Jumat, 01 Mei 2015

Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya berupa mahkota besi yang tinggi berbentuk stupa dibuat pada 1409 M. Tingginya mencapai 125 cm, lebar 75 cm. Di bagian luar terukir hiasan dan tulisan Arab juga Tiongkok. Tulisan Arab sudah kabur dimakan usia sedangkan aksara Tiongkok (Hanzi) tertulis Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo yang diartikan “Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5.”
Lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar Tiongkok yang berkuasa di Tiongkok sekitar abad ke 15 kepada Kerajaan Samudera Pasai. Lonceng yang dihadiahkan oleh Kaisar Tiongkot tersebut dibawa ke Aceh oleh Laksamana Cheng Ho sekitar 1414 M, sebagai simbol persahabatan kedua negara. Kong Yuanzhi dalam “Muslim Tionghoa, Cheng Ho” (2000) menyebutkan bahwa beberapa waktu setelah Kerajaan Samudera Pasai menerima hadiah lonceng Cakra Donya, kemudian Raja Zainul Abidin mengirimkan adiknya sebagai utusan untuk berkunjung ke Tiongkok. Tidak terduga ia wafat di Tiongkok akibat sakit keras. Berhubungan dengan ini, Kaisar Ming mengadakan upacara penguburan yang khidmat untuk tamu agung dari Aceh itu.
Selain pusat Kerajaan Islam di Nusantara, Pasai kala itu dikenal sebagai kota pelabuhan yang maju dan terbuka. Banyak pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan Gujarat India berbisnis di sana serta menyebarkan Islam. Pasai juga mengekspor rempah-rempah ke berbagai negara, salah satunya Tiongkok.


Kerajaan Pasai berpusat di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara sekarang. Sayang kejayaan Pasai kini hanya bisa didapat dalam catatan-catatan sejarah Pasai ditaklukkan Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 M, lonceng dari Tiongkok ini pun dijadikan milik Kerajaan Aceh.
Ketika Sultan Iskandar Muda memimpin (1607-1636) yang merupakan puncak kejayaan Kerajaan Aceh, lonceng ini digantung di kapal perang induk milik kerajaan yang bernama Cakra Donya. Nama itulah akhirnya ditabalkan pada lonceng.


Ketika melawan Portugis yang ingin merebut Malaka, lonceng Cakra Donya menjadi alat penabuh aba-aba bagi pasukan perang di dalam kapal. Portugis yang kagum dengan kekuatan Cakra Donya menyebut armada tersebut dengan Espanto de Mundo yang artinya “Teror Dunia.”
Dari kapal perang, lonceng Cakra Donya berpindah tempat ke depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Masjid ini masuk dalam kompleks Istana Raja Aceh kala itu. Lonceng dibunyikan apabila penghuni istana harus berkumpul untuk mendengar pengumuman Sultan.
Pada 1915, lonceng Cakra Donya dipindah ke Museum Negeri Aceh dan bertahan di sana sampai sekarang. Digantung dengan rantai di bawah kubah. Lonceng Cakra Donya kini menjadi saksi bisu persahabatan dan perang Cheng Ho dan lonceng Cakra Donya adalah simbol hubungan dekat Aceh-Tiongkok.
Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri Tiongkok, Hang Li Po (atau Hang Liu), dikirim oleh Kaisar Tiongkok untuk menikahi Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).
Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa “Cakra Donya” kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di Museum Negeri Aceh. Lonceng Cakra Donya merupakan bukti jejak kedatangan bangsa Tionghoa di Nusantara adalah saksi bisu kuatya armada militer Kerajaan Aceh Darussalam di masa jayanya. *** [020415]


1 komentar:

  1. .Sungguh menakjubkam dan betapa megah nya negri Aceh waktu itu..

    BalasHapus