Senin, 10 Februari 2014

Sejarah Singkat Desa Benculuk

Desa Benculuk merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran rendah, dengan ketinggian  73 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 11,25 mm dengan suhu rata-rata 32° - 37 °C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Benculuk, Desa Benculuk memiliki luas wilayah 1.051 hektar. Desa Benculuk terdiri atas lima dusun, yaitu Dusun Krajan, Dusun Purwosari, Dusun Kebonsari, Dusun Pancursari dan Dusun Rejosari. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam pertanian, utamanya perkebunan dan petani ladang atau tegalan.
Jarak tempuh Desa Benculuk ke ibu kota Kecamatan Cluring yaitu sekitar 2 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Banyuwangi adalah sekitar 32 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Benculuk dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sraten. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Cluring dan Desa Tamanagung. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Tampo dan Desa Kaliploso, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.
Menukil dari Pusaka Jawatimuran di http://jawatimuran.wordpress.com, dikisahkan bahwa asal mula nama Desa Benculuk ini bermula pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai sekutunya.
Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang (Nama Sultan Agung, sebelum menjadi raja) dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung Laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.
Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Taman Sari. Di dalam Taman Sari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian Mas Jolang ditangkap. Akan tetapi karena permohonan sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan Putri Sedah Merah.
Dalam pelariannya, Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bahasa Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk berasal dari kata celuk-celuk. Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).
Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan Putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke Taman Sari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menye­lamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).
Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.
Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura.  ***

0 komentar:

Posting Komentar