Selasa, 21 April 2015

Bank Indonesia Banda Aceh

Menyusuri tepian Krueng Aceh dari Jalan Supratman menuju Jalan Diponegoro, Anda menyaksikan sebuah bangunan kuno yang megah dengan warna dominan putih. Bangunan kuno tersebut tak lain adalah Gedung Bank Indonesia Banda Aceh. Gedung Bank Indonesia merupakan salah satu gedung peninggalan Belanda yang masih ada di Banda Aceh.
Gedung Bank Indonesia tersebut berada di Jalan Cut Meutia No. 15 Kelurahan Merduati, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi gedung Bank Indonesia ini berada di sebelah barat Hotel Lading Banda Aceh.
Menurut catatan sejarah yang ada, dulunya gedung BI ini merupakan gedung De Javasche Bank  yang dibangun pada 2 Desember 1918 oleh Pemerintah Hindia Belanda atas hasil rancangan biro arsitek terkemuka di Hindia Belanda, N.V. Architecten-Ingenieurs Bureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cuypers (1859-1927) dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.


De Javasche Bank sendiri, awalnya didirikan di Amsterdam, Belanda, pada 29 Desember 1826 atas prakarsa Raja Belanda kala itu, yaitu Raja Willem I. Namun, baru beroperasi sebagai bank dalam pengertian sesungguhnya pada 24 Januari 1828 melalui Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda No. 25. Kemudian, kantor pertama De Javasche Bank di Hindia Belanda didirikan di Semarang pada 1 Maret 1829. Baru disusul daerah lainnya, seperti: Batavia, Surabaya, Bandung,  Cirebon, Yogyakarta, Solo, Kediri, Malang, Surabaya, Manado, Padang, dan Banda Aceh.
Bangunan De Javasche Bank pada umumnya memiliki kemiripan dari desain gedungnya. Hal ini bisa dimaklumi karena hasil rancangan yang digunakan, hampir semuanya ditangani oleh biro arsitek yang sama. Ciri khas gedung De Javasche Bank yang dirancang oleh biro arsitek ini dapat dilihat dari penggunaan balustrade, barisan horisontal dari tiang-tiang yang disatukan dengan penghubung berupa kayu atau bahan lain di atap bangunan. Di bagian tengah atap terdapat cupola yang cukup besar yang diberi jendela kaca di keempat sisi.
Gedung yang menggunakan langgam Neo-Klasik yang telah diselaraskan dengan iklim tropis ini, jendela hadir bukan sebagai pelengkap saja. Akan tetapi, malah ikut mempengaruhi penampilan bangunan. Dari luar gedung, orang melihat sebuah jendela tampil sebagai elemen estestis sebuah bangunan. Sedangkan dari dalam bangunan, jendela yang pada waktu dibuka akan memberikan visual kepada orang yang berada di dalam bangunan dalam menatap keluar jendela.


Pada masa pendudukan Jepang, bangunan De Javasche Bank ini sempat ditutup oleh Jepang pada 20 Oktober 1942. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, De Javasche Bank sempat vakum. Akhirnya, De Javasche Bank dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 1951 menjadi Bnak Indonesia Setelah menjadi Bank Sentral, keberadaannya diatur dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 1953 tentang Undang-Undang Pokok Bank Indonesia. Pada 2 Maret 1964, Kantor Bank Indonesia Banda Aceh dibuka kembali dengan menempati gedung De Javasche Bank tersebut. Namun, pada 26 Desember 2004, bangunan gedung Bank Indonesia Banda Aceh ini mengalami kerusakan yang cukup parah akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh. Akibatnya, operasional Kantor Bank Indonesia Banda Aceh terpaksa dipindahkan sementara ke salah satu rumah dinas Bank Indonesia yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No. 82 Banda Aceh. Pemindahan ini untuk menunjang kelancaran pelayanan Kantor Bank Indonesia kepada masyarakat sambil menunggu selesainya renovasi yang dilakukan terhadap gedung Kantor Bank Indonesia yang berada di Jalan Cut Meutia No. 15 Banda Aceh tersebut. Pada tahun 2007, setelah renovasi gedung Kantor Bank Indonesia tersebut selesai, kegiatan operasional Kantor bank Indonesia kembali dipindahkan ke tempat semula.
Dalam pelaksanaan renovasi ini, telah dilakukan upaya untuk mengembalikan bangunan ke bentul awal rumah dengan mempertahankan dan mengganti bagian-bagian bangunan yang rusak serta upaya lainnya agar sesuai dengan kondisi sebelumnya sehingga bangunan gedung Kantor Bank Indonesia Banda Aceh menjadi utuh dan indah. *** [300315]



0 komentar:

Posting Komentar