Kamis, 10 September 2015

Kawasan Malioboro Yogyakarta

Jika pergi ke Yogyakarta, pasti Anda akan disarankan untuk berkunjung ke Malioboro. Rasanya belum lengkap jika ke Yogyakarta tanpa melihat Malioboro. Bermula dari nama Jalan Malioboro yang tidak begitu panjang, kawasan ini kemudian berkembang menjadi sebuah kawasan yang sekarang dikenal dengan Kawasan Malioboro Yogyakarta. Kawasan Malioboro yang berintikan Jalan Malioboro ini sesungguhnya merupakan kawasan yang terbentuk di atas garis imajiner yang menghubungkan Kraton Kesultanan Yogyakarta, Tugu Pal Putih dan puncak Gunung Merapi.
Kawasan Malioboro ini membentang dari Stasiun Tugu di sebelah utara menuju ke selatan hingga perempatan Pangurakan. Sedangkan, di sebelah timur membentang sampai Sungai Code, dan di sebelah barat sampai Jalan Yogya-Magelang.
Pada siang hari, ruas Jalan Malioboro dipadati oleh wisatawan Nusantara maupun mancanegara. Banyak pelancong yang menghabiskan waktu di Yogyakarta untuk menyusuri sebuah jalan legendaris yang menjadi ikon Kota Yogyakarta dengan kehidupan kontras antara siang dan malamnya. Siang hari, di sekitar Jalan Malioboro dijejali dengan lapak-lapak penjaja souvenir khas Yogyakarta yang berada di depan deretan pertokoan.
Sebaliknya, pada malam hari, Malioboro menjadi kawasan wisata kuliner yang dipenuhi aroma berbagai sajian masakan yang menggugah selera yang terhampar di tikar-tikar warung lesehan dengan menu khas Yogyakarta, seperti gudeg, bakmi Jawa, dan lain-lain. Keriuhan suasana lesehan Malioboro akan disambut dengan alunan sejumlah pengamen yang melantunkan tembang-tembang secara silih berganti.
Menurut P.B.R. Carey, seorang sejarawan Inggris yang menggeluti sejarah Indonesia, kata Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta, Malyabhara, yang bermakna karangan bunga. Menurut historisnya, kawasan Malioboro ini dikembangkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) I pada tahun 1758 atau selang dua tahun kratonnya dibangun. Semula kawasan Malioboro ini masih berujud hutan yang banya ditumbuhi pepohonan beringin (Ficus benjamina), lalu ditata sebagai sumbu imajiner utara-selatan yang berkorelasi dengan Kraton Yogyakarta ke Gunung Merapi di seblah utara dan laut Selatan sebagai simbol supranatural dalam konsep kota di Jawa. Konsep filosofis ini kemudian diwujudkan dalam bentuk jalan yang membentang dan membelah kawasan Malioboro tersebut. Seiring itu pula, Sultan HB I membangun sarana perdagangan melalui pasar tradisional berupa deretan lapak-lapak saja, sehingga kawasan tersebut akhirnya menjadi ramai. Konon, setiap Kraton Yogyakarta mempunyai hajat dengan mengadakan acara besar, di sepanjang jalan yang sekarang menjadi Jalan Malioboro tersebut akan dipenuhi bunga-bunga untuk memeriahkan atau berpartisipasi kepada acara yang dihelat oleh Sultan. Dari daya tarik karangan bunga tersebut, kawasan tersebut akhirnya dikenal dengan Malioboro.
Pada waktu orang Belanda menguasai Yogyakarta di era kolonial (1756-1945), penguasa Hindia Belanda melirik kawasan Malioboro untuk membangun sejumlah fasilitas di kawasan tersebut guna menunjang keperluan pemerintah Hindia Belanda maupun orang-orang Belanda yang bermukim di Yogyakarta. Pada waktu itu masih bermukim di dalam Benteng Vredeburg (1756) bersamaan dengan berdirinya Kraton Yogyakarta. Maka dibangunlah di seputar Benteng Vredeburg tersebut sejumlah bangunan fasilitas publik untuk mendukung keberadaan permukiman Belanda tersebut, seperti Resident Woning, Kerk van Protestantse Gemeente, Post en Telegraafkantoor, De Javasche Bank, Stasion Toegoe, Nill Maatschappij, Pasar Beringharjo, Loge van Mataram, Grand Hotel te Djokja, dan sejumlah pertokoan di kiri kanan Jalan Malioboro.
Kini, kawasan Malioboro menjadi pusat kawasan wisatawan terbesar di Yogyakarta, dengan sejarah arsitektur kolonial Belanda yang bercampur dengan kawasan komersial Tionghoa dan kontemporer. Berkunjung ke Malioboro, sekaligus bisa mengunjungi daerah wisata lainnya yang berdekatan, seperti Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman. *** [160815]

0 komentar:

Posting Komentar