Rabu, 20 April 2016

Hotel Trio Solo

Berpetualan ke masa lalu di Kota Surakarta, atau biasa dikenal dengan sebutan Kota Solo, bisa lewat bangunan lawas yang dimilikinya. Seperti yang ada di kawasan Pasar Gedhe Solo, banyak peninggalan bangunan kuno yang ada di situ. Mulai dari klenteng, pasar tradisional, maupun pemukiman Tionghoa. Salah satu bangunan lawas yang masih eksis adalah Hotel Trio. Hotel ini terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 25 Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Hotel ini terletak di sebelah utara Bank Buana, atau di depan Toko Serba Ada (Toserba) Asia Baru.
Awalnya hotel ini merupakan rumah milik Tjoa Buen Kaing, yang dibangun pada tahun 1932. Hotel Trio dulu kembar dengan bangunan yang ada di seberang jalan, namun sekarang sudah berubah menjadi Toserba Asia Baru.
Dalam artikelnya Dhian Lestari Hastuti, yang berjudul “Struktur dan Fungsi Desain Interior Rumah Peranakan Tionghoa di Surakarta Pada Awal Abad ke-20”, yang dimuat di Jurnal Volume 3 No. 2 Desember 2012 ini, memaparkan dengan jelas mengenai hotel ini. Kondisi bangunan rumah yang berfungsi hotel ini hanya tersisa di bagian rumah utama bagian depan. Semula terdiri dari dua bangunan yang terdiri dari bangunan bagian depan sebagai tempat penginapan dan bagian belakang terdapat bangunan rumah tinggal. Di antara bangunan penginapan dan rumah tinggal dipisahkan oleh courtyard. Sekarang bangunan rumah tinggal di bagian belakang sudah berganti dengan kamar-kamar hotel satu lantai dengan posisi mengapit courtyard di bagian tengah bangunan. Bangunan utama di bagian depan masih berdiri kokoh dengan kondisi baik dari sisi struktur bangunan. Terdapat enam petak lantai yang berbeda di bagian teras depan hotel karena peristiwa pemberontakan komunis di tahun 1965. Menurut Indriwati sebagai pewaris generasi ketiga dari pemilik hotel ini, enam petak lantai tersebut sebagai bukti bahwa hotel ini hampir saja dibakar karena peristiwa tersebut.
Program atau organisasi ruang rumah induk bagian depan Tjoa Buen Kaing terdiri dari dua lantai, yaitu lantai dasar dan lantai atas. Pada lantai dasar bagian teras ditopang oleh empat tiang besi berukir, kemudian menuju ke ruang depang berdinding tembok. Tiang besi berukir berjumlah empat juga ditemui di area teras belakang baik di lantai dasar maupun lantai atas.


Pola pembagian ruang rumah Tjoa Buen Kaing merupakan adaptasi dari pola pembagian rumah tradisional Jawa yang mengalami perkembangan pengaruh dari Belanda. Urutan ruang dari voorgalerij (identik dengan peringgitan), kemudian werkkamer (ruang kerja) dan slaapkamer (kamar tidur), dan achtergalerij (serambi belakang). Untuk menuju masing-masing ruang dari voorgalerij terdapat doorgang. Pada bagian depan dan belakang rumah terdapat teras terbuka yang dibatasi oleh garis imajiner antar empat tiang besi berukir.
Denah rumah Tjoa Buen Kaing berbentuk persegi panjang dengan pengaruh pola dari Belanda yang sangat kuat. Namun ada dugaan, hal ini tidak lepas dengan adanya pertimbangan Feng-Shui untuk mendapatkan energi maksimal dari kedelapan arah, sehingga rumah mendapatkan energi sangat baik. Jika ditinjau dari sisi desain interior, program ruang bersifat sangat fungsional.
Bangunan rumah Tjoa Buen Kaing menggunakan struktur dinding sepenuhnya. Pada bagian bentang teras terbuka bagian depan ditopang dengan tiang besi berukir berjumlah empat. Pada bagian dalam ruang di sisi peringgitan bagian dalam terdapat tiang Tuscan dengan bentuk lengkung di bagian tengah.
Material kayu di rumah Tjoa Buen Kaing juga berperan sebagai kusen dan daun pintu dengan tinggi 3,5 m sebagai penanda bangunan dengan pengaruh gaya Eropa. Material pintu berupa kayu berkombinasi dengan kaca. Bahan kayu juga digunakan sebagai lubang angin-angin (bofenlicht) di atas pintu, baik pintu utama maupun pintu kamar, dengan pola ukiran yang tembus. Material kayu, baik kusen maupun daun pintu dan bofenlicht menggunakan penyelesaian (finishing) berwarna kuning muda dengan aksen warna hijau. Jumlah daun pintu dan jendela masing-masing dua pasang.
Jika dilihat dari unsur warna yang diterapkan di rumah ini, maka warna kuning muda dengan aksen warna hijau terlihat mendominasi di bagian daun pintu dan jendela. Dilihat dari pemaknaan Jawa, warna kuning dan hijau pada daun pintu dan jendela memperlihatkan bahwa bangunan rumah Tjoa Buen Kaing mendapat pengaruh dari kraton. Namun jika dilihat dari pemaknaan warna dari budaya Tiongkok maka warna hijau merupakan simbol dari unsur kayu (Mu), yang melambangkan panjang umur, pertumbuhan dan keabadian. Warna kuning merupakan simbol dari unsur tanah (Tu), yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan.
Elemen pengisi ruang yang masih tersisa di rumah Tjoa Buen Kaing adalah berupa tempat tidur besi dan meja rias bergaya Art Deco. Sedangkan, meja sembahyang untuk leluhur tidak ditemukan di rumah ini.
Sehingga, kesan menginap di hotel ini terasa menginap rumah lawas dengan nuansa masa lalu. Penggemar wisata heritage dan bangunan kuno sangat cocok untuk menginap di Hotel Trio ini. Di samping hotelnya sendiri merupakan bangunan kuno, juga menyatu dengan kawasan Pasar Gedhe yang kental dengan nuansa heritage Pecinan Solo, dan memiliki area parkir yang luas. Meski hotel ini merupakan hotel kelas melati, namun memiliki fasilitas kamar yang lengkap dan bersih. Sehingga, Hotel Trio ini sering dikenal sebagai hotel sederhana, langganan keluarga besar. *** [311215]

0 komentar:

Posting Komentar