Rabu, 20 April 2016

Pintu Air Demangan Surakarta

Saat masih kuliah dulu, saya sering diboncengin teman lewat Pintu Air Demangan. Sebenarnya memutar, tapi hal ini untuk menghindari polisi karena saya tidak membawa helm. Dari Kampus Kentingan, menuju Sekar Pece ke selatan sampai Jembatan Jonasan lalu menerabas Kampung Sewu. Ketika sampai tanggul di dekat Pasar Cengklik, ambil arah kiri atau selatan sambil menyusuri sebuah tanggul.
Pada waktu melintasi tanggul tersebut, kami melewati Pintu Air Demangan. Pintu air ini terletak di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi pintu air ini berada di sebelah selatan Pasar Cengklik.
Menilik sejarahnya, Pintu Air Demangan ini dibangun pada tahun 1918 atas perintah Raja Surakarta, Pakubuwono X. Perintah tersebut dikeluarkan, untuk mengantisipasi luapan banjir sungai Bengawan Solo pada saat musim hujan tiba. Konstruksi bangunannya menggunakan beton bertulang, namun untuk pintunya sendiri yang bisa dibuka dan ditutupi ini memakai kayu jati. Ada sepuluh pintu airnya, dan sejak pertama kali dibuat baru sekali diganti kayunya.


Pintu Air Demangan ini melintang di atas Kali Pepe yang mengalir menuju Bengawan Solo. Selain untuk mengatur sirkulasi air di sungai itu, pintu air ini juga acap dimanfaatkan sebagai jembatan yang bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, baik itu sepeda kayuh (onthel) maupun sepeda motor.
Pada tahun 1966 terjadi banjir besar (banjir bandang) di Kota Surakarta, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Kota Solo. Banjir tersebut mengakibatkan hampir separoh Kota Solo tenggelam oleh kedahsyatan Bengawan Solo. Atas peristiwa tersebut, sepuluh tahun kemudian dilakukan pemasangan pompa air atas bantuan dari Ir. Sutami sebanyak tiga buah pompa berukuran kecil yang memiliki daya sedot 1 meter kubik air per detik. Kemudian pada tahun 1999, dibangun lagi tiga pompa baru berukuran lebih besar dari sebelumnya, dengan kekuatan mampu menyedot 3 meter kubik air per detik. Fungsi pompa air tersebut adalah untuk mempompa kelebihan air yang ada di Kali Pepe, sehingga Solo bisa terhindar dari banjir.
Pintu air ini akan ditutup jika air masuk dan berketinggian 4 meter. Demikian pula bila air luapan Bengawan Solo mencapai ketinggian tersebut dan masuk ke Kali Pepe. Air yang masuk akan disedot dari Kali Pepe dan dikeluarkan lagi dengan pompa dan dibuang ke timur pintu air agar supaya airnya tak masuk kota.
Dilihat dari konstruksinya, Pintu Air Demangan ini merupakan peninggalan karya arsitek Belanda. Hanya saja sayang, informasi siapa yang merancang pintu air nan kokoh dan megah ini, belum diketahui dengan pasti. *** [020215]

0 komentar:

Posting Komentar