Jumat, 18 April 2014

Sejarah Singkat Desa Ngaglik

Desa Ngaglik merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi antara 400 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 10 sampai dengan 45 derajat.. Berdasarkan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.200 mm dengan suhu rata-rata antara 22 hingga 30° Celcius.
Berdasarkan data rupa bumi wilayah administrasi Desa Ngaglik tahun 2010, jumlah penduduknya tercatat 3.962 orang dengan jumlah 832 KK dengan luas wilayah 284,4465 hektar. Desa Ngaglik terdiri atas empat dusun, yaitu Dusun Bendo, Dusun Soko, Dusun Dagangan dan Dusun Dukuh.
Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, sedangkan bagi yang tidak memiliki lahan pertanian atau tidak terserap dalam aktivitas pertanian lainnya, mereka melakukan mobilitas keluar desa seperti meranatau atau “boro”. Pada umumnya mereka dikenal sebagai pengrajin mainan anak.
Jarak tempuh Desa Ngaglik ke ibu kota Kecamatan Bulukerto yaitu sekitar 8 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Wonogiri adalah sekitar 22 kilometer.
Secara administratif, Desa Ngaglik dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Krandegan. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Nadi. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Sendang, Kecamatan Purwantoro, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Kelurahan Bulukerto, Desa Bulurejo, dan Desa Ploso.
Menurut ceritera Bapak Supriyatno, Sekretaris Desa Ngaglik, konon pada zaman dahulu kala ketika peradaban masih belum maju seperti sekarang ini, terdapat sebuah ceritera yang berkembang di masyarakat perihal Legenda Singo Lodoyo.
Legenda tersebut mengisahkan bahwa pada setiap awal bulan Mulud (menjelang Maulid Nabi), banyak orang Lodoyo pergi ke Nagri (sebutan untuk sebutan Surakarta sebagai tempat berdirinya Kraton Surakarta Hadiningrat). Mereka pergi ke sana untuk melihat dan menikmati keramaian Muludan atau yang biasa dikenal dengan nama Sekaten. Di sana, mereka sembari berguru dan menimba ilmu kanuragan kepada pujangga dan “guru-guru” kerajaan.
Dengan memperoleh ilmu kanuragan yang cukup tinggi, orang-orang Lodoyo tersebut menjadi sakti mandraguna sehingga dapat merubah wujud menjadi harimau. Ketika berubah wujud menjadi harimau, perjalanan pulang dari Nagri sampai ke Lodoyo dapat ditempuh hanya dalam waktu semalam. Akan tetapi dalam kenyataannya, ada juga yang naas, yaitu tersesat dikarenakan melanggar pantangan yakni tidak boleh melewati Sendang Biru. Karena bila harimau jadi-jadian tersebut melewati Sendang Biru maka akan tersesat dan tidak akan bisa berubah wujud kembali menjadi manusia.
Harimau yang tersesat tersebut bersembunyi di suatu tempat, yang mana tempat tersebut saat itu dinamai “Singane Gembong nDhelik”, dan selanjutnya orang lebih mudah menyebut dengan nama “Ngaglik” dan hingga sekarang menjadi sebutan nama Desa Ngaglik.
Kejadian tersebut berulang-ulang dan terakhir terjadi pada tahun 1962, seekor hariman gembong (loreng) berukuran besar bersembunyi di rumah Bapak Kariyo Maridin di Punthukmiri Dusun Dagangan, Desa Ngaglik.
Menurut penuturan sesepuh desa dan para moncokaki, sebutan Desa Ngaglik itu sudah ada sejak masa kolonial Belanda jauh sebelum dilakukan pemetaan. Wilayah Desa Ngaglik yang melintang dari utara Dukuh Jomblang di Dusun Bendo hingga selatan Dukuh Temulawak, Dusun Dagangan.
Demangan Bendo, rumah kediaman Demang Pontjo Panambang, yang pada saat itu selaku Kepala Pemerintahan di Desa Ngaglik, ketika daerah tersebut masih dikuasai oleh penjajah Belanda. Desa Ngaglik yang termasuk wilayah Geduwang, merupakan bagian dari wilayah Pura Mangkunegaran, tepatnya Desa Ngaglik, onder distric Bulukerto, Distrik Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Sebuah organisasi pemerintahan desa pertama yang dikenal masyarakat Desa Ngaglik. ***

7 komentar:

  1. leluhur saya (Buyut Mas Rongo Martodiwerno) asli Bangsri Purwantoro....di ruah eyang saya dulu memang ada poster penguasa (Mangkunegoro ke....).

    BalasHapus
  2. Terus saya di suruh bilang wow gitu,....?

    BalasHapus
  3. Terus saya di suruh bilang wow gitu,....?

    BalasHapus
  4. Mas Hengki,siapa silsilahnya bisa dicari di Mangkunegaran. Di Perpustakaan Reskopustoko Mangkunegaran, sepertinya memiliki arsip yang bagus. Siapa tahu masih bisa dilacak?

    BalasHapus
  5. Mas Abu Achmad, terima kasih telah berkenan membaca sejarah anak negeri ini

    BalasHapus
  6. Eyang singo ludoyo hanya 1 org tp mempunya nama yg banyak ..setiap daerah berbeda nama..dia byk punya julukan tp org nya 1 ..

    BalasHapus