Jumat, 08 April 2016

Drs. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta lahir 12 Agustus 1902 di Bukit Tinggi. Ayahnya bernama Djamil dan ibunya bernama Soleha. Hatta merupakan satu-satunya anak laki-laki dari enam bersaudara.
Persentuhan terhadap ketidakadilan yang ditebarkan oleh Kolonial Belanda sudah bermula dari peristiwa keluarganya. Saat Hatta masih kanak-kanak dan bersekolah di ELS (Europesche Lagere School) di Bukit Tinggi, pamannya yang bernama Rais ditangkap oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena mengkritik seorang pejabat Belanda dalam surat kabar Utusan Melayu. Kemudian ketika sekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) kesadaran politiknya sebagai anak bangsa mulai tumbuh dan berkembang terutama dalam kedudukannya sebagai pelajar yang mengenal Jong Sumatranen Bond.
Ketika menjadi mahasiswa di Belanda, kepiawaian Hatta sebagai organisator sudah langsung tersebar di kalangan mahasiswa Indonesia di Belanda. Oleh karena itu, Hatta memangku posisi ketua Perhimpunan Indonesia (perhimpunan mahasiswa yang belajar di Belanda). Dalam posisinya itu, Hatta harus tampil dalam perkara-perkara internasional serta menjamin tetap terbitnya Majalah Indonesia Merdeka. Selain itu, Hatta juga mengusahakan bergeraknya roda organisasi yang tengah terlibat langsung dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan. Setelah kembali ke tanah air, Hatta masih terus aktif dalam pergerakan kebangsaan sehingga harus mengalami pembuangan ke Digul, Banda Neira, dan lain-lain.
Pada saat proses kemerdekaan Indonesia, Hatta mempunyai peran penting karena beliau bersama Ir. Soekarno dan Mr. Ahmad Soebardjo telah berhasil merumuskan Naskah Proklamasi Kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka, Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia dan perjuangan Hatta pun tak pernah berhenti untuk negeri ini, karena walaupun Indonesia sudah merdeka, negeri ini masih harus mempertahankan kemerdekaannya dari ancaman dalam dan luar negeri yang ingin mengganggu kedaulatan bangsa. Pada 14 Maret 1988 Mohammad Hatta meninggal dunia.

Sumber:
Museum Perumusan Naskah Proklamasi Documentary Board

0 komentar:

Posting Komentar