Kamis, 17 April 2014

Masjid Muttaqien Ponorogo

Secara adiministratif, Masjid Muttaqien terletak di Jalan Letjend Suprapto Sukowati No. 122 Dusun Kauman, Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berada di jalan yang menghubungkan Ponorogo – Magetan.
Masjid ini tidak terlalu besar, akan tetapi memiliki kisah yang menarik. Konon, masjid ini didirikan pada 1359 H atau 1940 M oleh H. Abdul Manani bersamaan dengan berdirinya pondok pesantren (ponpes) yang ada di sebelah masjid tersebut. Masyarakat setempat menyebutnya dengan ponpes Kauman, disesuaikan dengan keberadaan ponpes tersebut.
Awalnya, ponpes tersebut hanya sekadar tempat mengaji bagi masyarakat sekitar, namun lambat laun berkembang menjadi sebuah ponpes yang sederhana, Begitu pula, dengan masjidnya. Mulanya tidak seluas seperti sekarang ini. Kala itu, hanya berukuran 8 meter x 8 meter saja, yang sekarang masih dipertahankan bentuk bangunannya pada ruang utama masjid tersebut. Kemudian diperluas sesuai dengan jumlah jamaahnya yang makin berkembang dengan menambah bangunan teras di muka ruang utama.


Ruang utama masjid ini ditopang oleh empat buah tiang kayu atau soko guru di bagian bawahnya terdapat umpak semen yang membalut keempat soko guru yang tinggi umpaknya sekitar seperempat dari ketinggian soko guru tersebut. Bentuk ruang utama ini mirip dengan ruang utama pada masjid-masjid bersejarah di Pulau Jawa, sepert Masjid Agung Surakarta namun ukurannya kecil.
Menurut H. Burhanuddin, salah seorang putra dari pendiri masjid tersebut, ponpes dan masjid ini pernah mengalami pasang surut. Pernah ditinggalkan jamaahnya karena “dicurigai” oleh birokrasi Orde Baru (Orba). Segala aktivitasnya senantiasa dimonitor dan terkadang mengalami penetrasi, dan klimaksnya ponpesnya mengalami kolaps jamaah atau ditinggalkan. Begitu pula, masjidnya juga mengalami hal yang sama tatkala di dinding pembatas antara teras menuju ruang utama dipasangi lambang Muhammadiyah di bagian roster atas yang berfungsi sebagai sirkulasi udara.
Kemudian seiring berjalannya sang waktu, masjid tersebut akhirnya pada berdatangan lagi. Lalu ponpesnya juga dihidupkan kembali dengan menerima para pemondok perempuan yang sudah tak berayah ibu atau dalam bahasa religusnya, yatim piatu. Seiring itu pula, masjid ini pernah mengalami renovasi pada 1419 H atau 1998. Memasuki ruang utama masjid ini terasa kita memasuki bangunan tradisional Jawa yang sejuk dan teduh. *** [110414]

0 komentar:

Posting Komentar