Jumat, 08 Agustus 2014

Ponten Mangkunegaran

Menyusuri Kali Pepe, sungai yang membelah Kota Solo sebelum bermuara di Bengawan Solo, di daerah Kestalan akan dijumpai bangunan bercat putih yang menawan dan bersejarah. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama ponten. Gaya bangunannya mengingatkan akan gunongan peninggalan Sultan Iskandar Muda yang terletak di daerah Setui, Banda Aceh yang cukup megah.
Ponten tersebut terletak di Kampung Ngebrusan RT.02 RW.03 Kelurahan Kesatalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ponten ini berada di depan Pos Keamanan RT.01 RW.02 atau tepat berada di pertemuan Jalan Kalimantan dengan Jalan Tarakan.


Sesuai dengan prasasti yang tertempel di bangunan tersebut, bangunan itu dibangun pada tahun 1936 atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegara VII. Rancangan bangunannya dipercayakan kepada Hermans Thomas Karsten, seorang arsitek asal Belanda. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat MCK (Mandi, Cuci dan Kakus) bagi warga sekitar. Penguasa Mangkunegaran itu memang menghendaki rakyatnya hidup sehat dengan menyediakan fasilitas sanitasi umum tersebut. Terlebih, kawasan di mana bangunan ponten itu berdiri, berdekatan dengan Stabelan, yang dulunya merupakan kandang kuda milik pasukan Legiun Mangkunegaran.
Sebutan ponten yang diberikan pada bangunan dengan ukuran 8 x 12 meter ini berasal dari pelafalan kata fountain yang dalam bahasa Belanda berarti air mancur. Thomas Karsten memang melengkapi dengan air mancur bangunan yang memiliki pintu masuk di sisi kanan atau timur dan kiri atau barat.
Di sisi kanan kiri terdapat bilik mandi yang memiliki beberapa pancuran dan satu shower besar di bagian tengah. Khusus pada bilik kanan, juga dilengkapi dengan dua kakus yang dipisahkan dinding. Di bilik ini terdapat penghubung ke sumur di bagian luar. Di bagian muka, pada ruangan yang berukuran 4,5 x 2,5 meter terdapat pipa-pipa pancuran air yang mengalirkan air dari bak penampungan di atas untuk keperluan mencuci bersama-sama. Pada masa lalu, air yang mengalir di bangunan ini berasal dari mata air Cokrotulung yang dialirkan perusahaan air NV Hoodgruk Water Leiding Hoodplaast Surakarta en Omstreken.


Ponten menjadi penanda kemajuan budaya masyarakat perkotaan di bawah pemerintahan Mangkunegara VII. Budaya hidup bersih dan sehat sudah diupayakan sedari dulu. Ketika masyarakat umum belum mampu memiliki tempat MCK sendiri, pemerintah saat itu mendirikan ponten yang dapat digunakan bersama-sama. Kebersihan MCK umum itu juga terjaga. Mangkunegara VII tak jarang meninjau sendiri kebersihan ponten yang diwajibkan dibersihkan dua kali sehari tersebut.
Ponten ini pernah mangkrak beberapa tahun, dan dipugar oleh Dra. Hj. Karyatun, istri dari KRT H. Kistuboko serta diresmikan pada 9 September 2007. Kemudian Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berkehendak untuk merestorasi situs yang sudah menjadi bangunan cagar budaya (BCB) melalui Surat Keputusan (SK) Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor 646/116/I/1997 ini. Secara bertahap, revitalisasi dilakukan dengan membangun pagar pembatas. Selain itu, ponten tersebut juga akan difungsikan lagi dengan menyediakan suplai air bersih dari PDAM dan sumur pompa.
Revitalisasi bangunan ini akhirnya terwujud dengan adanya dana promosi melalui program corporate social responsibility (CSR) dari Bank Jateng tahun 2013 sebesar Rp 200 juta. Pengerjaan proyek berlangsung mulai Januari sampai Mei, dan diresmikan pada 21 Juni 2014. Sasaran revitalisasi di antaranya adalah pembenahan fisik bangunan serta penataan lingkungan di sekitarnya.
Kini, ponten yang dahulunya dikenal dengan nama Badplaats Ngebrusan telah menjadi salah satu ikon sejarah yang penting bagi peradaban terutama berkenaan dengan hidup bersih dan sehat, dan sekarang bangunan ini dikenal sebagai Ponten Mangkunegaran. *** [280714]

0 komentar:

Posting Komentar