Museum Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama rakyat dalam menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan pada awal tahun 1950-an.
Selain memiliki ruang pameran yang representatif, kompleks Museum Satriamandala memiliki sejumlah fasilitas lainnya, seperti tempat parkir yang sangat luas, kantin dan toko souvenir, ruang serbaguna yang berkapasitas 600 kursi, perpustakaan maupun tempat penginapan. *** [260913]

0 komentar:

Posting Komentar