Jumat, 07 Februari 2014

Gedung Bioskop Arjuna Madiun

Seputaran alun-alun Madiun memang menyimpan kenangan lama. Di sudut pertemuan antara Jalan Alun-Alun Utara dan Jalan Pandan, masih berdiri bangunan bioskop Arjuna atau Arjuna Theater. Gedung pertunjukan gambar idoep tersebut seolah-olah menjadi saksi akan kenangan lama tersebut.
Sebelum menjadi Arjuna Theater, dulunya bangunan ini merupakan gedung bioskop Apollo atau Apollo Theater yang didirikan oleh seorang Belanda bernama L. Knuverlder (1930-1936). Namun, akhirnya berpindah tangan kepemilikannya kepada seorang Tionghoa. Pada waktu itu, perbioskopan memang belum menjanjikan keuntungan yang memadai tetapi banyak di kalangan orang Tionghoa menganggap bahwa usaha ini merupakan investasi jangka panjang. Setidak-tidaknya investasi di bidang tanah dan bangunan yang tak pernah mengalami penurunan harga.


Jadi, bangunan bioskop Arjuna itu sedari awal memang dirancang sebagai gedung pertunjukan gambar sorot. Bangunan peninggalan Belanda ini, bentuknya memanjang seperti hanggar yang beratapkan seng.
Sekitar tahun 1980-an, Arjuna Theater mengalami masa keemasan dengan menampilkan tayangan film Indonesia yang radahot”, seronok, dan vulgar di kala itu. Akan tetapi sejak 1999, bioskop Arjuna mulai meredup pengunjungnya dan akhirnya sekarat. Pada 2002, Arjuna Theater resmi ditutup.


Gedung ini sekarang digunakan sebagai penyimpanan gerobak-gerobak pedagang kaki lima (PKL) yang kerap mangkal di sekitar alun-alun. Bangunan bioskop Arjuna hingga kini masih bisa disaksikan di Jalan Alun-Alun Utara, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur, atau tepatnya berada di sebelah timur Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun. Hanya saja bangunannya menjadi terbengkelai dan mangkrak. Kondisi bangunan ini sangat memprihatinkan dan bisa terancam kelestariannya karena di teras bangunan ini terdapat poster “dijual”. Akankah nasib bioskop Arjuna sama dengan saudaranya bioskop Lawu yang sudah dihancurkan dan kini menjadi Pusat Perbelanjaan (Mall) Sri Ratu? Sejarah yang akan menjawabnya.
Meskipun demikian alangkah baiknya bila kita sejenak menyimak ujaran yang pernah dikatakan oleh GH von Faber (1937), “Wie het heden wil begrijpen, moet het verleden kennen. Kennen is liefhebben. Kennen kan echter ook beteekenen: elkaar liefhebben, elkander waarderen” (Untuk memahami masa kini, perlu mengenal masa lampau. Mengenal berarti mengasihi. Mengenal juga berarti: mengasihi sesama, menghargai sesama). *** [030214]

0 komentar:

Posting Komentar