Jumat, 14 Februari 2014

Sejarah Singkat Desa Mojomati

Desa Mojomati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu sekitar 272 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 1.500 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Mojomati tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 1.081 orang dengan jumlah 327 KK dengan luas wilayah 75 hektar. Desa Mojomati terdiri atas dua dusun, yaitu Dusun Mojomati I dan Dususn Mojomati II. Sebagian besar penduduknya adalah petani, buruh tani, pedagang, dan  kuli bangunan.
Jarak tempuh Desa Mojomati ke ibu kota Kecamatan Jetis yaitu sekitar 4 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Ponorogo adalah sekitar 14 kilometer.
Secara administratif, Desa Mojomati dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Mojorejo. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kradenan. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Bulu dan Desa Campursari, Kecamatan Sambit, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Coper.
Dalam Profil Desa Mojomati diceriterakan bahwa  pada zaman dahulu sekitar tahun 1680 di sebelah barat Desa Mojomati terdapat sebuah Kademangan yang di pimpin oleh seorang Demang yang bernama Ki Ageng Kutu. Karena beliau  tidak mau tunduk kepada Adipati Ponorogo yaitu Raden Betoro Katong untuk menjadi bawahannya, maka terjadi peperangan antara Adipati Betoro Katong dan dengan Demang Ki Ageng Kutu. Peperangan ini berlangsung lama , dengan berbagai daya upaya dan siasat akhirnya Adipati Betoro Katong dapat mengalahkan Ki Ageng Kutu.  Ki Ageng Kutu lari ke arah timur melewati beberapa desa dan akhirnya beliau bersembunyi di Desa Mojomati yang pada saat  itu masih berupa hutan Mojo yang sangat lebat. Karena kesulitan mencari dan menemukan Ki Ageng Kutu, lalu Adipati Raden Betoro Katong menyuruh  para  prajuritnya untuk membakar hutan Mojo tersebut dan akirnya hutan Mojo tersebut hangus terbakar dan semua mati dan untuk petilasan Raden Betoro Katong ketika berpidato kepada para prajuritnya bahwa kalau zaman sudah ramai, daerah bekas hutan  Mojo yang sudah  hangus terbakar dan sekitarnya untuk diberi nama Desa Mojomati.
Ki Ageng Kutu kemudian lari ke arah selatan menuju daerah pegunungan dan bersembunyi di sebuah gua. Karena ditunggu beberapa lama tidak keluar dari dalam gua dan terasa bau bacin yang sangat mnyengat. Akhirnya Adipati Betoro Katong  mengangap Ki Ageng Kutu sudah mati di dalam gua.  Kemudian beliau dan para prajuritnya kembali ke Kadipaten Ponorogo.
Setelah beberapa lama,  daerah  bekas hutan  Mojo yang terbakar sudah ditumbuhi semak belukar, kemudian datang dua orang bersaudara, yaitu Iro Potro dan Iro Pati yang sedang mengembara membabat dan membersihakn belukar yang ada, lalu untuk ditempati beberapa pengikutnya dan kemudian juga menamakan daerah tersebut dengan nama  Desa Mojomati. Kemudian dua orang tersebut melanjutkan pengembaraan dan  tidak menetap di Desa Mojomati.
Agama Islam masuk di Desa Mojomati sekitar tahun 1830 dibawa oleh seorang ulama, yaitu H. Mansur dan istrinya bernama Nyai Turonggo Seto. Mereka mendirikan pondok pesantren yang terletak di Desa Mojomati bagian barat. Selang beberapa tahun  kemudian,  H. Mansur menikah lagi dengan Nyai Kuti Sari. Beberapa lama kemudian, H. Mansur meninggal dunia dan dimakamkan di makam keluarga, di belakang masjid pondok pesantren tersebut. Demikian juga istri-istrinya, juga dimakamkan di samping beliau. Makam tersebut dapat diziarahi di makam keluarga sampai sekarang.
Karena tidak ada penerus yang mempunyai kharisma seperti beliau  atau  karena sebab-sebab lain, maka pondok pesantren tersebut lama kelamaan mulai surut dan hilang ditinggal para santri-santrinya, dan daerah bekas pondok pesantren tersebut dinamakan Dukuh Ndok Malang  (Pondok Malang) yang sekarang dinamakan Dusun  Mojomati I. ***

0 komentar:

Posting Komentar