Rabu, 08 Januari 2014

Makam Sunan Bungkul

Makam Sunan Bungkul terletak di Jalan Raya Darmo, Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di area Taman Bungkul. Kurang lebih 200 meter arah barat dari Grand Darmo Suite yang menjulang tinggi.
Makam Sunan Bungkul merupakan makam tua yang berada di tengah Kota Surabaya yang sangat rindang karena banyak ditumbuhi pohon besar yang sudah berusia ratusan tahun. Banyak orang yang berziarah ke sini sebelum melanjutkan ziarah ke makam Sunan Ampel, dan pada hari-hari tertentu makam Sunan Bungkul akan ramai dikunjungi peziarah yang datang dari dalam maupun dari luar Kota Surabaya.  
Secara arkelogis, kompleks makam ini cukup menarik karena di dalam tembok makam tersebut masih dalam keadaan asli, di dalam kompleks tersebut juga terdapat sumur tua yang airnya dipercaya memiliki khasiat bagi yang meminumnya.
Kompleks makam ini dikelilingi tembok dan terbagi menjadi tiga halaman yang disusun berurut ke belakang dari arah timur ke barat lalu ke utara. Masing-masing halaman dibatasi pagar tembok penghubung antara halaman yang satu dengan yang lain berupa gerbang berbentuk sebuah bentar dan dua paduraksa. Pertama datang, peziarah akan melintasi gerbang berbentuk bentar yang di atasnya dipasang papan bertuliskan Makam Ki Ageng Bungkul Surabaya. Lalu. Lurus ada akan ketemu gerbang paduraksa yang pertama, di mana begitu memasuki gerbang tersebut akan menemui mushola yang konon dibangun oleh Sunan Bungkul bersama Raden Rahmat (Sunan Ampel). Kemudian belok ke kanan atau arah utara usai melintasi sejumlah batu nisan kuno, akan menemukan gerbang paduraksa yang kedua yang di dalamnya bersemayam jasad Sunan Bungkul. Secara keseluruhan di dalam kompleks makam Sunan Bungkul yang terdiri atas tiga halaman tersebut, terdapat sekitar 50 makam. Selain makam Sunan Bungkul sendiri, di kompleks tersebut juga terdapat makam Nyai Ageng Bungkul (Istri Sunan Bungkul), kerabat maupun santrinya.
Kompleks Makam Sunan Bungkul telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali kota Nomor 188.45/251/402.104/1996 dengan nomor urut 52. Sehingga keberadaannya sekarang dilindungi oleh Undang-Undang.


Latar Belakang Sejarah
Sosok Sunan Bungkul hingga kini masih menyimpan misteri mengingat cerita rakyat yang beredar di tengah masyarkat memiliki banyak versi, dan kadang kala antara cerita yang satu dengan cerita yang lain bersifat paradoks.
Sulitnya menemukan sosok ini bahkan dibenarkan sejarawan mendiang Godfried Hariowald von Faber pada bukunya Oud Soerabaia (1931). Faber menjelaskan di dalam bukunya bahwa siapa sosok Ki Ageng Bungkul atau Sunan Bungkul sebenarnya. Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Si pelanggar akan diancam oleh jin, diisap darahnya oleh kelelawar, lehernya dipelintir dan sebagainya, demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka.
Anggapan inilah yang akhirnya malah mengaburkan sosok sebenarnya Sunan Bungkul itu sendiri, dan ditambah minimnya literatur yang menerangkan sosok Sunan Bungkul secara gamblang. Akan tetapi, nama Ki Ageng Bungkul sempat ditemukan di dalam Babad Ampeldenta terbitan 2 Oktober 1901 yang naskah aslinya masih tersimpan di Yayasan Panti Budaya Yogyakarta. Selain itu, juga disinggung di Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakan Rekso Poestaka Surakarta.
Ki Ageng Bungkul, sebutan lain untuk Sunan Bungkul adalah seorang nayaka Kerajaan Majapahit pada abad XV yang tinggi ilmunya yang kemudian menjadi mertua Sunan Ampel. Beliau sering berkonsultasi dengan Sunan Ampel mengenai masalah agama Islam sehingga kemudian beliau berkenan memeluk agama Islam.
Ki Ageng Bungkul, aslinya bernama Ki Supa Mandagri, seorang ahli pembuat keris (empu) dari Tuban yang semula dimintai oleh Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) dari Kerajaan Majapahit untuk membuatkan sebilah keris yang bagus. Pada awal-awalnya, keris buatan Ki Supa ini dikagumi oleh Raja Brawijaya hingga Adipati Blambangan. Kepiawiannya inilah yang menyebabkan Ki Supa mendapat anugerah Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan, dan pemberian salah satu putri Raja Brawijaya yang cantik. Akan tetapi, pada saat pembuatan keris yang terakhir untuk pesanan Sang Prabu Brawijaya, rupanya kurang berkenan di hati Raja Majapahit tersebut.
Ki Supa yang merasa tugasnya telah selesai kemudian kembali pulang ke Tuban. Di perjalanan, beliau tertarik pada tempat Bungkul hingga akhirnya menetap di tempat tersebut sampai dengan wafatnya.
Keberadaan kompleks makam Sunan Bungkul seluas 900 meter persegi ini semakin mencuat dengan dijadikannya kawasan di sekitar makam tersebut menjadi sebuah taman untuk mempertahankan pepohonan rindang yang usianya sudah ratusan tahun lebih.
Diawali sejak zaman kolonial, keberadaan Taman Bungkul dipertahankan pemkot semasa pemerintah kolonial Belanda. Lokasi Taman Bungkul yang berada di tengah kompleks perumahan warga Belanda bisa dimaknakan sebagai penghormatan para perencana tata kota kala itu terhadap keberadaannya. Kemewahan kawasan Darmo Boulevard tidak sampai menggusur makam dan Taman Bungkul, bahkan lahan hijau itu dinamai Boengkoel Park.
Lalu, pada 21 Maret 2007, Taman Bungkul dikembangkan menjadi sebuah taman yang menarik dan mempesona. Sarananya makin dilengkapi, seperti skateboard track dan BMX track, jogging track, plaza yang sering digunakan untuk panggung live performance berbagai entertainment, zona akses wi-fi gratis, telepon umum, area green park dengan kolam air mancur, taman bermain untuk anak-anak hingga lokasi pujasera untuk wisata kuliner.
Upaya ini ternyata tidak sia-sia, pada 26 November 2013 Taman Bungkul mendapat penghargaan sebagai taman terbaik se-Asia yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jepang. *** [050114]

0 komentar:

Posting Komentar