Senin, 14 September 2015

GPIB Jemaat Marga Mulya Yogyakarta

Melanjutkan langkah ke arah selatan usai menyaksikan Jogja Library Center dan Apotek Kimia Farma II, bertemulah sebuah gereja Protestan yang tergolong bangunan kuno yang ada di kawasan Malioboro. Gereja tersebut bernama Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Marga Mulya Yogyakarta.
GPIB ini terletak di Jalan Ahmad Yani No. 5 Kampung Beskalan RT. 05 RW. 02, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi GPIB ini tepat berada di pojok jalan, pertemuan antara Jalan Reksobayan (dulu dikenal dengan Kantoorlaan) dan Jalan Ahmad Yani (dulu merupakan Residentielaan). Gereja menghadap ke timur atau Pasar Beringharjo dan berada di sebelah utara Gedung Agung.
Pada waktu Belanda menguasai Nusantara, konsolidasi atas penduduk yang sudah beragama Kristen pada zaman Portugis dan Spanyol, diambilalih oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1800-an. Pengambilalihan ini menyebabkan perkembangan agama Kristen Protestan semakin meluas, sampai ke seluruh penjuru Nusantara, termasuk di antaranya di daerah Yogyakarta. Semula untuk memfasilitasi jemaat yang pada umumnya orang-orang Belanda yang bertugas di benteng Vredeburg, pemerintah Hindia Belanda mendirikan De Protestantse Gemeente van Djokjakarta (sekarang bernama GPIB Jemaat Marga Mulya Yogyakarta).
Sebelumnya, jemaatnya melakukan ibadah di gedung sekolah milik pemerintah. Akan tetapi, lama kelamaan daya tampung sekolah tersebut sudah tidak mampu menampung jemaat yang jumlahnya semakin bertambah dan disadari perlunya membangun sebuah gereja.


Sejak 24 Januari 1857, kebaktian-kebaktian gereja tidak lagi diselenggarakan di gedung sekolah akan tetapi diselenggarakan di Balai Karesidenan. Pada waktu itu jemaat telah memiliki pendeta, yaitu Ds. C.G.S. Begemann, sebagai pendeta pertama yang didatangkan ke Yogyakarta. Pada saat itu, pembangunan gedung gereja telah dimulai dan ditangani serius.
Dari data sejarah diketahui bahwa bangunan gereja ini diresmikan dan diberkati sebagai tempat ibadah pada hari Minggu tanggal 11 Oktober 1857 oleh Ds. C.G.S. Begemann, pada masa Brest van Kempen sebagai residennya. Desain bangunan gereja ini merupakan hasil rancangan Ir. P.A. Van Holm, dan pengerjaannya dipimpin oleh Opster G.R. Lavalette dari Semarang.
Kemudian pada hari Senin tanggal 10 Juni 1867, gedung gereja runtuh karena dilanda gempa bumi sehingga bangunan yang berdiri sekarang ini bentuknya telah berbeda dengan bangunan aslinya.
Gereja ini memiliki luas bangunan 415 m² di atas lahan seluas 745 m², berdenah persegi panjang dan bentuk bangunannya merupakan perpaduan antara bentuk seni bangunan Belanda dan rumah tinggal tradisional.
Pada tahun 1882, gereja mengalami perbaikan untuk pertama kalinya berupa penggantian atap, dari genteng diganti menjadi seng. Sengnya berbentuk melengkung, pada bagian atap terdapat jendela kecil di atas kemiringan atap sebagai ventilasi udara. Bangunan gereja ini terdiri dari ruang depan, ruang utama, dan ruang konsistor.
Untuk memasuki ruang utama terdapat tulisan ik ben het brood des levens (aku adalah roti kehidupan) di kanan mimbar, die in my gelooft heet eeuwige leven (yang percaya kepada Ku memperoleh kehidupan yang kekal) di atas mimbar, dan hoort naar mjin stem (dengarkanlah suara Ku) di kiri mimbar.
Sejak berdiri hingga kini, bangunan ini digunakan sebagai sarana ibadah umat Kristiani, dan sesuai Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Menbudparri) Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007 bangunan GPIB Marga Mulya ini ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya. *** [160815]

Kepustakaan:
Chr. G.F. de Jong, 2014. Voorlopig overzicht van Nederlands kerkelijk erfgoed in Indonesië uit de periode 1815-1942, dalam www.cgfdejong.nl
www.gpibmargamulya.org
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1758/gereja-protestan-marga-mulya

0 komentar:

Posting Komentar