Rabu, 20 April 2016

Rumah Makan Rawon Nguling Probolinggo

Seperti biasa, sebelum diadakan training selalu didahului dengan pilot test. Pada Performance Oversight & Monitoring Endline Survey for the Evaluation of the Education Partnership – Component 1 (School Construction) ini, saya berkesempatan mengikuti pilot test di Situbondo dan Probolinggo.
Berangkat pada 10 Agustus 2015 dari kantor Regional Economic Development (REDI) pagi menuju Bandara Juanda untuk menjemput pewakilan dari EP-POM terlebih dahulu. Kemudian dari Bandara Juanda, kami menggunakan mobil rental bermerk Toyota Innova menuju Situbondo pada siang hari. Sampai di perbatasan antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo sudah menjelang malam, kami berempat pun berhenti untuk makan malam.
Lokasi makan malamnya dipilihkan oleh salah seorang di antara kami, di Rumah Makan Rawon Nguling. Rumah makan ini terletak di Jalan Raya Tambakrejo No. 75 Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah makan ini berada di perbatasan antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo, atau tepatnya berada di timur gapura batas kabupaten.


Awalnya, rumah makan ini bermula dari warung makan sederhana, yang dirintis oleh Karyodirejo dan istrinya, Marni, pada 12 Desember 1942. Warung makan tersebut dulu diberi nama “Lumayan.” Warung makan ini menyajikan berbagai masakan ala kampung khas Jawa Timur, di antaranya lodeh, soto, rawon, dan sebagainya.
Kebetulan rawon yang dimasak oleh Karyodirejo terasa pas dilidah setiap yang mengunjungi warungnya. Lama-kelamaan, rawon buatan Karyoredjo ini semakin dikenal. Berawal dari mulut ke mulut, kelezatan rawon tersebut akhirnya mencapai lintas luar batas daerahnya. Pengunjung pun kian hari kian bertambah ramai.
Akhirnya, warung makan Lumayan tersebut berkembang pesat, dan sekarang memiliki bangunan yang besar serta megah. Nama warungnya pun berganti menjadi Rumah Makan Rawon Nguling. Hal ini didasarkan pada menu unggulan dari rumah makan ini yaitu rawon. Rawon adalah makanan berbahan dasar daging dengan kuah berwarna hitam. Menghidangkannya, dicampur nasi dan irisan daging sapi dengan sambel terasi dan tauge pendek sebagai perlengkapannya. Kehitaman rawon ini diperoleh dari bumbu utamanya, yaitu kluwek. Bumbu kuahnya sangat khas Indonesia, yaitu campuran bawang merah, bawang putih, lengkuas, ketumbar, serai, kunyit, cabe, kluwek, garam dan minyak nabati. Semua bahan ini dihaluskan, lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu ini kemudian dimasukkan dalam kaldu rebusan daging bersama-sama dengan daging.


Resep Rawon Nguling hasil racikan Karyodirejo bersama istrinya ini, telah diwariskan tiga generasi. Kekhasan rawonnya ini adalah irisan dagingnya lebih besar dibandingkan dengan ukuran irisan rawon di tempat lain. Namun, tetap terasa empuk. Selain itu, cita rasa Rawon Nguling terasa enak karena takaran bumbu dan cara mengolah bahan-bahannya terasa pas. Karyodirejo bersama istrinya, telah berhasil memformulasikan 14 bahan bumbunya, termasuk aneka jenis rimpang, secara tepat. Sehingga, menghasilkan kuah rawon yang lebih kental tetapi tetap segar. Rawon Nguling memang rawon dengan rasa yang luar biasa dengan berbagai pilihan, antara lain raon iga sapi, rawon buntut, rawon paru, rawon lidah, rawon limpa, dan sebagainya.
Saking legendarisnya rasa Rawon Nguling ini, maka tak heran bila tercatat Basuki Abdullah dan Maestro Affandi pernah bersantap di sini. Kemudian Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah mencicipi rawon di rumah makan ini. Foto-foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah makan di tempat ini, sekarang menjadi pajangan utama yang ada di tembok rumah makan ini. Prestasi yang diraih oleh Rumah Makan Rawon Nguling ini mampu mewaralabakan menunya ke beberapa daerah, yaitu antara lain Jakarta, Tangerang, Surabaya, Malang, dan Pasuruan.
Di rumah makan ini, selain menu utama rawon juga menyediakan menu spesial lainnya, seperti ayam penyet komplit, buntut penyet, iga penyet, empal, gule kambing, nasi lodeh, nasi sop, nasik kare ayam kampung, nasi semur daging, nasi sayur asem, tahu tek-tek Surabaya, perkedel, telor asin hingga kerupuk udang.
Setelah selesai makam malam sambil beristirahat sejenak, perjalanan pun dilanjutkan ke Situbondo. Dari perjalanan ini, bersyukurlah saya yang diajak bersantap malam di sini. Hilang laparnya, dapat sejarahnya! *** [100815]

0 komentar:

Posting Komentar