Minggu, 09 November 2014

Kawasan Wisata Ulun Danu Beratan

Senangnya hati ini berkesempatan keliling Bali. Berawal dari adanya hajatan pernikahan seorang teman kantor, terciptalah gagasan menarik dari Kantor Regional Economic Development Instute (REDI) untuk refreshing bagi karyawan-karyawannya, dan gratis pula.
Pada saat di Bali, kita dipandu oleh Event Organizer (EO) dari hotel tempat kita menginap. Sehingga, para karyawan REDI merasa senang dibuatnya. “Dari ketidaktahuan menjadi ketahuan,” kilah salah seorang teman yang duduk di bagian belakang dari Bus Pariwisata yang kita tumpangi.
Tujuan pertama kita di Bali adalah mendatangi hajatan teman yang sedang prosesi pernikahan di daerah Seririt, Kabupaten Buleleng. Sekitar sejam mengikuti prosesi pernikahan teman sekantor, perjalanan dilanjutkan ke Bedugul.
Bedugul adalah salah satu kawasan obyek wisata Bali yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasinya yang berada di dataran tinggi menawarkan geografis perbukitan dengan cuaca yang sejuk, kurang lebih 18C - 22C, menjadikan Bedugul menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup menarik di Bali. Bukan hanya itu, di daerah Bedugul terdapat kawasan wisata yang cukup ramai menjadi destini wisata, yaitu salah satunya adalah Kawasan Wisata Ulun Danu Beratan.


Kawasan Wisata Ulun Danu Beratan terletak di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Denpasar dengan Singaraja. Lokasinya berada di Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Jaraknya kurang lebih 45 km dari pusat kota Kabupaten Tabanan dan 70 km dari Denpasar, Ibu Kota Provinsi Bali.
Sesuai nama kawasan wisatanya, daya tarik utama bagi wisatawan adalah adanya sebuah danau yang dikenal dengan Danau Beratan, atau biasa juga dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Danau Bedugul.


Danau Beratan merupakan salah satu danau di Pulau Bali yang memiliki luas genangan 3,85 km², panjang danau sekitar 7,5 km, lebar 2,0 km, kedalaman maksimum sekitar 20 m serta berada di ketinggian 1.231 m di atas permukaan laut. Volume tamping air Danau Beratan adalah sebesar 49, 22 juta m³ dengan luas daerah tangkapan air seluas 13,40 km² (BPS Provinsi Bali, 2010).
Danau Beratan tergolong danau kaldera dengan sistem perairan yang tertutup (enclosed lake), yang secara alamiah terdapat pada kawasan ekosistem dengan bentuk wilayah yang bergunung pada tingkat kemiringan lereng 30%-60%.
Danau Beratan terbentuk karena adanya aktivitas vulkanik. Konon, Danau Beratan ini awalnya merupakan danau terbesar di Pulau Bali. Akan tetapi ketika terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat pada masa silam, akhirnya Danau Beratan ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Beratan, Tamblingan, dan Buyan. Semenjak itu, Danau Beratan menjadi danau terbesar kedua di Pulau Bali setelah Danau Batur kemudian disusul oleh Danau Buyan.


Nama “Beratan” diambil dari kata “Brata” yang berarti mengendalikan diri dengan menutup Sembilan lubang kehidupan. Kata “Brata” dapat dijumpai dalam istilah “Tapa Brata” yang berarti bersemedi atau bermeditasi untuk mencapai ketenangan agar dapat manunggal dengan alam dan berkomunikasi dengan Yang Maha Gaib.
Istilah tersebut menjadi signifikan, setelah menyaksikan bahwa di tepi Danau Beratan berdiri sebuah bangunan pura yang digunakan oleh umat Hindu untuk melakukan peribadatannya. Pura tersebut dikenal dengan Pura Ulun Danu Beratan. Pura ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat bersemayamnya Sang Hyang Dewi Danu atau Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, sehingga pura ini didirikan untuk memuja Dewi Danu. “Danu” sendiri adalah bahasa lokal Bali yang berarti “Danau”. Pura ini biasa digunakan oleh masyarakat Bali sebagai tempat menghaturkan sesaji atau bersemedi.
Berdasarkan Lontar Babad Mengwi, Pura Ulun Danu Beratan dibangun pada tahun 1556 Çaka (1634 M) oleh I Gusti Agung Putu yang bergelar I Gusti Agung Sakti. Namun ada juga yang meragukan dengan tahun pendirian tersebut. Hal ini disebabkan dengan ditemukannya sebuah sarkofagus dan papan batu yang berada di sebelah kiri halaman depan pura tersebut yang diperkirakan berasal dari kebudayaan megalitik sekitar tahun 500 M. Akan tetapi, yang jelas pura ini sudah berumur ratusan tahun lebih.
Pura Ulun Danu Beratan terdiri dari 4 bangunan suci, yaitu: Pura Lingga Petak dengan 3 tingkat meru sebagai tempat pemujaan bagi Dewa Siwa, Pura Penataan Puncak Mangu dengan 11 tingkat meru sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu, Pura Terate Bang sebagai pura utama, dan Pura Dalem Purwa sebagai tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Trimurti guna memohon kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan.
Selain itu, pengunjung Kawasan Wisata Ulun Danu Beratan bisa berkeliling sejenak dengan menggunakan boat yang tersedia di kawasan tersebut. Sensasi lainnya, adalah adanya taman yang melingkungi kawasan tersebut sehingga pengunjung bisa betah berlama-lama di kawasan ini sambil bercengkerama dengan teman dan keluarga. *** [111004]

0 komentar:

Posting Komentar