Kamis, 10 Oktober 2013

Klenteng Tjoe Ling Kiong

Bagi orang Tionghoa, klenteng bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga sebagai tempat interaksi sosial serta ekonomi. Itulah sebabnya kehadiran sebuah klenteng menjadi sangat penting dalam masyarakat Tionghoa, terutama daerah Pecinan di suatu kota. Masyarakat Tionghoa diyakini keberadaannya di Tuban sudah sejak lama.
Berdasarkan sejarah, Ma Huan, seorang penerjemah dari Laksamana Cheng Ho, yang ikut mendampingi ekspedisi besarnya, mengatakan bahwa di Tuban waktu itu sudah terdapat permukiman orang Tionghoa yang berasal dari Provinsi Guangdong dan Fujian, tepatnya daerah Zhangzhou dan Guanzhou. Di Tuban, mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya mencapai “seribu keluarga lebih”.
Banyaknya orang Tionghoa yang bermukim di Tuban kala itu, berusaha mendirikan klenteng sebagai tempat peribadatan mereka. Di Tuban, terdapat dua klenteng yang telah berusia ratusan tahun lebih. Salah satunya adalah “Ciling Gong” atau dalam dialek Hokkian disebut sebagai “Tjoe Ling Kiong”. Papan nama yang dipasang di depan tempat peribadatan tersebut adalah “Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Ling Kiong”. Klenteng ini terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 104 Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah utara alun-alun Tuban, dekat jalan yang menjadi pintu masuk menuju Pantai Boom.
Seperti biasa, klenteng ini didominasi oleh warna merah, kuning dan hijau, sehingga dari alun-alun terlihat kekhasan bangunan klenteng tersebut. Meski tidak memiliki tempat parkir yang cukup bagi umat maupun pengunjungnya, tidak serta merta mengurangi kemegahan klenteng ini. Masyarakat setempat menyebut klenteng ini dengan sebutan “klenteng perempuan”.


Klenteng Tjoe Ling Kiong merupakan tempat peribadatan pemeluk ajaran Tri Dharma, yang terdiri atas agama Buddha, Tao dan Konghucu. Eksistensi klenteng ini dipersembahkan untuk Dewi Tianhou. Tianhou atau Ma Zu atau Mak Co (Hokkian), juga dikenal dengan sebutan Tian Shang Sheng Mu (Mandarin) atau Thian Siang Sing Bo, adalah dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian (Hokkian). Banyak klenteng Tianhou menyebar sepanjang kota-kota pantai di Asia Tenggara. Tapi di samping altar utamanya juga terdapat patung dewa lain, yaitu Fude Zhengshen dan Jialian. Fude Zhengshen adalah Dewa Bumi dan Kekayaan. Oleh orang Fujian disebut sebagai Hok tek ceng sin atau Toa pe kong (Dabo gong, istilah Mandarinnya). Dewa ini juga banyak didapati pada klenteng-klenteng di seluruh Jawa.
Sulit diketahui kapan berdirinya klenteng ini, karena tidak ada inskripsi yang tertinggal mengenai kapan diresmikannya bangunan tersebut. Di dalam klenteng ini terdapat inskripsi tentang restorasi yang dilakukan pada tahun 1850. Jadi diperkirakan klenteng tersebut sudah ada jauh sebelum tahun 1850.
Pada tahun 1980 bagian depan klenteng tersebut dirobohkan berhubung adanya pelebaran jalan. Sangat disayangkan bahwa klenteng yang sangat bersejarah ini terpaksa bagian depannya harus dibongkar karena alasan adanya pelebaran jalan. *** [190913]

Kepustakaan:
Samuel Hartono, et.al, 2005, Alun-Alun dan Revitalisasi Identitas Kota Tuban, dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33 No.1, Desember 2005 atau http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals

0 komentar:

Posting Komentar