Kamis, 31 Maret 2016

Sejarah Penulisan Serat-Serat Islam di Jawa

Masuknya orang-orang Islam di Tanah Jawa tidak hanya untuk berdagang namun juga membawa agamanya yang disebar saat itu di daerah Pesisir Jawa, seperti Gresik, Tuban, Sedayu dimulai pada awal abad 15. Setelah runtuhnya Majapahit dan berganti dengan berdirinya Kerajaan Islam Demak, saat itu para intelektual mulai masuk Islam sehingga terciptalah kebudayaan Jawi Islam. Kemudian mulailah adanya penulisan serat-serat berbahasa Jawa yang berisi tentang ajaran Islam. Karya sastra Jawa Islam tertua, yakni kitab piwulang dari Sunan Bonang yang isinya adalah mengenai Tasawuf.
Bentuk tulisan karya sastra Jawa biasanya menggunakan tembang macapat (sekar macapat) yang berisi tentang petunjuk atau nasihat ajaran keislaman. Bentuk tersebut digunakan agar lebih mudah untuk mengingatkan seseorang tentang ajaran. Tembang macapat dalam sastra Jawa dibagi menjadi 11 tembang, yakni Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandanggula, Durna, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Karya sastra tembang macapat yang menuliskan tentang ajaran Islam biasanya disebut Suluk, yang artinya muatan ajaran tentang kasampurnan (usaha seseorang dalam meraih kesempurnaan hidup dan kematian).
Pada masa Kraton Surakarta, penulisan lebih berkembang dengan munculnya para pujangga yang terkenal dengan serat-serat yang adiluhung seperti Paku Buwana V (Serat Centhini), Kyai Yasadipura I dan II (Serat Panitisastra, Cebolek, Babad Giyanti), Kyai Sindusastra (Serat Arjunasasrabahu), R.Ng. Ranggawarsita (Serat Sitapsara, Pustaka Raja Purwa, Paramayoga, Cemporet).

Sumber:
Museum Radyapustaka Documentary Board

0 komentar:

Posting Komentar