Sabtu, 08 November 2014

Museum Wallacea

Menurut definisi yang diusung oleh International Council of Museum (ICOM), museum adalah lembaga yang tidak mencari kentungan, bersifat permanen yang melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang bertugas mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan dan memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan tak benda beserta lingkungannya, untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan hiburan.
Berdasarkan definisi ini, sesungguhnya museum mengemban tugas melayani masyarakat dan terbuka untuk umum serta mengandung arti pelayanan yang diberikan oleh museum yang berlaku bagi siapa saja. Kunjungan ke museum dengan berbagai alasan seperti untuk melakukan penelitian, untuk belajar, dan untuk bersenang-senang. Tak terkecuali bila Anda mengunjungi Museum Wallacea.


Museum Wallacea terletak di Jalan Mayjen S. Parman, Kelurahan Kemaraya, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi museum ini di lantai empat lingkungan Universitas Haluoleo Program Pascasarjana atau yang dikenal dengan Kampus Abdullah Silondae.
Seperti yang tertulis di dinding dalam museum, disebutkan bahwa inisiator lahirnya Museum Wallacea Universitas Haluuleo (Unhalu) adalah Prof. DR. Ir. Usman Rianse, MS sejak tahun 2009. Beliau adalah seorang Rektor Unhalu yang ingin mengimplementasikan Ilmu Ekonomi Lingkungan dengan Prinsip Hubungan dan Keberlanjutan Antar Generasi atau yang dikenal dengan istilah “Save Our Earth”.


Gagasan ini akhirnya diwujudkan bersama seluruh pusat studi yang ada di Unhalu yang diharapkan dapat menjadi basis peningkatan ilmu pengetahuan tentang keanekaragaman hayati dan budaya, khususnya di lingkungan Unhalu. Selain melestarikan keanekaragaman kebudayaan Sulawesi, Museum Wallacea juga menjadi tempat diabadikannya jurnal-jurnal ilmiah dan merupakan tempat dilestarikannya keanekaragaman organisme air, darat, dan mikroorganisme di sekitar kawasan Sulawesi sampai kepulauan Raja Ampat, Papua. Sehingga, museum ini sesungguhnya hanya akan menyimpan keanekaragaman hayati dan budaya dari wilayah yang dikelilingi garis imajiner yang disebut garis Wallacea.
Garis tersebut dinamakan Wallacea untuk menghormati Alfred Russel Wallace, yang menyadari perbedaan yang jelas pada saat berkunjung ke Hindia Timur pada abad ke-19. Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Kalimantan dan Sulawesi, dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Daerah yang termasuk dalam kawasan Wallacea mulai dari Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kepulauan Maluku sampai Kepulauan Raja Ampat.
Museum yang diresmikan pada hari Jumat, 6 April 2012 memang baru memiliki koleksi sekitar 230 buah namun akan diperbanyak terus koleksinya. Koleksi tersebut disimpan dan dipajang di di lantai empat gedung pascasajana Unhalu. Ruangan museum tersebut terdiri dari sebuah beranda dan lima buah ruang yang masing-masing ruang menyimpan jenis koleksi yang berbeda. Koleksi yang disimpan di museum ini dikelompokkan menjadi koleksi keanekaragaman hayati perairan, keanekaragaman hayati daratan, keanekaragaman hayati mikroorganisme, dan keanekaragaman budaya kawasan Wallacea. *** [081014]

0 komentar:

Posting Komentar