Rabu, 05 Februari 2014

Rumah Kapiten China

Berkeliling di alun-alun Kota Madiun memang mengasyikkan. Banyak bangunan kuno bertebaran di seputar alun-alun tersebut. Salah satu bangunan kuno yang dapat dijumpai adalah rumah yang berada di pojok barat daya alun-alun. Rumah kuno tersebut masih tampak berdiri megah. Meski secara fisik masih terbilang bagus, namun rumah bergaya Eropa tersebut terkesan kurang terawat. Banyak semak belukar tumbuh subur di halaman depan tersebut.
Dulu, rumah ini adalah rumah milik orang Belanda yang bermukim di Madiun. Lalu ketika Hidia Belanda mengalami kesulitan keuangan akibat perang di sejumlah daerah yang berkepanjangan, banyak aset negara maupun peorangan dijual atau disewakan. Proses penjualan aset ini yang kelak disebut dengan pacht, dijual pada orang-orang Tionghoa yang relatif memiliki ekonomi yang lumayan mapan ketimbang orang pribumi sendiri. Terutama kepada para Opsir China (biasa orang Belanda menyebutnya). Termasuk salah satunya adalah rumah yang kini terletak di Jalan Kolonel Marhadi, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur.


Setelah dibeli oleh Opsir China, rumah tersebut dikenal sebagai rumah Kapiten China karena kebetulan yang tinggal lama di rumah itu adalah seorang Kapiten China. Kapiten bukanlah pangkat dalam kemiliteran, akan tetapi jabatan yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu untuk mengawasi semua kegiatan apapun yang ada di Pecinan yang merupakan wilayah kekuasaannya.
Kala itu, di kota-kota di Hindia Belanda, VOC sudah lazim mengangkat orang-orang Tionghoa yang berpengaruh dan memiliki leadership yang kuat serta kaya sebagai pemimpin golongannya. Orang-orang Tionghoa papan atas diberi pangkat Mayor, Kapiten, Letnan, tetapi mereka sama sekali bukan tentara. Itu hanya semacam pangkat atau gelar kehormatan saja. Di mata orang Belanda, mereka disebut juga sebagai Opsir China.
Tugas utama para Opsir China itu jelas sebagai coordinator golongannya. Sedangkan di sisi lain, sebagai penguasa negeri ini. Kompeni sangat membatasi gerak-gerik orang-orang Tionghoa. Mereka dipaksa tinggal di kampung-kampung China. Dari sinilah kemudian munculnya cikal bakal Pecinan, yang artinya tempat tinggal orang-orang Tionghoa.


Diperkirakan rumah Kapiten China tersebut dibangun pada abad 19 dengan gaya bangunan kolonial yang berkembang saat itu. Dulu, jalan di depan rumah Kapiten China tersebut bernama Abattoir Laan atau Magetan Straat, dan terdapat jalur rel kereta api Madiun-Ponorogo yang berujung pada stasiun Madiun lama dan saat memasuki pusat kota bercabang hingga berhenti di depan rumah Kapiten China tersebut. Akan tetapi, sejak era 80-an jalur kereta tersebut sudah tidak aktif lagi dan malah akhirnya terkena proyek pelebaran jalan.
Berdasarkan catatan sejarah, Kapiten China terakhir bernama Njoo Swie Lian. Njoo Swie Lian diangkat menjadi Kapiten China di Madiun pada tanggal 22 Juni 1912 dan menjabat sampai akhir hayatnya pada 17 Februari 1930. Ayah Njoo wie Lian bernama Njoo Kie Sing, dan ibunya bernama Siok Tjiauw Nio Tan. Njoo Swie Lian menikah dengan Ong Swan Nio.
Sejak meninggalnya Kapiten Njoo Swie Lian, rumah tersebut ditempati oleh istri bersama anak-anaknya hingga Ong Swan Nio, sang istri Kapiten, meninggal dunia pada 14 November 1935 di Aloon-Aloon Zuid 8 Madioen, alamat rumah yang terdaftar kala itu.
Sebenarnya bangunan rumah tersebut masih bagus, akan tetapi sepertinya sudah tidak ditinggali lagi oleh pemiliknya. Menurut warga setempat, pemilik tersebut berada di luar Madiun, dan konon kabarnya rumah tersebut sudah dibeli oleh investor dan rencananya akan dihancurkan untuk didirikan sebuah hotel.
Seandainya kabar tersebut benar adanya, sungguh amat sangat disesalkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun seharusnya berupaya keras agar bangunan tersebut tetap lestari. Karena selain bangunan tersebut mempunyai nilai sejarah, juga menjadi potensi wisata yang sangat menarik. Bisa jadi malah yang dimaksud oleh WH van Helsdingen, mantan Walikota Soerabaja, yang berkata “Een volk dat zijn geschiedenis niet eert, is geen geschiedenis waard. Het blijft op het peil van de primitieve mens, die slechts in het heden left. Het kenmerk van een cultuurvolk daarentegen is, dat het welbewust naar een teokomst streeft, harmonisch opgebouwd op het heden en het verleden. Hoe zou dit mogelijk zijn zonder die pere kennis, zonder lifderijk doordringen in zeden en gebruiken vat het verleden?” (Bangsa yang tidak menghormati sejarahnya, tidak layak memiliki sejarah. Ia tak ubahnya manusia primitif, tetapi hidup di zaman kini. Adapun ciri khas bangsa yang berbudaya adalah, bahwa mereka dengan sadar berikhtiar untuk menuju ke masa depan yang dibangun berdasarkan sejarah masa kini dan masa lalu. Tetapi bagaimana mungkin hal ini bisa terwujud bila tidak disertai pengertian yang mendalam, tidak disertai pemahaman tentang adat istiadat dari sejarah masa lampau?).  *** [030214]

0 komentar:

Posting Komentar