Senin, 27 April 2015

Bustanussalatin

Bustanussalatin merupakan salah satu kitab gubahan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Nuruddin Ar-Raniry merupakan seorang muslim yang berasal dari Hadhrami, India, yang nama lengkapnya adalah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi Asy-Syafii. Naskah tersebut ditulis atas permintaan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Beliau datang dari Ranir (sekarang Rander) di Gujarat dan tiba di Aceh pada 6 Muharram 1047 H (31 Mei 1637). Penulisannya dimulai pada tanggal 4 Maret 1638 dengan nama lengkap Bustanussalatin fi zikril awwalin wal akhirin.
Rusell Jones dalam Nuruddin ar-Raniri Bustanu’s-Salatin Bab IV Fasal 1 (Hasanuddin Yusuf Adan, 2013:91) memperkirakan bahwa Nuruddin Ar-Raniry belajar bahasa Melayu di Mekkah dalam tahun 1621 ketika mengunjungi tanah suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Perkiraan lain menyatakan bahwa beliau pernah tinggal di sebuah negeri Melayu sebelum pergi ke Aceh atau dia telah belajar bahasa Melayu di Gujarat dan diperkirakan ibunya adalah seorang bangsa Melayu.
Bustanussalatin yang artinya taman raja-raja dibangun sebagai taman Kesultanan Aceh. Sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1514 M. Terletak di sepanjang Krueng Daroy yang melintasi Gunongan, Pinto Khop, Kandang, hingga ke Pulau Gajah dan Masjid Raya.
Di dalamnya banyak ditumbuhi pohon-pohon buah, bunga dan sayuran yang khasiatnya bermacam-macam. Dulu luasnya hampir sepertiga Kota Banda Aceh.
Beberapa bangunan yang terdapat dalam taman Bustanussalatin, dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda di antaranya, Gegunongan Menara Permata (Gunongan) yang dibangun untuk istri Sultan Iskandar Muda yang dari Pahang ataun yang lebih dikenal Putroe Phang. Taman Ghairah (Taman Sari) dibangun oleh Sultan Iskandar Muda dengan maksud menjadikan Bandar Aceh Darussalam sebagai Taman Firdaus.
Di dalam taman ini dahulu ditanam sekitar 50 jenis tanaman bunga dan 50 jenis tanaman buah-buahan khas Aceh. Di taman ini juga dibina beragam sarana hiburan para sultan yang hingga kini masih dapat dilihat di antaranya Krueng Daroll ski atau Krueng Daroy yang membelah taman, Gunongan, Kandang Sultan Alauddin Mughayatsyah Iskandar Tsani, Patarana Sangga dan Pinto Khop yang merupakan pintu masuk ke Taman Ghairah.
Naskah dalam kitab ini terdiri dari 7 (tujuh) bab dan 40 pasal, yaitu:
Bab pertama, terdiri dari 10 fasal yang menerangkan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi beserta isi semuanya, mulai dari persoalan Nur Muhammad, Lauh al-Mahfudz, kalam pencatat amal manusia, ‘Arsy (singgasana di surga dengan semua bagiannya), kerusi (singgasana Tuhan), liwa ul-Hamd (bendera keselamatan di surga ke tujuh), para malaikat, sidratul-muntaha (pohon di surga ke tujuh yang setiap daunnya sama dengan kehidupan satu orang yang gugur apabila orang itu mati), dan tujuh lapis langit.
Bab kedua, terdiri dari 13 fasal yang menceriterakan tentang sejarah para nabi dan raja yang terdiri dari nabi-nabi mulai dari Nabi Adam a.s. sampai kepada Nabi Muhammad SAW; raja-raja Parsi sampai kepada zaman Umar, raja-raja Rum sampai kepada zaman Nabi Muhammad SAW, raja-raja Mesir sampai kepada zaman Iskandar Zulkarnain; raja-raja Arab sebelum Islam; raja-raja Najd sampai kepada zaman Nabi Muhammad SAW; sejarah Nabi Muhammad SAW, dan khalifah ar-Rasyidin; sejarah bangsa Arab di bawah kaum Umayyah; sejarah bangsa Arab di bawah kaum Abbasiyah; sejarah raja-raja Islam Delhi; sejarah raja-raja Melaka dan Pahang; dan sejarah raja-raja Aceh.
Bab ketiga, terdiri dari 10 fasal yang menceriterakan tentang raja-raja yang adil dan menteri-menteri serta pembesar-pembesar yang arif dan bijaksana.
Bab keempat yang terdiri dari 2 fasal menceriterakan tentang segala raja-raja yang bertapa (menyunyikan kediamannya atau ibadahnya), dan segala aulia yang salihin.
Bab kelima, terdiri dari 2 fasal yang menyatakan tentang perkara-perkara para raja dan menteri yang dzalim, yang menganiaya rakyat mereka.
Bab keenam, terdiri dari 2 fasal yang menyatakan segala orang yang murah lagi mulia dan segala orang berani yang besar.
Bab ketujuh, sebagai bab terakhir yang menceriterakan tentang akal, ilmu, firasat, qiafat, ilmu ketabiban, sifat-sifat perempuan serta hikayat-hikayat yang ajaib dan jarang terjadi. Bab yang terdiri dari 5 fasal ini kadang-kadang nampak menjadi sebuah bab tersendiri dengan nama Bustanul Arifin (taman orang-orang yang arif).
Naskah Bustanussalatin mempunyai pengaruh besar dalam sejarah dan kesusasteraan Melayu dan Aceh. Salah satu bab dari Bustanussalatin mengisahkan sejarah Aceh secara detail, termasuk silsilah para raja dan penegakan hukum pada masa kesultanan Aceh. Nuruddin Ar-Raniry juga menggambarkan kemegahan dan keindahan Dar Al-Dunya dan taman Bustanussalatin. Dari naskah ini pula diketahui segala gambaran tentang keindahan bangunan, tanaman, dan Darul Isyki (Krueng Daroy) yang terdapat dalam Bustanussalatin. Dan segala peristiwa dan perayaan yang diadakan di dalam maupun di luar taman kerajaan. Seperti perayaan Idhul Adha pada masa Sultan Iskandar Tsani yang gambarannya ada dalam lukisan AD Firous. *** [020415]

Kepustakaan:
Hasanuddin Yusuf Adan, 2014. Islam dan Sistem Pemerintahan di Aceh Masa Kerajaan Aceh Darussalam, Banda Aceh: Yayasan PeNA

2 komentar:

  1. sangat bermanfaat terimakasih banyak bapak...

    BalasHapus
  2. Terima kasih telah berkunjung di blog kekunaan ini ... Bang Feri Ilhamni. Semoga bermanfaat.

    BalasHapus