Rabu, 12 Maret 2014

Gedung Bank Internasional Indonesia Surabaya

Bangunan tinggi besar berwarna putih di pojok Willemskade (sekarang Jl. Jembatan Merah) dan Roomschkerkstraat (kini Jl. Cenderawasih), mengundang setiap orang yang melintas di kawasan tersebut untuk sejenak memandangnya. Di antara deretan bangunan kuno di kawasan yang sekarang dikenal dengan Jalan Jembatan Merah dan Jalan Cenderawasih ini, bangunan tersebut terlihat memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan bangunan lainnya yang berada di daerah tersebut. Selain warnanya yang putih, bangunan ini dihiasi dengan lima balkon dengan menara yang ada jam analognya. Bangunan tersebut adalah gedung Bank Internasional Indonesia (BII).
Gedung BII ini terletak di Jalan Jembatan Merah No. 3 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini tepat berada di sebelah utara Kantor Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya.


Sebelumnya, Gedung BII ini adalah gedung Nederlands Spaarbank atau yang biasa disebut dengan Nutsspaarbank atau Bank Tabungan untuk Manfaat Umum. Nutsspaarbank merupakan satu-satunya Bank Tabungan Umum di Kota Surabaya kala itu.
Mulanya timbul ide untu mendirikan sebuh bank tabungan untuk umum pada Mei 1833, mengingat pada saat itu pemerintah Belanda sudah stabil. Ide ini ditangani oleh Maatschappij Tot Nut Van Het Algemente yang berlokasi di Amsterdam. Untuk sementara, kantor tersebut berada di Jalan Embong Malang.
Lalu, pada 18 Maret 1853, Dr. R.W.C.J. Barke mengusulkan untuk membangun gedung baru yang lebih representatif guna menggantikan gedung yang lama. Gedung tersebut dibangun pada tahun 1914 dan mulai digunakan sejak tanggal 8 Maret 1916. Arsitek bangunan gedung ini adalah Fritz Joseph Pinedo, yang lahir pada 12 Juni 1883 di Haarlem, Provinsi Belanda Utara. Ayahnya bernama Egbertus Pinedo dan ibunya adalah Maria Salomonson. Usai merampungkan Hotel Kartika Chandra di Jakarta pada tahun 1970, Pinedo meninggalkan sejumlah proyek ke Brasil di mana ia meninggal pada tahun 1976.


Bangunan ini merupakan bentuk dari penyelesaian klasik bangunan pojok yang banyak terdapat pada arsitektur kolonial. Yang dominan dari gedung ini adalah dominasi gevel depan dan tower atau tiang pada pintu masuk utamanya.
Bangunan Nutsspaarbank karya Pinedo ini merupakan karya arsitektur pada masa peralihan trend gaya desain dunia, yaitu pada tahun 1890-1915. Elemen interior dengan gaya pada masa itu tampil dengan gaya rancangan peralihan, seperti gaya Dutch Colonial, Empire Style, Art and Craft, Art Nouveau, Amsterdam Schools, dan menuju ke Nieuw Bowen yang lebih modern.
Dalam kesehariannya, bangunan ini masih berfungsi sebagai bank umum yang melayani para nasabah BII, sementara di sisi lain, arsitektur bangunan kolonial dari Nutsspaarbank ini sekarang sebagai penunjang kawasan kota lama di Surabaya, dan sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB).  *** [230214]

Kepustakaan:

0 komentar:

Posting Komentar