Rabu, 28 Januari 2015

Wisma Diponegoro 2 Magelang

Magelang merupakan salah satu kota yang ditetapkan sebagai kota garnizun pada masa Hindia Belanda selain Malang dan Cimahi. Sebagai kota garnizun, Magelang memiliki banyak bangunan yang berhubungan dengan keberadaan militer pada waktu itu. Tidak hanya berupa barak saja namun juga fasilitas pendukung lainnya. Salah satunya adalah Wisma Diponegoro 2.
Wisma Diponegoro 2 terletak di Jalan Ahmad Yani No. 6 Kampung Poncol, Kelurahan Gelangan, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi wisma ini berada tidak jauh dari kompleks RINDAM IV Diponegoro.


Dulu, Wisma Diponegoro 2 ini merupakan rumah dinas yang diperuntukkan bagi pejabat militer Hindia Belanda di Magelang, yang dibangun pada tahun 1920. Dalam sejumlah literatur lawas, menyebutkan bahwa Dr. Johan Woutar Bijleveld bersama keluarga pernah tinggal di rumah pejabat ini (het huis van de familie J.W. Bijleveld). J.W. Bijleveld adalah seorang kolonel yang bertugas di bagian pelayanan medis militer, dan pernah bertugas di Militair Hospitaal Magelang (kini bernama Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono). Istrinya bernama Reina Hendrika Wilhelmina Helena Visser, dan berprofesi sebagai dokter gigi.


Rumah dinas ini memiliki luas bangunan 450 m² di atas lahan seluas 1.200 m². Dengan gaya arsitektur Indische Empire ini, bangunan ini terlihat kokoh dan mempesona. Arsitektur Indische Empire adalah gaya arsitektur yang berkembang pada abad ke 19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) yang diadopsi dari gaya Empire di Perancis yang kemudian disesuaikan dengan iklim dan gaya hidup di Hindia Belanda. Kekhasan gaya arsitektur ini bisa dilihat dari denahnya yang berbentuk simetri penuh. Di tengah terdapat apa yang disebut sebagai “Central Room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central Room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (Voor Galerij dan Achter Galerij). Teras tersebut biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani atau Romawi. Kamar mandi, gudang dan daerah layanan lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada di bagian belakang. Kadang-kadang di samping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Kalau rumah tersebut berskala besar biasanya terletak pada sebidang tanah yang luas dengan kebun di depan, samping dan belakang. Gaya arsitektur Indische Empire, atau yang dikenal juga dengan The Dutch Colonial ini mulai menghilang pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda.
Seiring perjalanan sang waktu, rumah dinas masa Hindia Belanda ini pernah menjadi guest house. Kemudian dilakukan pemugaran, dan  difungsikan menjadi Wisma Diponegoro 2 yang diresmikan pada hari Sabtu, 4 April 1998 oleh Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, Mayor Jenderal Mardiyanto. Sehingga, sekarang ini tidak hanya untuk menginap bagi tamu-tamu militer tapi juga bisa digunakan untuk wedding party bagi masyarakat umum dengan menawarkan nuansa kolonial yang memorable. *** [201215]

Kepustakaan:
Handinoto, 2008. Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19, dalam Journal DIMENSI Vol. 36 No. 1 Juli 2008
http://media-kitlv.nl/image/7efbbc1a-793b-4ba7-b230-e47da3177af9

2 komentar:

  1. Lestarikan bangunan kuno
    numpang share lokasi Wisma Diponegoro 2
    http://lokanesia.com/lokasi/wisma-diponegoro-2-a-yani-magelang/

    BalasHapus
  2. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus