Senin, 24 Maret 2014

Gedung Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera

Pada masa lalu, sekitar awal 19, daerah Kesawan merupakan sudah kawasan komersial ramai yang penuh dengan aktivitas ekonomi. Ketika itu, Kesawan telah memainkan peran kunci dalam pengembangan Medan.
Kawasan Kesawan yang kini termasuk Kawasan Kota Lama Medan, merupakan lokasi awal perkembangan Kota Medan modern yang mulai berdiri pada akhir abad ke-16 dan berkembang pada awal tahun 1900-an. Fungsi yang mendominasi dari kawasan ini adalah campuran antara fungsi hunian (ruko dan fungsi komersial), perbelanjaan/retail, dan perkantoran. Pada saat Kawasan Kesawan sedang mengalami perubahan akibat adanya penggunaan fungsi bisnis yang sebagian terpusat di Jalan Ahmad Yani dan sekitarnya, semenjak itu berdatanganlah perusahaan-perusahaan asing untuk membuka berbagai perkantoran, bank, perusahaan perkebunan, kantor pusat perusahaan pelayaran kapal-kapal asing, dan lain-lain.
Hal ini dilihat dari sisa bangunan tua yang sebagian besar masih difungsikan untuk kegiatan ekonomi, seperti kantor, warung, restoran, butik, dan  pertokoan lainnya. Salah satu bangunan tua nan megah yang masih berdiri kokoh adalah gedung Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera, atau yang biasa disingkat menjadi gedung BKS PPS.


Gedung ini terletak di pojok perempatan atau pertemuan antara Jalan Pemuda dengan Jalan Palang Merah, Kelurahan, Kecamatan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Semasa kolonial , Jalan Pemuda dikenal dengan Paleisweg dan Jalan Palang Merah dikenal denga Sukamuliaweg.
Dulu, gedung ini dikenal dengan nama gedung AVROS, akronim dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera atau Asosiasi Umum Perkebunan Karet di Pantai Sumatera Timur. Di dalam buku Tours through Historic Medan and Its Surroundings (1999) yang ditulis oleh  sejarawan Belanda Dirk A. Buiskool dan Tjeerd Koudenburg, gedung AVROS dibangun antara tahun 1918 dan 1919 dengan hasil rancangan GH Mulder, yang pada waktu itu gaya arsitektur karyanya dipengaruhi oleh rasionalisme yang bangkit pada awal abad ke-20.
Bangunan ini memiliki empat lantai dalam konstruksi beton dengan jendela kaca besar, dan tangga yang terbuat dari kayu. Setiap lantai memiliki balkon berupa galeri terbuka. Galeri ini dirancang untuk melindungi ruang dalam dari terpaan panasnya matahari, sehingga ruangan selalu sejuk.
Di atasnya terdapat kubah dengan tulisan angka 1918 dan 1919 sebagai penanda tahun pembuatannya dan di tengah-tengah kubah terdapat jam lonceng bermerk Nederlandschefabriek Torenuurwerken B. Eijsbouts-Asten, sebuah pabrik terkenal Bonaventura Eijsbouts di Kota Asten, Belanda, dan baru dipasang pada tahun 1920.
Pada tahun 1967, gedung AVROS berganti nama menjadi BKS PPS. Nama yang beda, akan tetapi fokus tujuannya hampir sama. Hingga kini pun, gedung tersebut masih digunakan untuk kegiatan usaha yang dilakukan oleh BKS PPS.
Bangunan berlanggam art nouveau ini, kini menjadi bangunan cagar budaya (BCB) yang tetap mempertahankan aspek heritage dengan sejarah perjalanan panjang yang membingkainya. *** [130314]

Kepustakaan:
http://www.thejakartapost.com/news/2001/04/22/medan-strives-save-historical-buildings.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/kisah-di-balik-kubah-megah-gedung-avros-medan

0 komentar:

Posting Komentar