Jumat, 07 November 2014

Klenteng Hong San Kiong

Gudo merupakan salah satu nama kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Jaraknya sekitar 13 kilometer arah barat dari Jombang. Selain dikenal memiliki sentra industi kerajinan manik-manik bertaraf internasional berbahan limbah kaca, di daerah Gudo juga terdapat sebuah klenteng tua yang dikenal dengan nama Klenteng Hong San Kiong.
Klenteng Hong San Kiong terletak di Dusun Tukangan, Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di samping kanan Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Gudo, tepat di pertigaan jalan ke arah selatan menuju Kediri dan ke utara menuju Jombang.
Secara historis, keberadaan klenteng ini tidak bisa lepas dari kehidupan etnis Tionghoa yang berada di Gudo. Kedatangan orang-orang Tionghoa ke daerah Gudo telah berjalan ratusan tahun yang silam, mengingat lokasi Gudo di Jombang itu dekat dengan pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Bahkan, menurut keterangan yang beredar di masyarakat sekitarm penamaan Desa Gudo sendiri tidak terlepas dari keterlibatan etnis Tionghoa di daerah tersebut. Gudo berasal dari kata “Pagoda”, yaitu bangunan yang berbentuk menara yang atapnya terdapat pada tiap tingkat. Biasanya dibangun sebagai kuil atau tugu peringatan, seperti yang terdapat di India, Srilanka, Burma, Tiongkok dan Jepang. Bangunan itu konon ditemukan di mana Klenteng Hong San Kiong berdiri sekarang. Klenteng Hong San Kiong sendiri diperkirakan dibangun pada tahun 1700.


Keberadaan Klenteng Hong San Kiong bermula dari sebuah keluarga bermarga Tan yang melakukan pemujaan terhadap Kong Co Kong Tik Cun Ong. Sosok keluarga Tan memang memiliki peran cukup penting pada awal berdirinya Klenteng Hong San Kiong.
Di klenteng yang memiliki luas bangunan 3.500 m² di atas lahan seluas 16.200 m² ini, kelengkapan proses seni wayang potehi masih terjaga di Gudo. Proses produksi, pemain, dan pementasan seni wayang masih tetap terjaga hingga sekarang. Seni wayang potehi ini tidak bisa dilepaskan dari salah seorang imigran dari Tiongkok ratusan tahun silam yang bernama Tok Su Kwi. Ia merantau dari Tiongkok ke Laut Selatan hingga sampai di Pulau Jawa dengan membawa serta kesenian boneka dari wilayah Hokkian (Tiongkok Selatan) yang di daerah asalnya dikenal sebagai Pouw Tee Hie. Sesampainya di Pulau Jawa, Tok Su Kwi memilih menetap di Gudo, Jombang.
Seperti klenteng pada umumnya di Tanah Air, ketika memasuki klenteng tersebut, pengunjung akan menjumpai hiolo yang berisi abu hio. Kemudian masuk lagi ke dalam klenteng, pengunjung akan menemukan beberapa altar untuk pemujaan bagi dewa yang diyakini. Di tengah ruang ruang depan terdapat altar bagi Kong Co Kong Tik Cun Ong. Di sebelah kirinya terdapat, altar Kong Co Hong Tik Cun Sing atau Dewa Bumi. Sebelahnya Dewa Bumi, terdapat altar Kong Co Hyang Thian Sing Tee atau Dewa Langit. Sedangkan, di sisi kanan altar Kong Co Kong Tik Cun Ong terdapat altar Kwan Sing Tee Koen atau Dewa Kebenaran/Keadilan.
Klenteng Hong San Kiong ini merupakan tempat peribadatan bagi penganut Tri Dharma, yaitu agama Buddha, Konghucu dan Taois. Selain sebagai tempat bersembahyang bagi tiga penganut keyakinan tersebut, klenteng ini juga berfungsi sebagai balai pengobatan. Yang boleh berobat di balai pengobatan ini bukan hanya bagi pemeluk Tri Dharma saja, namun banyak warga sekitar klenteng yang pada umumnya muslim juga boleh berobat. Hal ini yang melahirkan interaksi antara penduduk sekitar dengan etnis keturunan Tionghoa. Interaksi yang demikian menjadikan klenteng itu tetap eksis sampai sekarang ini meski berada nun jauh dari suasana perkotaan besar pada umumnya. *** [260714]

0 komentar:

Posting Komentar