Rabu, 15 Januari 2014

Sejarah Singkat Desa Ngabean

Desa Ngabean merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan data umum Desa Ngabean, jumlah penduduknya adalah 3.290 orang dengan jumlah 811 KK dengan luas wilayah 282,600 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani maupun buruh tani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, utamanya adalah sawah beririgasi.
Jarak tempuh Desa Ngabean ke ibu kota Kecamatan Secang yaitu sekitar 3 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Magelang adalah sekitar 22 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Ngabean dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Kupen, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Pare, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Madyocondro, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Secang.
Dalam Profil Desa Ngabean, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, diceriterakan bahwa pada zaman dahulu, Desa Ngabean terkenal dengan hasil pertaniannya, mulai dari padi, jagung, ketela, sayur-sayuran hingga palawija. Konon, tanah di desa ini sangat subur sehingga kehidupan masyarakatnya bias dikatakan makmur.
Asal mula pemberian nama desa ini bermula dari musyawarah yang dilakukan para tokoh agama, yaitu Kyai Ngabei, Kyai Kompreng, Kyai Seno, Kyai Batu, dan Kyai Noyo. Dari kelima tokoh agama tersebut, yang paling dikenal masyarakat dan disegani sesame kyai adalah Kyai Ngabei. Dan dari musyawarah yang dilakukan tersebut, diambil kesepakatan bahwa desa tersebut diberi nama Desa Ngabean yang diambil dari nama Kyai Ngabei. Hal itu sebagai bentuk penghargaan pada Kyai Ngabei atas jasanya dalam memimpin dan membimbing masyarakat terutama dalam bidang agama.
Desa ini pun kemudian dibagi menjadi lima dusun yang masing-masing diberi nama Dusun Komprengan, Dusun Senobayan, Dusun Batu, Dusun Kenayan, dan Dusun Krajan. Di antara nama-nama dusun tersebut, diambil dari nama para tokoh agama yang terkenal di desa tersebut. Hal itu juga sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap kepemimpinan para tokoh agama tersebut. Adapun yang menjadi Kepala Desa pertama adalah Diparjo (1920-1930). ***

0 komentar:

Posting Komentar