Senin, 06 Januari 2014

Pintu Air Jagir

Pintu Air Jagir merupakan salah satu bagian dari bangunan bendungan (dam) yang ada di Kota Surabaya. Pintu air ini terletak di Jalan Jagir, Kelurahan Jagir, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi pintu air ini tidak begitu jauh dari Stasiun Kereta Api Wonokromo atau terminal angkot Joyoboyo. Bisa naik becak atau naik ojek.
Pintu Air Jagir dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1917, dan pengerjaannya ditangani oleh seorang arsitek Belanda, GC Citroen. Sejak awal berdiri, bangunan ini difungsikan untuk mengantisipasi banjir yang sering terjadi di Surabaya kala itu. Pintu Air Jagir berperan besar dalam mengatur air yang masuk ke Surabaya melalui anak Sungai Brantas, yaitu Sungai Mas. Apabila Sungai Mas menunjukkan kelebihan debit air karena gelontoran dari Sungai Brantas, maka airnya akan dibuang melalui pintu air ini menuju ke anak Sungai Mas, yaitu Sungai Jagir.
Dibalik kebersahajaan gaya arsitektur bangunannya, ada sebuah sejarah masa silam jauh sebelum bangunan pintu air tersebut berdiri. Dulu, daerah sekitar  Pintu Air Jagir ini dikenal dengan nama Desa Pacekan. Desa Pacekan yang berada di sebelah Wonokromo, pada abad 9 merupakan pantai Surabaya yang ramai sehingga nama Desa Pacekan tercantum dalam Kitab Negarakertagama. Namun sekarang, Desa Pacekan diperkirakan sudah melebur menjadi bagian wilayah Jagir yang berada di sebelah utara Pintu Air Jagir. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa dulu ketika pasukan Mongol atau lebih dikenal dengan pasukan Tar-Tar yang merupakan bala tentara Raja Kubilai Khan atau “Khan Besar Terakhir” dari Kerajaan Mongolia akan menyerang Kertanegara pada tahun 1293 M, di sekitar pintu air inilah kapal-kapal perang prajurit Tar-Tar bersauh (ditambatkan) sebelum menghancurkan Kerajaan Kediri. Diperkirakan pasukan Tar-Tar tersebut merupakan satu pasukan di bawah pimpinan Ike Mese yang mendapat mandat untuk melakukan penyerangan dari jurusan timur. Pasukan Mongol ini sebenarnya tidak tahu kalau Kertanegara, Raja Singasari, yang akan dihukum ternyata sudah meninggal. Atas informasi dari Nararya Sangramawijaya atau dikenal dengan Raden Wijaya, penyerangan diarahkan ke Kediri di mana Raja Jayakatwang telah melakukan kudeta terhadap Kertanegara.


Pertempuran antara pasukan Tar-Tar dengan pasukan Kediri tak terelakkan lagi hingga menyebabkan Jayakatwang menemui ajalnya. Tapi, sebagian ada yang berpendapat bahwa ketika Prabu Jayakatwang terkepung, ia berhasil ditangkap oleh pasukan Tar-Tar untuk kemudian ditawan dan dibawa ke hadapan Kaisar Kubilai Khan. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Raden Wijaya dengan bantuan Arya Wiraraja dari Madura untuk menggempur balik pasukan Tar-Tar yang sudah mulai kocar-kacir itu.
Akhirnya, pasukan Tar-Tar berhasil dipukul mundur dan sebagian lagi diusir balik ke negaranya. Maka, kemudian Raden Wijaya mulai mendirikan Kerajaan Majapahit. Setelah dinobatkan menjadi raja besar Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya mendapatkan gelar abhiseka Kertarajasa Jayawardhana yang juga diikrarkan sebagai penerus Wangsa Rajasa dari Kerajaan Singasari yang runtuh pada tahun 1292 M. Nama gelar penobatan itu sendiri mempunyai arti, yaitu Kerta yang berarti memperbaiki tempat atau tanah Jawa dari kekacauan dan menimbulkan kesejahteraan bagi rakyat, rajasa mengubah suasana gelap menjadi terang benderang. Jaya yang berarti kemenangan sedangkan wardhana berarti menghidupkan segala agama dan melipatgandakan hasil bumi.
Sampai sekarang pintu air ini masih berfungsi dengan baik sebagai pengendali banjir di Surabaya, dan stok airnya juga dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya untuk menyuplai bahan baku air bersih atau melalui proses sterilisasi sesuai standar PDAM yang berlaku sehingga bisa untuk konsumsi warga Kota Surabaya.
Kendati pintu air itu adalah bangunan utilitas, akan tetapi arsitekturnya dibuat dengan sangat baik. Bangunan kuno yang masih berdiri kokoh, megah dan masih terawat dengan baik ini, telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sesuai Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 dengan nomor urut 54. *** [081113]

0 komentar:

Posting Komentar