Selasa, 05 April 2016

Dalem Tjokrosoemartan Surakarta

Saya mengenal rumah lawas ini dari anak wedok (perempuan). Tatkala melintas di depannya, anak wedok bilang kalau dia sering diajak mbahe (neneknya) jagong (pesta pengantin) di rumah lawas ini. Memang, rumah lawas ini merupakan Sasana Pawiwahan. Sasana Pawiwahan berasal dari bahasa Jawa yang terdiri atas dua kata, yaitu sasana dan pawiwahan. Sasana berarti tempat, dan pawiwahan bermakna pernikahan. Jadi, Sasana Pawiwahan itu menujuk kepada gedung pertemuan untuk menghelat pasangan pengantin.
Sesuai dengan papan nama berlatar warna merah, bangunan kuno tersebut bernama Dalem Tjokrosoemartan. Dalem ini terletak di Jalan Dr. Rajiman No. 523 Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi Dalem ini berada di sebelah barat Kantor Kelurahan Laweyan, atau di depan Pasar Kabangan.
Dinamakan Tjokrosoemartan, karena Dalem ini pernah menjadi tempat tinggal kediaman Tjokrosoemarto. Beliau adalah seorang saudagar Laweyan yang cukup kaya raya di zamannya. Pada era 1900-an, ia pernah melakukan ekspor ke luar negeri. Bukan hanya batik saja yang diekspor ke Eropa melainkan juga hasil bumi dan kerajinan.


Barang tersebut diekspor melalui pelabuhan di Semarang atau Cirebon. Kalau mengekspor bisa mencapai 50 gerbong kereta api. Bisa dibayangkan betapa banyak omzet penjualannya. Tjokrosoemarto terkenal sebagai pedagang pribumi yang mendulang sukses. Kesuksesan ini berkat upaya Haji Samanhoedi yang membantu memberikan akses dalam perdagangan, dengan mendirikan Sarekat Dagang Islam.
Dalam perjuangan kemerdekaan, beliau turut membantu memberikan sumbangan dana ke Pemerintah Republik Indonesia, dan membantu mempertahankan kurs uang ORI (Oeang Republik Indonesia) terhadap uang NICA (Netherlands Indische Civil Administration). ORI adalah mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka. Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas dengan nominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks undang-undang. ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu, A.A. Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak Percetakan Kanisius dengan Kanisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.
Setelah kemerdekaan, Tjokrosoemarto berhasil membangun kekuatan ekonomi rakyat dengan membentuk sentra-sentra kerajinan batik di daerah Laweyan, Sragen, Yogyakarta, Ponorogo, Tasikmalaya, Cirebon dan Lasem.


Dalem Tjokrosoemartan sebagai objek arsitektural di Kampoeng Batik Laweyan merupakan media berkomunikasi, menyampaikan pesan budaya setempat. Oleh sebab itu, penting untuk memberi perhatian terhadap Dalem ini sebagai simbol sosial budaya.
Dalem, yang dalam bahasa Indonesia berarti rumah ini, memiliki luas 1.800 m². Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan harmonis antara arsitektur Jawa dan Eropa. Dalem ini mulai dibangun pada tahun 1915, namun pada dinding atas yang membentuk gevel yang berada di ujung timur fasad bangunan tertulis tahun 1927. Diperkirakan tahun itu merupakan tahun selesainya Dalem yang berada di sisi timur yang berbatasan dengan tembok Kantor Kelurahan Laweyan.
Pada waktu terjadi Serangan Umum Kota Solo selama empat hari, banyak rumah penduduk porak poranda. Salah satunya adalah yang dialami oleh Dalem Tjokrosoemartan. Pada bagian produksi yang menjadi pabrik untuk memproduksi batik Tjokrosoemarto pernah dibom oleh Belanda sehingga mengalami rusak parah.
Kampoeng Batik Laweyan sebagai permukiman tua banyak menyimpan memori masa lalu. Sehingga relasi antara arsitektur, bentuk permukiman dan sejarahnya harus selalu menjadi pertimbangan utama melestarikan Dalem tersebut maupun kawasan Kampoeng Batik Laweyan. Ekspresi kolektif arsitektur pada Kampoeng Batik Laweyan merupakan rangkaian memori dari berbagai bentuk arsitektur masa lalu. Oleh karena itu, untuk dapat mengapresiasi maknanya, tidak cukup melihat dari sudut formal fungsional saja tetapi dengan pengamatan bentuk dan penafsiran makna yang dikandungnya.
Sejak tahun 1997, Dalem ini telah ditetapkan oleh Menteri Pariwisata Joop Ave sebagai Monumen Batik Indonesia, dan digunakan sebagai tempat diselenggarakannya acara-acara kebudayaan dan pariwisata tingkat nasional dan internasional. *** [020416]

Kepustakaan:
http://kampoengbatiklaweyan.org/ndalem-tjokrosoemartan/
http://travel.kompas.com/read/2013/08/14/1159161/Pesona.di.Balik.Lorong.Tua.Laweyan

0 komentar:

Posting Komentar