Kamis, 03 Desember 2015

Pantai Kuta Bali

Tiga kali sudah saya mengunjungi pantai ini. Tapi baru kunjungan yang ketiga ini yang memberi makna tersendiri. Agenda monitoring ke Manggarai Timur, mengharuskan kami transit semalam di Bali. Dalam transit itu, saya yang berkesempatan mendampingi seorang Data Specialist dari Lembaga Donor mendapat ‘keberuntungan’ yang tak terbayangkan sebelumnya. Saya diajak menginap di jantung pariwisata di Pulau Bali, tepatnya di Melasti Kuta Bungalows and Spa yang berada di Jalan Dewi Sartika, Kuta-Bali.
Laksana sinetron, ceritanya pun bisa ditebak. Di Bali, kami bisa berlama-lama dan memanjakan diri di sebuah pantai yang kondang sejagat itu. Pantai Kuta namanya! Dinamakan demikian karena lokasi pantai ini awalnya bermula ada di Kelurahan Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Secara geografis, Pantai Kuta yang mempunyai panjang sekitar 1.500 meter ini berada di Teluk Kuta sehingga garis pantainya pun berbentuk bulan sabit. Pesona garis pantai yang panjang melengkung dengan hamparan pasir putih yang lembut, sangat digemari oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke sini.
Sebelum menjadi objek wisata yang mendunia, Kuta merupakan pelabuhan kecil yang dihuni oleh para nelayan. Pada tahun 1839 Mads Johansen Lange, seorang pedagang berkebangsaan Denmark, pernah mendarat di pelabuhan kecil tersebut. Lange lahir di Rutkøbing pada 18 September 1807. Rutkøbing adalah sebuah kota kecil yang berada di Pulau Langeland, Denmark, yang terletak antara Sabuk Besar dan Teluk Kiel.


Mads Lange pertama kali berlayar pada umur 18 tahun. Awalnya, Lange mengembangkan usaha dagangnya di Lombok bersama rekannya seorang Inggris kelahiran Denmark, John Burd. Pada perkembangan selanjutnya, Lange menetap di Tanjung Karang, sebuah pelabuhan di sebelah selatan Ampenan, sedangkan John Burd menetap di Canton (Tiongkok) atau Hongkong.
Dalam pengembangan usahanya di Lombok, Lange menjadi saingan berat George Peacock King, seorang pedagang Inggris. Karena ambisinya yang besar untuk memonopoli perdagangan di Ampenan, King diusir dari Lombok dan menetap di Kuta (Bali). Beberapa bulan kemudian King kembali lagi ke Lombok dan menempatkan dirinya di bawah perlindungan Raja Mataram-Lombok. Sementara Lange mendapat perlindungan dari Raja Karangasem-Lombok. Persaingan kedua pedagang ini, akhirnya menimbulkan peperangan di antara kedua kerajaan tersebut. Peperangan ini dimenangkan oleh Kerajaan Mataram-Lombok, sehingga Mads Lange pun akhirnya terusir dari Lombok.
Karena diusir dari Lombok, Lange dengan kapal dagang kecilnya, Venus, mendarat di Pelabuhan Kuta. Di daerah inilah dia kemudian mengembangkan kembali usahanya. Berkat kepiawaiannya dalam bergaul di semua kalangan, baik dengan penduduk lokal, raja-raja di Bali maupun orang Belanda, menyebabkan usaha dagangnya berkembang dengan cepat, dan diangkat sebagai syahbandar. Dia juga menikahi dua orang wanita Bali, yaitu Nyai Kenyer dan Ong San Nio, seorang wanita Tionghoa Bali.
Kepercayaan yang diberikan oleh Raja Kesiman, seorang Raja Badung, dan petinggi Belanda di Bali pada waktu itu, menjadikan Lange berhasil menjadi juru damai. Atas usahanya, Lange dapat mempertemukan Bali dan Belanda di meja perundingan. Setelah penandatangan perjanjian tersebut, diadakan pesta besar di rumah Lange yang dihadiri oleh 30.000 orang. Berkat usahanya inilah, Lange dianugerahi Orde Singa Belanda (Knight of Nederlandse Leeuw) oleh Pemerintah Hindia Belanda dan menerima medali emas (Danish Gold Medal) dari Pemerintah Denmark atas pencapaiannya.
Pada tahun 1856, Lange sakit dan kemudian meninggal sebelum keinginannya untuk pulang ke Denmark kesampaian. Dia dikuburkan di dekat rumahnya yang dapat terlihat  dari jalan Bypass Ngurah Rai yang menghubungkan Kuta-Sanur. Atas jasanya, Kuta berkembang sebagai kawasan perdagangan internasional pada awal abad ke-19.
Perkembangan ini tidak berjalan lama, karena pada waktu itu situasi politik Bali mengalami instabilitas. Hal ini disebabkan oleh adanya peperangan antar kerajaan yang ada di Bali akibat hasutan dari pihak imperialis Belanda. Bahkan, perang tersebut akhirnya merembet ke perang antara kerajaan yang ada di Bali dengan pihak kolonial Belanda. Kondisi ini tentunya membuat perekonomian pun turut memburuk akibat beberapa perang tersebut.


Beruntunglah, Bali memiliki keunikan budaya, keindahan alam, dan keramahtamahan penduduknya yang menjadikan Bali dapat berkembang menjadi destinasi wisata. Awalnya, Bali dikonotasikan dengan Paradise Island. Akan tetapi, bila ditinjau jauh ke belakang, sebutan itu sebetulnya bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit ataupun diambil dari bawah. Bagaimanapun, Paradise Island adalah citra yang awalnya dikonstruksi pemerintah kolonial Belanda untuk menarik minat orang-orang Eropa agar berkunjung ke Bali. Dengan kata lain, genealogi pariwisata massal di Bali bisa ditelusuri dari zaman kolonial Belanda. Selanjutnya, ini kemudian diteruskan Presiden Soekarno dan Soeharto dengan pencitraan plus kepentingannya masing-masing.
Sejak pencitraan Paradise Island itu tercipta pada 1906, dan semakin menguat pada 1927, brosur, pamflet, dan majalah panduan pariwisata, tak henti-henti mencitrakan Bali (manusia, budaya, dan alamnya). Belanda kemudian, melalui tur pelayaran KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang mengangkut turis-turis Eropa, menjadikan Bali sebagai destinasi. Meski perlu ditegaskan, awalnya KPM sama sekali tidak menyentuh Bali mengingat citranya sebelum sekali tidak menyentuh Bali mengingat citranya sebelum 1906 masih sangat menyeramkan.
Namun seiring perjalanan waktu, Bali mulai dikenal oleh wisatawan. Keindahan dan keelokan Pantai Kuta awalnya ditemukan oleh sekelompok wisatawan mancanegara yang mengunjungi Pulau Bali sekitar tahun 1960-an. Pada waktu itu, masyarakat masih kuat dengan budaya aslinya dan hidup sederhana yang sangat berbeda dengan budaya atau kebiasaan para wisatawan mancanegara yang kebetulan adalah bule hippies. Penduduk umumnya bekerja sebagai nelayan, bertani atau berkebun. Kuta pada masa itu masih dipenuhi semak belukar, pohon kelapa, ketapang, dan pandan duri. Selain itu, juga masih terrkenal angker, banyak leak, dan banyak kuburan di sepanjang pantainya. Hanya ada satu dua bule hippies yang berkeliaran di pantai, menikmati kebebasannya sebagai manusia.
Keindahan Pantai Kuta ini semakin dikenal luas setelah Hugh Mills Mabbett melukiskan dalam tulisannya dalam sebuah buku berjudul In Praise of Kuta: From slave port to fishing village to the most popular resort in Bali (January Books, New Zealand, 1987). Dalam buku tersebut, berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas akomodasi wisata. Tujuannya untuk mengantisipasi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Buku ini kemudian menginspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan tempat hiburan.
Sejak itu wisatawan mancanegara mulai datang menikmati pantai yang dikenal indah ini. Keindahan ombak dan pasir putih Pantai Kuta yang luar biasa memunculkan aktivitas sea-sand-sun. Selain itu, Pantai Kuta juga dikenal dengan pemandangan matahari terbenamnya (sunset) dan berselancar (surfing).
Berkat buku Hugh Mabbet, seorang jurnalis Selandia Baru tersebut, membuat kawasan Pantai Kuta makin ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Kuta pun perlahan bertransformasi dari sebuah kampung nelayan menjadi kawasan wisata internasional. Fasilitas pariwisata makin banyak bermunculan. Homestay, losmen, hotel, restoran, kafe, pub, diskotik, pertokoan, mall dan berbagai bentuk bisnis lain saling berebut tempat. *** [210915]

Kepustakaan:
Yudhis M. Burhanuddin, 2008. Bali yang Hilang: Pendatang, Islam, dan Etnisitas di Bali, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/
www.balisaja.com/

0 komentar:

Posting Komentar