Minggu, 05 Januari 2014

Sejarah Singkat Lombok

Menurut Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa Sasak, laeq berarti waktu lampau), namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan Lombok. Pada abad ke-9 hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak yang kemudian dikalahkan oleh salah satu kerajaan yang berasal dari Bali pada masa itu. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di Pulau Lombok, antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton, dan Selaparang.
Pertama kali secara tertulis Lombok disebut dalam kronik Negarakertagama pada abad 14 sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit. Pada masa jayanya, kerajaan itu menguasai sebagian besar Negara Indonesia kini, termasuk juga Semenanjung Malaya. Walaupun perbatasan kerajaan itu secara ilmiah masih dipersoalkan, Lombok masih berada di bawah kekuasaan Majapahit. Sebuah salinan dalam bahasa Jawa Kuno-Kawi dengan huruf Bali mengenai kronik tersebut ditemukan pada akhir abad 19 di Desa Pagutan, dekat Mataram.
Lombok Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari Kitab Negarakertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahan Kerajaan Majapahit. Kata “lombok” dalam bahasa Kawi berarti lurus atau jujur, kata “mirah” bermakna permata, kata “sasak” berarti kenyataan, dan kata “adi” memiliki arti yang baik atau yang utama. Sehingga, bila diartikan secara keseluruhan, yaitu kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau yang utama. Makna filosofis itulah yang mungkin selalu diidamkan leluhur penghuni tanah Lombok yang tercipta sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh anak cucu Sasak. Dalam kitab-kitab lama, nama Lombok dijumpai dengan sebutan Lombok mirah dan Lombok adi. Beberapa lontar Lombok juga menyebut Lombok dengan bumi selaparang atau selapawis.
Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan Raja Selaparang.
Dalam tahun 1855, 1871 dan 1891 terjadi pemberontakan di Lombok. Tokoh-tokoh masyarakat Sasak menulis surat protes kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Orang-orang itu bernama Jero Mustiaji dari Kopang, Mamiq Bangkol dari Praya, Mamiq Nursasi dari Sakra, Ginawang dari Batu Keliang, Raden Ratmawa dari Rarang, Raden Wiranom dari Pringgabaya, dan Raden Melaya Kusuma dari Masbagik.
Di dalam surat itu ditulis penderitaan yang ditanggung rakyat Lombok di bawah pemerintahan penguasa Bali. Dari surat itu pula dapat dipahami dengan jelas bahwa sejak semula penduduk Kerajaan Selaparang beragama Islam dan pulau itu sejak turun-temurun milik mereka.
Pada akhirnya, Belanda terpaksa melanggar perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1843 dengan penguasa Bali di Lombok yang isinya Belanda tidak akan menyerang Lombok, dan mengirim pasukan militer ke Lombok. Pada tahun 1894 pecahlah perang sengit antara Belanda dan penguasa Bali. Lebih dari seratus orang tentara Belanda terbunuh, di antara mereka ada seorang komandan bernama Mayor Jenderal P.P.H. van Ham. Dia dikuburkan di Cakranegara dan makamnya sampai hari ini dipelihara dengan baik.
Walaupun Belanda menghimpun segala tenaga untuk memenangkan pertempuran itu, mereka tidak berhasil juga. Akhirnya pasukan Belanda mengundurkan diri untuk menghimpun kekuatan baru.
Tidak lama kemudian mereka datang kembali. Terjadilah kekejaman yang mengerikan. Mereka merampok harta-benda kekayaan Raja Bali dan merampas uang emas yang tak terhitung banyaknya, batu permata berharga tinggi dan perhiasan yang tak ternilai harganya. Kota Mataram dirusak. Bangunan-bangunan umum, dan bahkan perumahan-perumahan penduduk dibakar habis. Putra mahkota, Anak Agung Ketut, dibunuh dan ayahnya dibuang ke Batavia. Penghancuran itu terjadi pada tahun 1894.
Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun demikian, Lombok kemudian berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung.
Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur. Seusai Perang Dunia II, Belanda mengambil alih kekuasaan.
Ketika pada tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, mula-mula Lombok masih di bawah pengawasan Belanda. Tak lama kemudian terbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), dan Lombok termasuk anggotanya. Waktu RIS dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950, dengan resmi Lombok masuk wilayah Republik Indonesia.

Kepustakaan:
Ingeborg Göhlich, 1998, Salam kepada Pulau Permai: Menjelajah Lombok, Mataram: Alumni
Fachri Aljupri, 2011, Kerajinan Seni Ukir Lombok, Jakarta: Wadah Ilmu

0 komentar:

Posting Komentar