Senin, 01 Desember 2014

Klenteng Tri Dharma Bumi Raya

Kalau Bali terkenal dengan Pulau Seribu Pura, Lombok dengan Pulau Seribu Masjid, maka Singkawang dikenal oleh para pelancong sebagai Kota Seribu Klenteng. Singkawang yang memiliki luas 50.400 hektar dengan jarak sekitar 147 km dari Ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak, sepanjang jalan menuju Kota Singkawang pasti akan menemukan banyak kuil khas Tionghoa, atau yang dikenal dengan klenteng/vihara. Salah satunya adalah Klenteng Tri Dharma Bumi Raya.
Klenteng Tri Dharma Bumi Raya terletak di Jalan Sejahtera, Kelurahan Condong, Kecamatan Singkawang Tengah, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi klenteng ini berdekatan dengan Hotel Khatulistiwa I serta Hotel Putra Kalbar I, dan tidak terlalu jauh dengan Masjid Raya Singkawang.
Awalnya, klenteng ini hanyalah pondok sederhana yang dibangun pada tahun 1878 sebagai tempat singgah orang Tionghoa yang ingin menambang emas di Monterado (sekarang Kabupaten Bengkayang). Di tempat ini, mereka terkadang melakukan peribadatan seadanya. Karena pada waktu itu, di Singkawang masih berupa hutan belantara, maka mereka dalam peribadatan cenderung memuliakan Dewa Bumi Raya (Tua Peh Kong).


Kemudian datanglah seorang yang menguasai ritual keagamaan dari Tiongkok bernama Lie Shie dengan membawa patung Dewa Bumi Raya dari daratan Tiongkok. Pondok yang sederhana tadi akhirnya dirobohkan, dan dibangun klenteng yang lebih permanen pada tahun 1920. Tetapi sayang, pada tahun 1930 klenteng tersebut mengalami kebakaran yang mengakibatkan klenteng tersebut ludes dilalap si jago merah. Selang tiga tahun, klenteng tersebut kemudian dibangun kembali.
Mulanya pembangunan kembali klenteng tersebut dilarang oleh Asisten Residen Pemerintahan Kolonial Belanda di Singkawang kala itu karena letak klenteng dianggap tidak sesuai dengan tata kota.  Konon, istri Asisten Residen tersebut kemudian bermimpi didatangi Tua Peh Kong selama tiga malam berturut-turut meminta kepada istri Asisten Residen agar Tua Peh Kong dikembalikan ke tempatnya semula agar tetap bisa menjaga Kota Singkawang tetap aman dan tentram. Setelah kejadian itu, Asisten Residen tersebut bersedia memberikan izin.
Seperti bangunan khas Tionghoa, klenteng ini juga didominasi warna merah, dan dihiasi oleh ornamen-ornamen khas bangunan Tiongkok pada umumnya, seperti naga dan patung berbentuk singa. Di bagian tengah dalam klenteng ini terdapat patung Dewa Bumi Raya yang di samping kiri dan kanannya berdiri patung Dewa Kok Sin Bong dan Dewa On Chi Siu Bong. Sementara di bagian tengah atas teradapat patung Sang Buddha Gautama.
Klenteng Tri Dharma Bumi Raya sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma ini diyakini sebagai klenteng tertua di Kota Singkawang, sehingga mengacu pada nilai kesejarahannya, oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, klenteng ini ditetapkan sebagai cagar budaya dengan Registrasi Daerah Nomor: 6172/S/0002, dan bangunan ini dilindungi oleh UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. ***

0 komentar:

Posting Komentar