Minggu, 21 September 2014

Rumah Sakit Jember Klinik

Kehadiran sejumlah perusahaan perkebunan partikelir, seperti De Landbouw Maatschappij Soekowono milik Fransen van de Putte, De Landbouw Maatschappij Jelboek milik Du Ry van Best Holle dan Geertsma, De Landbouw Maatschappij Soekerto Ajong milik keluarga Baud, dan De Landbouw Maatschappij Oud Djember milik George Birnie, telah membawa perubahan tersendiri di daerah Jember. Kapitalisasi perkebunan perkelir pada masa itu menjadikan Jember menuju kota industri perkebunan.
Konsekuensinya, berbagai perusahaan perkebunan partikelir tersebut terlibat dalam proses pembangunan sarana dan prasarana guna mendukung suatu operasionalisasi perusahaan perkebunan. Salah satunya adalah De Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD) yang berusaha keras untuk mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana tersebut. Sebagai perusahaan perkebunan terkemuka pada tahun 1880 sampai tahun 1890, LMOD telah memulai membangun jalan yang menghubungkan kantor pusatnya di Jember dengan perkebunan di Mayang, Wuluhan, Tanggul dan Puger.
Tidak hanya itu, LMOD bahkan juga mendirikan rumah sakit yang sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit (RS) Jember Klinik.


RS Jember Klinik terletak di Jalan Bedadung No. 2 Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah sakit ini berada di depan Kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember.
RS Jember Klinik ini sesungguhnya mempunyai nama resmi RS Perkebunan Jember tapi masyarakat Jember sudah terlanjur akrab dengan sebutan RS Jember Klinik. Hal ini tidak terlepas dari sejarah yang melekat pada rumah sakit tersebut. RS Jember Klinik, dulunya adalah Djemberscheklinik yang menjadi cikal bakal rumah sakit ini.
Djemberscheklinik pertama kali membuka layanannya pada tahun 1910. Kala itu, Djemberscheklinik merupakan klinik yang didirikan oleh LMOD untuk memberikan layanan pengobatan bagi karyawan-karyawannya. Kehadiran Djemberscheklinik ini sekaligus untuk mengubah perilaku kesehatan pekerja perkebunan pribumi dari sistem kesehatan yang masih tradisional menuju sistem kesehatan yang modern sesuai dengan standar Eropa yang pada waktu itu penyakit koleria, malaria maupun disentri kerap menghinggapi karyawan-karyawan perkebunan. Pihak manajemen LMOD yang pada umumnya diisi oleh orang-orang Belanda, menganggap sistem kesehatan tradisional memiliki kekurangan sebagai penjamin kesehatan bagi pekerja perkebunan.
Setelah Indonesia merdeka, semua perusahaan perkebunan tersebut akhirnya dinasionalisasi pada tahun 1956. LMOD pun berubah menjadi PTP XXVII, PTP XXVI dan PTP XXIII di Kabupaten Jember. Kemudian pada 14 Februari 1996, ketiga PTP tersebut melakukan fusi, dan hasil dari peleburan tersebut di bawah naungan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Termasuk juga RS Jember Klinik, akhirnya menjadi salah satu dari tiga unit bisnis strategis yang dimiliki oleh PTPN X.
Melihat perjalanan historis yang dimiliki, RS Jember Klinik ini merupakan bangunan cagar budaya (BCB) yang perlu dilestarikan keberadaannya karena sarat nilai penting akan sejarah Jember, dan kedepannya bisa dikembangkan menjadi wisata heritage di Kota Jember. *** [130814]

Kepustakaan:
Tri Chandra Ap., 2004, Kota dan Kapitalisme Perkebunan: Jember dalam Perubahan Zaman 1900-1970, dalam makalah di the 1st International Conference on Urban History, Surabaya, August, 23th-25th 2004
www.jember-klinik.co.id
http://ptpn10.co.id/page/unit-usaha

0 komentar:

Posting Komentar