Senin, 15 Februari 2016

Gedung Aperdi Surabaya

Pamor Jembatan Merah memang sebanding dengan kenyataan di lapangan. Semula bayangan saya yang berasal dari luar Surabaya, hanya seonggokan jembatan besi saja. Tapi kalau ditelusur dalam kisahnya, jembatan ini turut menorehkan dalam sejarah perjuangan bagi arek-arek Surabaya.
Tak hanya itu, deretan gedung-gedung lawas juga turut membentuk cerita bahwa kawasan Jembatan Merah memang merupakan bagian dari salah satu penunjang kawasan kota lama. Salah satunya adalah Gedung PT Aperdi Djawa Maluku, atau biasa disebut Gedung Aperdi saja. Gedung ini terletak di Jalan Jembatan Merah No. 19 – 23 Kelurahan Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi gedung ini berada selatan Bank Mandiri Rajawali (pojok), atau utara Prima Master Bank.
Gedung Aperdi ini dulunya merupakan Kantor Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente (Perusahaan Umum Asuransi Jiwa dan Tunjangan Hari Tua), sebuah perusahaan asuransi jiwa terbesar di Belanda yang berdiri pada 1880 namun akhirnya bangkrut pada 1921.
Peletakan batu pertama pembangunan gedung asuransi ini dilakukan oleh John von Hemert pada 21 Juli 1901. Awalnya rencana gedung ini dikerjakan oleh arsitek Marius J. Hulswit tapi karena dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman, selanjutnya diganti oleh arsitek Hendrik Petrus Berlage.


Gedung karya Berlage ini memang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan gedung-gedung yang berada di sebelah kiri maupun kanannya. Fasade bangunan berlantai dua ini menampilkan gaya aristektur Art Nouveau dengan lengkungan bata merah khas Berlage. Di belakang lengkungan tersebut terdapat selasar, yang berfungsi sebagai pelindung gedung ini dari tampias hujan dan sinar matahari secara langsung.
Tepat berada pada undakan mau masuk ke pintu utama gedung ini, terdapat dua patung singa karya Berlage yang turut menghiasi gedung ini. Keberadaan dua patung singa di tepi jalan ini, acapkali masyarakat setempat menyebutnya dengan Gedung Singa.
Di atas lengkungan pintu masuk, terlihat lukisan porselin yang sampai sekarang masih mengundang misteri arti dari lukisan tersebut. Lukisan tersebut menampilkan ibu dan anak. Seorang ibu Eropa dan seorang ibu Jawa yang sama-sama menggendong anaknya. Lukisan tersebut merupakan karya Jan Toorop yang dipasangkan pada bangunan karya Berlage ini. Jan Toorop bukan seorang arsitek. Lebih tepat bila ia disebut sebagai seorang seniman. Sebutan yang sering diberikan orang kepadanya adalah seorang impressionis dan simbolis, pelukis Art Nouveau, ilustrator dan desainer grafis.
Ia dilahirkan pada 20 Desember 1858 di Purworejo, Jawa Tengah. Ayahnya seorang Jawa dan ibunya orang Inggris. Nama kelahirannya adalah Jean Theodoor Toorop. Pada 1872 ia pindah ke Belanda bersama keluarganya. Di sana ia belajar di Delft dan Amsterdam. Pada 1880 ia menjadi mahasiswa di Rijksakademie di Amsterdam. Dari tahun 1882-1886 ia hidup di Brussels, Belgia. Toorop mengerjakan berbagai aliran seni yang berbeda selama tahun tersebut, seperti realism, impressionism, neo impressionism dan post impressionism.
Selama periode 1890-an, ia mengembangkan gayanya sendiri semacam symbolic style yang dinamis dengan garis-garis yang undpredictable dengan motif Jawa. Selama periode ini ia mengembangkan gaya simbolis yang unik, dinamis, garis-garis tak terduga berdasarkan motif Jawa, tokoh ramping sangat bergaya, dan desain dengan garis lengkung. Setelah itu, ia berpaling ke gaya Art Nouveau di mana bermain mirip garis digunakan untuk tujuan dekoratif tanpa makna simbolik yang jelas.
Pada masa peralihan dari abad ke-19 ke abad ke-20 itulah Jan Toorop diperkirakan mendesain lukisan dari porselen yang dipasang di depan pintu masuk gedung Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente di Surabaya. Toorop meninggal pada 3 Maret 1928 di Den Haag, Belanda.
Dulu, di atas dormer utama atau tepatnya di puncak atap terdapat tulisan “ALGEMEENE”, dan setiap kapal yang hendak merapat di sekitar Jembatan Merah bisa menatapnya dari kejauhan. Bekas rangka besi tempat tulisan tersebut masih tampak. Rangka besi itu membentuk pagar kecil.
Kini, gedung asuransi itu tampak dibiarkan kosong dan tak terawat. Bahkan, di lantai atas dan atap terlihat ditumbuhi tanaman. Bila terlalu lama terlantar, dikawatirkan gedung tersebut akan runtuh. Terakhir kali diketahui lantai satu gedung ini digunakan PT Aperdi Djawa Maluku, sedangkan lantai dua pernah dipakai sebagai kantor Asuransi Jiwasraya. PT Aperdi Djawa Maluku merupakan perusahaan yang bergerak di bidang listing. Dalam kategori pedagang berjangka dengan volume transaksi terbesar tahun 2014, PT Aperdi Djawa Maluku dengan volume transaksi 456.054,70 lot pernah menduduki posisi kedua. *** [080216]

Kepustakaan:
DIMENSI Vol. 39, No. 1, July 2012, 37-50
http://investasi.kontan.co.id/news/ini-daftar-pemenang-pialang-award-jfx-2015

0 komentar:

Posting Komentar