Kamis, 23 April 2015

Taman Sari Gunongan

Melintas Jalan Teuku Umar dari Pusat Kota Banda Aceh menuju Setui, Anda akan bisa menyaksikan bangunan dengan warna putih nan megah di sebelah kiri jalan. Bangunan putih tersebut, sesuai papan yang dipasang di halaman bangunan, tertulis Taman Sari Gunongan.
Taman Sari Gunongan terletak di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi bangunan ini berada sekitar 100 meter bersebarangan dengan kompleks pemakaman prajurit Belanda, Kerkhof Peutjoet, dan Museum Tsunami Aceh. Untuk mencapai situs itu mudah karena hampir semua kendaraan umum melewatinya.
Menurut catatan yang ada di Taman Sari Gunongan, Gunongan didirikan oleh Sultan Iskandar Muda untuk menyenangkan permaisuri yang sering merindukan kampung halaman. Sultan Iskandar Muda menikahi Putri Pahang (Putroe Phang) setelah Kesultanan Aceh Darussalam menaklukkan Kerajaan  Pahang di Malaysia pada tahun 1615. Sultan Iskandar Muda menjadikan Putri Pahang sebagai istri kedua setelah Putri Tsani asal Reubee, Pidie. Alkisah, permaisuri Sultan Iskandar Muda yang bernama Putroe Phang, sering merasa kesepian di tengah kesibukan sang suami sebagai kepala pemerintahan. Ia selalu teringat dengan kampung halamannya di Pahang, Malaysia. Sultan Iskandar Muda memahami kegundahan permaisurinya. Untuk membahagiakan sang permaisuri, sultan membangun sebuah gunung kecil (Gunongan) sebagai miniatur perbukitan yang mengelilingi Istana Putroe Phang di Pahang.


Sultan Iskandar Muda memerintahkan sejumlah pekerja untuk membangun bangunan yang bisa mengobati perasaan gundah Putri Pahang ini. Bahkan, rakyat pun turut memberikan kontribusi lewat satu colek kapur per orang untuk mengecat putih bangunan yang tengah dibangun.
Lalu, jadilah Gunongan seperti yang ada sekarang. Bangunan itu dianggap sebagai gambaran kecil pemandangan alam dari daerah Pahang yang bergunung-gunung. Di sekitarnya pun dibangun taman yang ditanami sejumlah bunga dan pepohonan, yakni Taman Sari Gunongan atau Taman Ghairah.
Taman Ghairah cukup luas. Cakupannya termasuk kompleks pemandian Putroe Phang. Konon, setelah Gunongan dan Taman Ghairah selesai dibangun, betapa bahagianya sang permaisuri. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain bersama dayang-dayang di sekitar Gunongan, sambil memanjatinya sehingga Putri Pahang tersebut tak lagi sedih dan gundah merindukan kampung halamannya.
Menurut Kitab Bustanussalatin yang ditulis oleh Nuruddin Ar-Raniry, Gunongan dan kompleks Taman Ghairah dirancang oleh para ahli yang paham dengan seni bangunan. Ahli bangunan berasal dari dua negeri yang memiliki hubungan erat dengan Aceh kala itu, yakni Turki dan Tiongkok. Bahkan, ada kemungkinan pula Gunongan dan Taman Ghairah mendapatkan sentuhan ahli bangunan dari India.


Gunongan adalah monumen atau bangunan putih bersegi delapan (oktagonal) dengan tinggi sekitar 10 meter. Bangunan itu bertingkat tiga, berbukit-bukit seumpama jejeran gunung, sehingga disebut gunongan atau gunungan. Sekilas Gunongan pun terlihat seperti bunga bertingkat tiga yang sedang mekar. Di bagian puncak terdapat menara yang berbentuk seperti mahkota bunga.
Di Gunongan terdapat satu pintu masuk dengan tinggi hanya 1,5 meter. Pintu itu sengaja dibuat rendah agar pengunjung yang masuk dalam posisi membungkuk. Ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa hormat ketika bertamu atau memasuki suatu tempat.
Selangkah kaki di kiri Gunongan terdapat Peterana Batu. Batu itu memiliki diameter 1 meter dan tinggi 50 sentimeter. Batu itu berbentuk silindier berornamen kerawang motif jaring atau jala. Di pingiran batu terdapat terap, semacam tangga bertingkat dua, dan di tengah batu terdapat lubang. Konon, batu itu adalah takhta tempat penobatan sultan.
Persis di belakang Gunongan terdapat kandang atau makam menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yakni Sultan Iskandar Thani (1636-1641). Sekitar 10 meter di samping kiri terdapat aliran sungai buatan bernama Krueng (sungai) Daroy. Sungai ini mengalirkan air ke kompleks pemandian Putri Pahang (Putroe Phang) yang berjarak sekitar 50 meter dari Gunongan.
Taman Sari Gunongan menjadi situs cagar budaya yang masih ada di Kota Banda Aceh. Berlatar motif cinta dari Sang Raja kepada permaisurinya, bangunan tersebut kini menjadi salah satu objek wisata yang layak dikunjungi ketika berada di Banda Aceh. *** [300315]

Kepustakaan:
Nyoman Surya, 2010. Wisata Murah Sumatera, Yogyakarta: Kata Buku
KOMPAS Edisi Jumat, 28 November 2014

0 komentar:

Posting Komentar