Kamis, 16 Januari 2014

Sejarah Singkat Desa Kadugede

Desa Kadugede merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Dilihat dari topografi dan kontur tanah, Desa Kadugede secara umum berupa pesawahan dan perbukitan yang berada pada ketinggian antara 640 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Dengan suhu rata-rata 22 sampai dengan 28o Celcius.
Berdasarkan data umum Desa Kadugede, jumlah penduduknya adalah 4.436 orang dengan jumlah 1.141 KK dengan luas wilayah 324,080 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani maupun buruh tani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, utamanya adalah sawah beririgasi.
Jarak tempuh Desa Kadugede ke ibu kota Kecamatan Kadugede yaitu sekitar 0,5 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Kuningan adalah sekitar 5 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Ngabean dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Babadan. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Bayuning dan Desa Nusaherang. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Sindangjawa dan Desa Nusaherang, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Ciketak dan Desa Nangka.
Dalam Profil Desa Kadugede, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dikisahkan bahwa pada zaman penjajahan Jepang Kepala Desa disebut Ngabai, Ngabai inilah bertugas memimpin dan menggerakan roda perdesaan, yang kerjanya hanya sebatas pengawasan ketertiban dan keamanan semata tidak berbentuk pemerintahan seperti sekarang.
Diceritakan pada suatu hari ada seorang petani yang sedang berjalan menuju kehutan, berpakaian pangsi dan beriket, dengan golok terselip di pinggangnya. Petani tersebut kaget sewaktu melintas sungai yang sekarang bernama Sungai Cisanggarung karena di pinggir sungai tersebut ada sebuah durian (kadu) yang ukurannya menakjubkan lebih besar dari durian yang biasa. Durian tersebut tersangkut di sela-sela akar pepohonan yang merimbun di pinggir sungai.
Melihat durian yang aneh itu, petani tersebut tidak melanjutkan kehutan melainkan pulang kembali dan memberitahukan kepada warga yang ditemui perihal keberadaan durian besar tersebut. Sehingga tak ayal lagi yang mendengar berita tersebut merasa penasaran untuk melihat keberadaan durian dengan ukuran besar tersebut. Dalam sekejap, dari informasi mulut ke mulut lokasi di mana adanya durian besar itu dipenuhi oleh orang-orang yang penasaran ingin membuktikan dan melihat langsung durian yang diberitakan oleh petani sang penemu.
Saking anehnya tempat tersebut setiap hari dipenuhi oleh warga yang ingin melihat durian aneh itu. Sehingga dari hari ke hari, dari nulut ke mulut membuat semakin bertambah warga yang berkumpul melihat durian ukuran dengan berdecak kagum. Hal ini kedengaran oleh Ngabai, diutuslah anak buahnya untuk membawa durian ke rumahnya.
Ngabai juga terkesima kaget dan takjub, informasi warga dari mulut ke mulut itu ternyata benar durian itu ukurannya lebih besar dari durian biasanya. Kemudian durian tersebut dikupas yang terbagi dalam 7 bagian. Sejak diketemukan durian ukuran besar daerah itu ramai dikunjungi orang dari berbagai pelosok sehingga oleh warga di daerah lokasi adanya durian besar tersebut terkenal dengan nama Kadugede.
Sedangkan simbol  7 bagian durian besar itu diabadikan dengan penamaan 7 blok berdasarkan letak geografis. Nama-nama ketujuh blok tersebut adalah Blok Bangong, Sindang Ketawang, Garaseah, Cijeuler, Dukuh, Gayam dan Cibogo.
Seiring dengan perubahan zaman, pada era kemerdekaan itulah nama Ngabai diganti menajdi Kuwu dengan merubah secara nasional nama-nama blok dengan nama-nama dari Bahasa Jawa yakni Manis, Kliwon, Wage, Pahing dan Puhun.  Dengan   demikian    Desa    Kadugede   yang   sedianya   meliputi  7 blok diganti dengan 5 dusun. Adapun yang menjadi Kepala Desa pertama adalah Wangsa Dijaya alias Abah Gudang. ***

0 komentar:

Posting Komentar