Jumat, 06 Desember 2013

Danau Limboto

Danau Limboto berada di Provinsi Gorontalo. Danau ini menjadi sumber penghidupan hampir sebagian rakyat di sekitar Gorontalo. Paling tidak bagi penduduk di lima kecamatan (Limboto, Telaga, Telaga Biru, Batudaa, dan Kota Barat) atau di 27 desa di sekitarnya. Mereka hidup sebagai nelayan darat, pemburu burung liar, petani di tanah timbul di pesisir danau serta penjualan jasa angkutan penyebarangan maupun pariwisata.
Dulu, menurut masyarakat yang telah lanjut usia yang berdiam di sekitarnya, bermacam-macam ikan air tawar dapat kita jumpai di danau ini. Kini yang tersisa hanyalah mujair, nila, gabus atau sepat. Ikan nila dan mujair amat populer dalam menu orang Gorontalo. Umumnya ikan ini dibakar dan disantap dengan dabu-dabu. Atau dapat juga dimasak pakai bumbu bawang merah, bawang putih, cabai dan sebagainya.
Luas Danau Limboto kini tinggal 2.357 hektar dengan kedalaman 2,5 meter. Hal ini disebabkan oleh pengaruh sedimentasi dan enceng gondok yang mempengaruhi proses pendangkalan dan penyempitan luasan danau saat ini. Adalah David Henley, seorang ahli Sulawesi ternama yang menulis buku Food, Fertility and Fever yang berhasil merangkum data lingkungan, penduduk dan ekonomi di kawasan utara dan tengah Sulawesi periode 1600 – 1930.
Dalam buku ini, data Danau Limboto cukup lengkap ditabelkan, termasuk kondisi lingkungan Gorontalo secara luas. Di buku ini tidak terdapat data danau 1932 yang menunjukkan luasnya 8 ribu hektar, dan kedalamannya 30 meter. Yang ada datanya adalah tahun 1934, di mana luas permukaan Danau Limboto sekitar 70 kilometer persegi, dengan kedalaman sekitar 14 meter, serta pada tahun 1939 luas permukaan danau sempat mencapai 100 kilometer persegi. Dan, jauh sebelumnya, tahun 1863, luas permukaan danau sekitar 80 kilometer persegi, dengan kedalaman 4,5 meter. Data yang ditemukan bukti-bukti dokumennya oleh David Henley memperlihatkan angka-angka tersebut, sekaligus menyatakan bahwa faktor musim sangat menentukan perubahan permukaan Danau Limboto, dan hanya pada beberapa tahun tertentu saja yang jelas laporannya tentang kedalaman danau ini, misalnya yang terdalam adalah data tahun 1934 (14 meter) dengan luas 70 kilometer persegi.



Legenda Danau Limboto
Tempo dulu Limboto masih berupa lautan. Yang muncul di permukaan laut hanyalah dua gunung, yaitu gunung Boliohuto dan gunung Tilongkabila. Di atas kedua gunung itu diam manusia pertama. Dapat dikatakan yang di sebelah barat dan yang di sebelah timur. Ketika air telah surut, maka terjadilah daratan dan tumbuh pohon-pohonan,
Pada waktu itu turunlah orang dari barat dan orang dari timur. Orang dari barat mengembara di dalam hutan. Ia mencari tempat untuk dijadikan tempat tinggal. Tiba-tiba ia menemui tujuh orang bidadari.
Diperhatikannya, betapa cantik bidadari itu, maka disembunyikannya sayap dari salah seorang bidadari. Setelah menyembunyikan maka ia pun mendekat kepada bidadari yang sedang mandi itu. Ketika bidadari mengetahui ada orang, mereka pun terbang ke khayangan. Hanya seorang yang tidak dapat terbang lagi.
Ia didekati oleh orang dari barat itu. “Engkau dari mana dan siapa namamu?”
“Aku ini dari khayangan, dan namaku Buqi-buqingale. Aku adalah anak ke tujuh dari raja khayangan”.
Lalu kata orang dari barat: “Mari kita hidup bersama”. Dipanggilnya bidadari itu ke suatu tempat.
Pada suatu ketika Buqi-buqingale itu mendapat kiriman dari khayangan. Kiriman itu seperti mustika. Besarnya seperti telur itik. Dicarikannya air tempat menyimpan mustika itu. Tepat di depan tempat itu ada sebuah mata air. Disimpan di situ mustika itu.
Tidak berapa lamanya mereka di tempat itu, datanglah orang dari timur. Diketemukannya sebuah mata air yang tertutup dengan tudung, lalu dikatakannya sebagai miliknya. Katanya: “Kamilah pemilik mata air ini”. Mereka itu empat orang.
Buqi-buqingale pada saat itu datang melihat mustikanya. Setelah berhadapan dengan mereka, maka berkatalah Buqi-bungale: “Kenapa kamu menjaga mata airku?”
Dijawab oleh salah seorang: “Mata air ini milik kami”.
“Kalau benar ini milik kamu mana tandanya?”
“Tandanya bahwa itu milik kami adalah pohon besar itu”.
“Bagiku bukan hanya pohon besar. Tandanya bahwa ini milikku, ada yang tersembunyi di dalam mata air ini. Selain dari itu adalah kapuk”.
Maka kata mereka itu: “Tidak ada kebenarannya apa yang kau katakana itu”.
“Kalau tidak benar, coba kamu buktikan apa yang kamu katakana. Panggillah air ini. Panggillah ia agar bertambah banyak. Kalau kamu bisa lakukan seperti itu, benar yang ini adalah milik kamu”.
Dicoba oleh salah seorang dari yang datang dari timur permintaan itu. Dipanggilnya air laut: “Hai air, engkau membesarlah”. Tidak berhasil.
Orang kedua: “Hai mata air, lebarlah”. Tidak berhasil.
Yang ketiga: “Hai air, memancarlah”. Tetap tidak berhasil.
Akhirnya yang keempat: “Hai air mata air, membesarlah”. Namun tidak juga berhasil.
Mereka pun berkata. “Kami benar-benar tidak sanggup. Tetapi cobalah engkau memanggilnya, kalau benar ini milikmu. Kalau benar ini milikmu, tentu engkau mampu memperbesar mata air ini”.
“Baiklah. Tetapi sebelum aku memanggil air ini, akan aku perlihatkan kepadamu mustikaku yang tersimpan di dalam mata air itu”.
Lalu diambilnya mustika itu dari mata air. Ketika mustika itu telah berada di telapak tangan Bu’i Bungale, maka pecahlah mustika itu dan keluarlah seorang perempuan. Perempuan itu, pada saat itu juga, menjadi gadis, dan betapa cantiknya. Ia diberi nama si Tolangohula. Perempuan itu segera diberikannya kepada ayahnya, orang dari barat.
Kemudian kata Bu’i Bungale: “Sekarang aku akan memanggil. Dan kamu saksikan akan menjadi besar mata air ini. Kamu segera lari ke pohon besar yang menjadi tanda bagimu. Dan aku dengan suami dan anakku akan pergi ke kapuk itu”.
“Cobalah kau panggil”. Kata keempat orang itu.
Maka dipanggillah oleh Bu’i Bungale. “Hai air membesarlah kau, agar menjadi sumber hidup bagi orang di belakangku”.
Menjadi besarlah air itu. Bertambah besar air itu, dan diiringi ejekan dari Bu’i Bungale: “Membesarlah kau, membesarlah kau”.
Adapun karena air itu makin bertambah besar, maka mereka itu pun memanjat pohon yang besar. Bu’i Bungale, suami dan anaknya naik di atas kapuk. Mereka hanya terapung-apung. Air itu bertambah terus, sehingga melewati puncak pohon besar itu. Keempat orang itu minta ampun, sebab mereka akan tenggelam. Mereka berkata: “Kami minta ampun kepadamu. Sudah jelas bagi kami bahwa mata air milikmu. Kami akan mati”.
Bu’i Bungale berkata: “Karena kamu sudah mengaku, maka aku sampaikan di situ air ini. Sehingga air ini menjadi danau bagi semua orang. Hai air berhentilah kamu, agar kamu akan menjadi sumber hidup bagi manusia”.
Begitulah, maka telah terjadi sebuah danau.
Setelah danau itu telah ada, maka timbul lagi masalah mencarikan nama danau itu. Kata suami Bu’i Bungale: “Apa nama yang akan kau berikan pada danau yang kau buat itu?”
Sementara mereka memikirkan nama danau itu, tampaklah oleh mereka lima biji buah yang bulat. Mereka ambil biji yang bulat itu. Dicubit sedikit oleh Bu’i Bungale lalu diciumnya biji itu. Ternyata ada baunya. Katanya: “Baunya seperti bau buah sebatang kayu yang ada di khayangan yang bernama “Limu” (limau). Kalau demikian ini benar-benar limau. Tapi ujungnya seperti puting susu payudara atau “tutu”.
Itulah mulanya danau itu diberi nama “Limutu” yaitu dari “Limututu” atau limu puting susu/payudara. 


Kepustakaan:
Basri Amin, 2012, Memori Gorontalo: Teritori, Transisi dan Tradisi, Yogyakarta: Penerbit Ombak
Farha Daulima, 2008, Antalogi Cerita Rakyat Daerah Gorontalo, Limboto: Forum Suara Perempuan LSM Mbu’i Bungale

0 komentar:

Posting Komentar