Selasa, 29 Desember 2015

Klenteng Tjoe An Kiong Lasem

Satu lagi klenteng tua yang berada di Lasem yang akan saya kunjungi setelah Klenteng Gie Yong Bio dan Klenteng Poo An Bio. Klenteng ketiga ini berada tak jauh dari jalan Pantai Utara (Pantura) Rembang, dan merupakan klenteng yang tertua yang berada di Lasem. Namanya adalah Klenteng Tjoe An Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Dasun No. 19 Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di sebelah utara rumah kuno Lawang Ombo atau sebelah timur Sungai Lasem.
Banyak orangtua setempat mengatakan bahwa klenteng ini sudah ada sejak abad ke-15, tapi tidak ada bukti tertulis mengenai hal itu. Hilangnya bukti awal pendirian sebuah klenteng disebabkan karena klenteng (terutama di daerah pantai utara Jawa) sering mengalami berbagai peristiwa ‘jatuh bangun’, akibat pertikaian sosial. Sehingga sebuah klenteng sering rusak atau dirobohkan kemudian dibangun kembali setelah keadaan memungkinkan.
Pada prasasti yang tertua (inskripsi dari batu) di dalam klenteng tersebut dijelaskan bahwa pada tahun 1838, atas prakarsa dari Kapitein Lin Changling diadakan perbaikan bangunan atas klenteng tersebut. Pada batu peringatan tersebut tercantum nama 105 orang penyumbang.


Pada waktu akan memasuki klenteng, pengunjung akan melewati halaman klenteng yang cukup luas yang sudah dipasangi paving block. Menoleh ke kanan sebentar, pengunjung akan menjumpai sebuah menara yang terbuat dari tiang besi (kie kwa) yang dulu berfungsi sebagai penunjuk arah bagi para nelayan. Lalu, searah mata memandang saat masuk halaman klenteng, ada gapura besar atau shan men yang menjadi pintu masuk ke bangunan klenteng. Ragam ornamen khas Tiongkok menghiasi gapura, seperti dua buah naga (xing long) yang saling berhadapan dengan huo zhu, mutiara Buddha berbentuk bola api, di antara kedua naga tersebut. Pada balok pintu gerbang tersebut tertulis nama klenteng dalam aksara Tionghoa, sedangkan pada kedua kolomnya bertuliskan puji-pujian yang diperuntukkan bagi Mak Co atau Thian Siang Sing Bo (dewi utama yang dipuja di klenteng tersebut). Di depan gapura terdapat dua patung singa berwarna emas bergaya Barat dan dua tokoh yang masing-masing membawa senjata dan seolah menjadi penjaga klenteng. Gapura atau pintu gerbang ini didirikan atas prakarsa dari Kapitein Oei Ek Thay pada tahun 1922, kemudian diperbaiki lagi pada tahun 1950 dan awal tahun 1960-an.
Melangkah masuk lagi, pengunjung akan melewati halaman bangunan utama klenteng. Bangunan utama klenteng ini juga berornamen seperti pada gapura, bedanya terletak pada huo zhu. Huo zhu pada gapura dikelilingi oleh api, sehingga membentuk bola api. Sedangkan, huo zhu yang ada di atas atap bangunan utama klenteng berada di atas kie lin. Kie lin adalah makhluk yang dianggap melambangkan nasib baik, kebesaran hati, panjang umur dan kebijaksanaan. Kie lin bertanduk satu menurut legenda, mampu berjalan di atas air dan mempunyai kepala yang mirip dengan naga, berbadan rusa, bersurai, dan ekor seperti harimau.
Sebelum masuk melewati pintu utama akan dijumpai hiolo (tempat untuk menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Kemudian memasuki ruang tengah, pengunjung akan melihat deret lukisan tinta di atas keramik. Lukisan itu ditempel di dinding di kanan kiri ruangan, mulai dari bawah hingga ke langit-langit. Konon, tinta yang digunakan untuk membuat lukisan ini didatangkan langsung dari Tiongkok.
Altar utama di klenteng ini dipersembahkan kepada Mak Co atau Thian Siang Sing Bo atau Dewi Laut. Selain itu, pada altar utama juga terdapat Kwan Im Po Sat di sisi kanan. Kwan Im Po Sat Avalokitesvara Bodhisatva dikenal juga sebagai Dewi Welas Asih. Di samping itu di Klenteng Tjoe An Kiong ini juga altar untuk pemujaan kepada Confucius dan Dewa Bumi dan Kekayaan, Hok Tek Ceng Sin. Pada ruang samping dari klenteng ini ada joli yang konon merupakan joli yang terindah di Jawa. Pada pesta hari raya besar, patung Dewi Laut yang dinaikkan joli sering diarak keliling kota Lasem yang kemudian di bawa ke Klenteng Poo An Bio di Karang Turi VII/13-15, untuk kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula.
Di seberang klenteng ini mengalir Sungai Lasem yang bermuara ke Laut Jawa. Dulu, di sungai ini terdapat dermaga tempat para saudagar dari Tiongkok mendarat menggunakan perahu kecil. Konon, Laksamana Cheng Ho juga pernah mendarat di dermaga tepat di depan klenteng ini. Kini, meski tak bersisa tanda-tanda keberadaan dermaga, sungai tersebut masih digunakan sebagai tempat mencari ikan. *** [131215]

Kepustakaan:
http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/LASEM.pdf
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/berwisata-ke-kelenteng-Tjoe-an-kiong-di-tiongkok-kecil#

0 komentar:

Posting Komentar