Selasa, 28 Januari 2014

Sejarah Singkat Desa Jandimeriah

Desa Jandimeriah merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran perbukitan, yaitu sekitar 1.200 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm dengan suhu berkisar antara 29° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Jandimeriah tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 1.192 orang dengan jumlah 381 KK serta luas wilayah 740 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa Jandimeriah ke ibu kota Kecamatan Tiganderket yaitu sekitar 5,8 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Karo adalah sekitar 28,8 kilometer.
Secara administratif, Desa Jandimeriah dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Sungai Lau Makam. Di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Lau Borus. Di sisi selatan berbatasan dengan Sungai Lau Biang, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Batukarang dan Desa Sukatendel.
Dalam Profil Desa Jandimeriah, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014, diceriterakan bahwa pada era tahun 1700 penduduk Desa Jandimeriah berasal dari Kerajaan Bangun Mulia yang terletak sekitar 1 kilometer s├ębelah barat dari Desa Jandimeriah sekarang ini. Dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Raja Mulia yang bermarga Bangun di mana raja memiliki 2 orang istri yakni 1 orang permaisuri dan 1 orang kawan (kawan dalam bahasa Karo berarti selir) dan melahirkan 5 anak laki-laki serta 1 anak perempuan. Dalam legenda ini tidak disebutkan siapa ibu kandung dari ke 6 anak raja tersebut.
Pada waktu itu putri raja yang cantik, Girik br Bangun, sedang sakit parah. Seluruh tabib di wilayah kerajaan dikumpulkan, namun tidak ada seorang pun yang sanggup mengobatinya, dan tidak tahu penyakit yang dideritanya. Sehingga raja mengutus pengawalnya untuk menyebarkan berita atau pengumuman barang siapa yang sanggup untuk mengobati putri raja akan diberikan hadiah berupa perhiasan.
Berita tersebut sampai ke telinga Guru Sakti dari Pakpak yang terkenal dengan sebutan Guru Pakpak 7 Sendalanen ( 7 sendalanen dalam bahasa Karo berarti 7 sekawan ). Berita ini juga sampai terdengar oleh guru yang sakti pula yang berasal dari Desa Jenabun dengan sebutan Guru Ndiden. Karena jarak dari Desa Jinabun tidak jauh dari Bangun Mulia hanya berjarak 6 Km maka Guru Ndiden lebih duluan sampai ke Kerajaan Bangun Mulia untuk mengobati putri raja tersebut. Alhasil putri raja dapat disembuhkan oleh Guru Ndiden dengan sempurna dan raja merasa sangat senang sekali dan sekembalinya Guru Ndiden ke  kampungnya, Jenabun, raja tidak lupa memberikan bingkisan berupa perhiasan sebagai ucapan tanda tarima kasih yang telah dijanjikannya.
Beberapa hari kemudian Guru Pakpak 7 Sendalanen sampai juga di Kerajaan Bangun Mulia yang hendak mengobati putri raja. Sangatlah kaget Guru Pakpak mendapati putri raja yang telah sembuh total dari penyakitnya, dan merasa sangat terhina karena tidak menyangka ada guru yang lebih hebat dari dirinya yang sanggup mengobati putri raja tersebut, maka dari itu Guru Pakpak mencari informasi siapakah guru itu karena dia ingin membuat perhitungan atau adu kesaktian.
Singkat cerita, maka terjadilah perkelahian antara kedua guru tersebut dengan mengandalkan kesaktian masing-masing di lokasi Bangun Mulia. Pada saat perkelahian tiba-tiba datang angin yang sangat kencang disertai guntur yang menggelegar, bumi terasa berguncang kuat seperti gempa sehingga membuat rumah-rumah penduduk saling berbenturan keras dan hancur berantakan.
Raja dan semua penduduk berlarian kekatutan menyelamatkan diri sampai ke tempat yang agak aman, yakni lokasi yang sekarang didekenal sebagai Desa Jandimeriah. Di tempat inilah raja dan kelima putranya membuat kesepakatan dan perjanjian yang meriah ( perjanjian meriah adalah asal kata dari Desa Jandimeriah).
Dalam isi perjanjian tersebut disepakati bahwa ke lima putra raja dihijrahkan ke lima lokasi yang sekarang dikenal dengan nama Taneh Lima Senina, yakni putra pertama dipindahkan ke Penampen (Bangun Penampen), putra kedua dihijrahkan ke Narigunung (Bangun Narigunung), putra ketiga dipindahkan ke Batukarang (Bangun Batukarang, putra keempat dihijrahkan ke Selandi (Bangun Selandi dan putra kelima tetap tinggal di Desa Jandimeriah.
Sedangkan salah seorang putri raja dipinang oleh Anak Beru dari Desa Perbaji bermarga Sembiring Pelawi, di mana keturunan dari putri raja tersebut kita kenal dengan nama Guru Patimpus, pendiri kota Medan sekarang ini. ***

0 komentar:

Posting Komentar