Senin, 11 Januari 2016

Monumen Kapal Selam Surabaya

Lama tak jalan-jalan di Kota Surabaya, rasanya kangen juga. Berbekal tas punggung dan tas kecil tempat menaruh kamera, saya berusaha menyusuri Kota Surabaya. Start dari Ketabang, terus bergerak ke Gubeng. Dilanjutkan menuju Tunjungan, dan berakhir di Ketabang lagi. Karena jalur line N melewati depan Balai Kota Surabaya untuk menuju ke Bratang.
Pada waktu kaki melangkah menuju Gubeng dari Balai Kota, saya menyempatkan diri untuk melihat sebuah kapal selam yang berada di daratan. Itulah Monumen Kapal Selam, atau masyarakat Surabaya seringkali menyebutnya dengan singkatannya saja, yaitu Monkasel. Monkasel ini terletak di Jalan Pemuda No. 29 Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi Monkasel ini berada di bantaran Kali Mas yang ada Jembatan Gubeng, atau di sebelah timur areal parkir Plasa Surabaya.
Setelah membeli tiket masuk di loket kecil yang terselip di antara deretan ATM Center, saya memasuki areal Monkasel lewat pintu gerbang yang di atasnya tertulis Monumen Kapal Selam. Lalu, ketemu dengan kapal selam yang dikitari oleh taman. Bagian fisik luas kapal selam dicat dengan dua warna. Bagian atas dicat dengan warna hijau, dan bagian bawah berwarna hitam. Sedangkan, torpedo yang terlihat berwarna merah putih.


Monkasel ini dibangun atas prakarsa Pimpinan TNI AL, Gubernur Jawa Timur dan para sesepuh kapal selam. Monkasel adalah bentuk asli kapal KRI Pasopati 410 dari Satuan Kapal Selam Armada RI Kawasan Timur (Satselarmatim).
KRI Pasopati dengan nomor lambung 410, termasuk jenis SS type Whiskey Class yang dibuat di Vladiwostok, Rusia, pada tahun 1952. Masuk jajaran dinas di TNI AL pada 15 Desember 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh (anti shipping), mengadakan pengintaian dan melakukan silent raids.
KRI Pasopati memiliki  panjang keseluruhan 76 meter, dan lebar maksimum 6,3  meter. Panjang badan tekan 58 meter, lebar badan tekan maksimum 4,7 meter, dan lebar badan tekan minimum 4,4 meter. Kemudian, tinggi titik tengah dari lunas garis air 4,49 meter, tinggi haluan dari lunas garis air 4,25 meter, tinggi buritan 4,76 meter, tinggi dome asdik 0,50 meter, dan tinggi anjungan adalah 5,5 meter.
Kapal ini mempunyai kecepatan di atas permukaan, maksimum 18,3 knot dan ekonomis 10 knot. Sedangkan, kecepatan di bawah permukaan, maksimum 13,5 knot dan ekonomis 2 knot. Beratnya dalam kondisi di atas permukaan 1.048 ton, dan di bawah permukaan 1.340 ton serta memiliki jarak jelajah 8.500 mil laut.


Selama pengabdiannya, KRI Pasopati banyak berperan aktif menegakkan kedaulatan negara dan hukum di laut yuridiksi nasional dalam berbagai operasinya, antara lain Operasi Trikora pada tahun 1962. Pada operasi tersebut, KRI Pasopati berada di garis depan memberikan tekanan psikologis terhadap lawan. Selain itu banyak operasi penting lainnya yang telah dilaksanakan. Selama bertugas KRI Pasopati telah dipimpin oleh 14 komandan. Komandan pertama adalah Mayor Laut (P) Sigitjoto Sudirjo, dan komandan terakhir adalah Mayor Laut (P) Imam Zaki.
Pembangunan Monkasel ditandai dengan peletakkan batu pertama pada 1 Juli 1995 oleh Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman didampingi Panglima Armada Timur Laksamana Madya TNI Gofar Soewarno. Kemudian KRI Pasopati yang telah dinonaktifkan dari jajaran TNI AL pada 25 Januari 1990 itu dipotong-potong menjadi 16 blok di PT. PAL dan dibawa ke lokasi untuk dirakit ulang hingga menjadi wujud utuh  kembali menjadi KRI Pasopati. Monkasel diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Arief Kushariadi pada 27 Juni 1998 dan dibuka untuk umum pada 15 Juli 1998.
Masuk ke dalam KRI Pasopati ini, pengunjung harus menaiki tangga yang terbuat dari besi. Tepat di pintu masuk, pengunjung akan disambut oleh petugas yang ada di dalam kapal. Setelah ditanyakan mengenai tiket masuknya, pengunjung langsung dipersilakan untuk berkeliling melihat isi dalam kapal selam tersebut. Di dalam kapal ini, pengunjung akan menyaksikan tujuh ruangan.

Ruang I
Ruang ini lebih dikenal dengan sebutan ruang torpedo atau ruang depan pada bagian atas ruang ini terletak pintu masuk ke dalam kapal. Pintu ini juga berfungsi untuk keluar masuk (bongkar muat) torpedo.
Di dalam ruang ini terdapat 4 tabung peluncur torpedo yang berfungsi untuk menembakkan torpedo juga untuk meluncurkan perenang tempur (pasukan katak), 6 kursi torpedo cadangan serta 8 tempat tidur untuk bintara dan tamtama. Pada saat bertempur, pintu antar ruangan harus tertutup rapat.

Ruang II
Ruang ini merupakan lounge room perwira. Di sini, para perwira tinggal, makan dan bekerja. Di antara ruangan ini terdapat sekat kecil untuk ruang komandan dan ruang komunikasi. Di bawah geladak terdapat ruang baterai group 1.

Ruang III
Ruang ini merupakan ruang Pusat Informasi Tempur (PIT), tempat pengoperasian kapal dan pusat kegiatan tempur dilaksanakan. Di bawah geladak terdapat gudang penyimpanan makanan.

Ruang IV
Ruang ini terdapat tempat tidur ABK, ruang makan ABK, dapur serta ada tempat atau gudang untuk penyimpanan bahan makanan.
Di ruang ini pula ABK dapat santai dan dapat istirahat. Di bagian kiri bagian belakang terdapat peralatan bantu (kompressor udara dan converter listrik). Kompressor udara adalah untuk mengisi udara tekanan tinggi (UTT) ke botol udara.
Di bawah ruangan ini ada ruang battery group 2 dengan jumlah 210 cell. Pada saat bertempur, pintu antar ruang juga harus tertutup rapat agar supaya kedap.

Ruang V
Ruang  ini merupakan tempat motor diesel, pesawat bantu dan pengendaliannya. Motor diesel yang digunakan oleh kapal selam ini adalah mesin diesel 2.000 PK. Mesin diesel ini digunakan sebagai motor pendorong pokok saat kapal selam berada di atas permukaan dengan kecepatan maksimum 18, 3 knot (1 knot = 1,8 Km/jam).

Ruang VI
Ruang ini adalah ruang listrik di mana terdapat 2 buah motor listrik/generator pokok untuk menggerakkan baling-baling atau pengisian batteray.
Motor listrik ini dapat berfungsi ganda. Bila diputar oleh tenaga listrik dari battery, maka berfungsi sebagai motor listrik penggerak profeler dan bila diputar oleh diesel pokok sebagai generator maka befungsi untuk pengisian batteray.
Di sini juga terdapat 2 buah motor ekonomi yang digunakan pada saat kapal berlayar dengan menggunakan kecepatan ekonomis serta peralatan bantu lainnya. Di sini ada pula tempat tidur ABK.

Ruang VII
Ruang ini merupakan ruang torpedo buritan. Pada ruang ini ada 2 buah peluncur torpedo. Di bagian atas ruangan ini terdapat pintu masuk ABK dari arah geladak buritan ke dalam kapal selam.
Selain peluncur torpedo terdapat juga pompa hidrolik yang berfungsi untuk memberikan tekanan hidrolik pada sistem yang digunakan untuk menggerakkan peralatan hidrolik, antara lain kemudi vertikal, kemudi horisontal depan, kemudi horisontal belakang dan alat-alat angkat.
Bila pompa hidrolik tidak dapat bekerja maka kemudi vertikal menggunakan kemudi darurat yang berada di ruang VII ini. Pada saat peran tempur pintu antar ruang harus tertutup rapat kedap.

Dari ruang VII itu ada pintu keluar dengan menuruni tangga yang terbuat dari besi. Pada saat menuruni ini, pengunjung bisa melihat tiang menara yang ada bendera merah putih dan tangga yang diuntai dengan tali temali. Tiang seperti ini acapkali dijumpai di pelabuhan yang umumnya berada di muara. Pada zaman dulu, tiang seperti ini sangat membantu kapal-kapal yang hendak merapat, atau untuk mengetahui arah angin. Selain itu, di dalam kompleks Monkasel ini juga terdapat sejumlah fasilitas yang bisa dinikmati oleh pengunjung, seperti museum kecil dan cafetaria, panggung terbuka, tribun, gardu pandang, dermaga, taman, area parkir, toilet umum, air mancur, dan jogging track. *** [090116]

0 komentar:

Posting Komentar