Jumat, 07 Februari 2014

Sejarah Singkat Desa Wairterang

Desa Wairterang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa pegunungan, dataran dan pantai, yaitu sekitar 750 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 11,25 mm dengan suhu rata-rata 32° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Wairterang hingga 31 Desember 2011, jumlah penduduknya adalah 1.937 orang dengan jumlah 495 KK dengan luas wilayah 2.934 hektar. Desa Waiterang terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Watubala, Dusun Waihekang, dan Dusun Wodong. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian dalam pertanian, utamanya perkebunan dan petani ladang atau tegalan.
Jarak tempuh Desa Wairterang ke ibu kota Kecamatan Waigete yaitu sekitar 4 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Sikka adalah sekitar 28 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Wairterang dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Nangatobong. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Natakoli, Kecamatan Mapitara, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Runut.
Dalam Profil Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, diceriterakan bahwa pada zaman dahulu kala ada tiga bersaudara,  yaitu Keso, Kuit dan Bore Dopeng. Mereka berasal dari Nelle, sekitar Kota Maumere. Mereka bertiga berangkat ke arah timur Kota Maumere dan ketika perjalanan mereka sudah sekitar 32 kilometer, mereka menemukan jalan buntu karena ada lautan menghadang atau dengan kata lain waktu itu Pulau Flores panjangnya dari barat ke timur hanya sampai di Desa Wairterang yang sekarang ini. Laut menghadang mulai dari pantai Wairterang sekarang ke arah selatan sampai di Pantai Rung. Solusi yang ditempuh waktu itu adalah dengan membuat ritus adat, yaitu potong ayam jantan yang bernama  Toka lain. Namun ritus ini sangat tidak berhasil.
Karena menunggu terlalu lama dan mereka kehabisan air maka ketiga bersaudara tersebut berusaha untuk mencari air dengan ritus yang dibuat internal dan rahasia. Ketiganya memanggil air lalu karena airnya datang terlalu lama mereka melangkah sekitar 25 meter ke arah barat dan duduk istirahat untuk menunggu datangnya air. Pada saat itulah bebatuan dan wadas pecah dan  keluarlah air dari dalam pecahan wadas dan lempengan batu di dua tempat sekaligus yaitu di tempat pertama yaitu tempat ketiga bersaudara memanggil air  (wair topo) dan tempat mereka menunggu air (wair bui).
Setelah mereka menikmati air untuk melepaskan dahaga maka mereka mulai memikirkan bagaimana caranya agar mereka dapat melanjutkan perjalanan. Akhirnya Keso dan Kuit sepakat membunuh adik mereka yang bernama Bore Dopeng dalam ritual adat supaya tanah terbelah dan dasar laut terangkat keatas membentuk daratan. Mereka menyatakan dengan kalimat adat bahwa dengan membunuh adik mereka maka “Odi nian naha bitak, tana naha boga. Nian bitak ganu pigang, tana lalang ganu bera. Ba lau nan ngera lau main”, “Tana bitak nian boga, ba lau dadi nuhan Wawi, reta nan makor nora maran” (Biar bagaimanapun tanah harus pecah  seperti piring dan bumi terbelah seperti timah, sebagian daratan hanyut keluar membentuk Pulau Babi  dan sebagian ke mari menjadi daratan menyatu dengan Daratan Wairterang).
Bukti alam yang memperkuat cerita rakyat ini adalah terdapatnya aneka karang laut yang sudah mati yang ditemukan di perbukitan atau dataran tinggi sekitar timur Wairterang ke arah timur yang menyebar mulai dari pantai utara sampai ke pantai selatan. Selain itu, adanya tipe relief yang berbentuk bukit melintang panjang dengan dinding kiri kanan menukik terjal seperti patahan lempeng tanah yang tersisa dan karena ketinggiannya maka jika kita berada di atas lempengan tanah tersebut maka kita hanya melihat lautan yang berada di sisi kiri dan kanan kita.
Masyarakat sekitar lokasi Wairterang tetap menami tempat ini adalah Wair Topo-Wair Bui sampai ketika penjajahan Jepang masuk dan berusaha menggunakan kedua mata air ini dengan memasang pipa parlon menyerupai pancuran kecil atau dalam bahasa setempat disebut Wair Terang maka masyarakat dalam keseharian menyebutnya Wairterang.
Pada zama dahulu, kurang lebih pada abad ke-19, dilakukan kegiatan pembukaan jalan Trans Flores yang dimulai dari Labuan Bajo menuju Larantuka. Semua laki-laki dewasa dan sudah kena pajak, dipaksa untuk kerja Rodi (kerja paksa), ketika pekerjaan jalan sudah sampai di kampung Wodong (kampung tertua di Desa Wairterang), para pekerja terpaksa bermalam dan tinggal menetap untuk sementara waktu di sana, pada saat itu kampung Wodong mengalami kekurangan air minum bersih, dan kebetulan di sekitar lokasi tempat tinggal para pekerja, terdapat salah satu mata air yang berada tepat di atas perbukitan, karena lokasi mata air berada di atas perbukitan dan daerahnya agak terjal maka para pekerja memasang terang (pancuran) yang terbuat dari bilah batang pinang dan ditarik ke daerah yang lebih rendah. Dalam kesehariannya masyarakat kampung Wodong menggunakan air pancuran tersebut sebagai tempat untuk mengambil air minum, mencuci, mandi, dan lain-lain. Dan dari sinilah masyarakat memberi nama Wairterang yang dalam bahasa daerah Sikka, Wair artinya  air, dan Terang artinya pancuran.
Nama Wairterang kemudian disepakati dalam musyawarah LKMD bersama Tokoh Masyarakat, sebagai nama desa Persiapan (tahun 1997). Dan pada tahun 2000, desa Persiapan Wairterang dikukuhkan menjadi Desa Definitif dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Sikka atas persetujuan DPRD Sikka. ***

0 komentar:

Posting Komentar