Senin, 15 Februari 2016

Museum Kanker Indonesia

Saya pernah memboceng motor teman melintas di Jalan Kayun tapi belum pernah melihat museum ini, karena pada saat dari Keputran mengarah ke Surabaya Plaza kebetulan saya menikmati keindahan bunga-bunga yang dipajang oleh Toko Bunga yang berada di timur jalan itu.
Kemudian pada waktu naik motor sendiri melewati jalan ini lagi, baru tahu bahwa di Jalan Kayun ini ternyata ada sebuah museum. Namanya Museum Kanker Indonesia. Museum ini terletak di Jalan Kayun No. 16-18 Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini berada di sebelah utara Gereja Kristen Abdiel Trinitas, atau di belakang Apartemen Trilium.
Selama ini, kanker dipandang sebagai penyakit yang berbahaya. Namun, kengeriannya tidak tampak nyata di benak masyarakat. Padahal, menurut data World Health Organization (WHO), tercatat bahwa satu dari empat penduduk dunia akan terkena kanker.
Di Indonesia, pembunuh nomor satu wanita ialah kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Pada umumnya orang-orang cenderung bicara kanker pada tataran umum saja. Tapi, mereka tidak tahu kanker itu riilnya seperti apa.
Berawal dari kondisi yang demikian, dr. Ananto Sidohutomo menggagas berdirinya sebuah museum kanker untuk memberikan pemahaman akan bahaya kanker. Museum ini diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2013 dengan nama Museum Kanker Indonesia. Museum ini menempati sebuah bangunan gedung Yayasan Kanker Wisnuwardhana (YKW) yang telah diresmikan oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur R.P. Moh. Noer pada tanggal 30 Mei 1974. Jadi, Museum Kanker Indonesia ini didirikan sebagai museum edukasi yang tak hanya menampilkan sisi sejarah perjuangan manusia dalam memberantas kanker tetapi juga memajang sejumlah koleksi jaringan bagian tubuh manusia yang terkena kanker.


Di dalam museum ini, pengunjung akan diperlihatkan berbagai macam jenis kanker dalam bentuk jaringan kanker yang diawetkan di dalam toples berisi cairan formalin. Selain itu juga diperlihatkan berbagai foto dan gambar yang menunjukkan kanker yang menyerang organ tubuh.
Sebenarnya jenis kanker ada ratusan. Namun, museum ini baru memiliki sekitar 30-an jenis kanker yang bisa dilihat secara langsung. Meski koleksi di museum masih 30-an, tapi pengumpulannya tidak mudah. Koleksi ini merupakan jerih payah dr Etty Ananto, yang pengumpulannya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukannya. Seperti kanker payudara, kanker indung telur, kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan lain-lain.
Di belakang gedung utama, terdapat banner yang berisi tentang sejarah kanker yang ada sejak 80 juta tahun lalu, yang ditemukan pada fosil dinosaurus. Pengunjung akan melihat kisah cara-cara pengobatan tradisional terhadap penyakit kanker sampai dengan cara yang modern. Selain itu, di halaman belakang gedung ini terdapat pula sebuah kebun kecil berisi puluhan tumbuhan yang dipercaya sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan penyakit kanker.
Di dinding tembok yang berada tepat di belakang ruangan utama museum ini terdapat banner yang berisi upaya-upaya untuk menangani penyakit kanker, yaitu upaya promotif, preventif, deteksi dini, diagnosis, kuratif (pengobatan), rehabilitatif, dan paliatif.
Upaya promotif adalah upaya yang dapat dilakukan paling awal. Pada upaya ini, seluruh elemen masyarakat diberi pengetahuan dan pengertian yang tepat mengenai penyakit kanker pada usia sedini mungkin. Tanpa upaya ini, masyarakat tidak akan siap menghadapi kanker, bahkan tidak tahu mengenai adanya kanker. Utamanya, ada 3 hal yang dapat dilakukan untuk mempromosikan kanker pada masyarakat, seperti informasi, konsultasi, dan edukasi.


WHO menyatakan bahwa 43% kanker dapat dicegah. Kanker sebenarnya dapat dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor resiko terserang kanker. Terjadinya penyakit kanker terkait dengan beberapa faktor resiko, seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun.
Upaya deteksi dini adalah berbagai jenis upaya dan pemeriksaan yang dapat dilakukan di saat belum terdapat gejala penyakit. Tahapan upaya deteksi dini memerlukan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk memeriksakan dirinya, seperti pemeriksaan pap smear, deteksi dini oleh masyarakat dan deteksi dini oleh tenaga medis.
Untuk mengidentifikasi adanya tumor, baik yang jinak maupun ganas (kanker), terdapat berbagai macam cara untuk mendiagnosis. Sampai saat ini, setiap jenis kanker adalah unik sehingga membutuhkan jenis diagnosis yang berbeda pula. Upaya diagnosis ini bisa melalui histopatologi, FNA-C, radiologi maupun tes kimia.
Upaya kuratif adalah upaya penyembuhan atau pengobatan kanker yang berkembang dengan cepat. Pada umunya, penyembuhan kanker secara menyeluruh dilakukan dengan menggabungkan metode-metode yang ada untuk hasil yang lebih efektif. Metode kuratif kanker yang dipakai, juga lama waktu dan detail pengerjaan berbeda-beda pada setiap orang dan setiap jenis kanker. Upaya kuratif itu bisa meliputi kemoterapi, operasi, radioterapi, imunoterapi, stem cell, komplementer dan alternatif terapi.
Program rehabilitasi pada penderita kanker membantu penderita untuk mengatasi efek kondisi fisik, psikologis dan sosial yang diakibatkan karena diagnosis dan terapi dari kanker. Serta dampak kanker lain seperti penggunaan pengganti anggota tubuh (protesis) sebagai pengganti fungsi maupun yang menyebabkan perubahan penampilan.
Sesuai dengan kondisi fisik penderita, setiap program didesain secara khusus berdasarkan kebutuhan penderita dan tingkatan terapi yang sedang dijalani penderita. Suasana yang nyaman dan penuh harapan, dukungan dan pembelajaran, telah disediakan untuk mengajari tiap penderita untuk mengenal dan mengatur faktor-faktor resiko kanker yang dapat dikontrol oleh diri mereka sendiri.
Paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya.
Upaya paliatif meliputi rawat jalan, rawat inap (konsultatif), rawat rumah, day care, dan respite care. Sedangkan rawat rumah (home care) dilakukan dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah penderita, terutama yang karena alasan-alasan tertentu tidak dapat datang ke rumah sakit. Kunjungan dilakukan oleh tim yang terdiri atas dokter paliatif, psikiater, perawat, dan relawan, untuk memantau dan memberikan solusi medis/biologis, tetapi juga masalah psikis, sosial, dan spritual.
Keluar dari museum ini, pengunjung bisa melewati kantin atau cafe yang disediakan oleh YKW yang kemudian melewati jalan yang diapit oleh bangunan utama museum dengan bangunan kesekretariatan bersama gedung Prof. dr. Asmino yang berada dalam satu halaman. Kesekretariatan tersebut sebagai halte relawan atau rumah komunitas dalam pelayanan pengobatan alternatif terpadu.
Mengunjungi museum ini memang memberikan wawasan akan pengetahuan penyakit kanker, pelayanan dan penanganannya, karena di gedung ini juga terdapat pusat konsultasi bagi para pasien kanker yang diselenggarakan oleh YKW. Selain melihat koleksi museum yang ada, pengunjung juga bisa menikmati keindahan arsitektur gedung yang digunakan untuk museum. Karena gedungnya tergolong kuno. Mengingat daerah Kayun merupakan daerah yang juga turut dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930-an. *** [060216]

0 komentar:

Posting Komentar