Rabu, 13 April 2016

Tahu Sumedang

Keliling di daerah Tegal Parang, Jakarta Selatan, untuk mencari counter HP yang besar tak membuahkan hasil maksimal. Pasalnya, HP Xiaomi Redmi Note 2 kiriman dari Surabaya belum berhasil dioperasikan. Kata pihak counter Tegal Parang, di Jakarta Xiaomi jarang dipakai sehingga jarang juga yang bisa mengoperasikan HP Xiaomi yang baru dibeli.
Di tengah kegalauan antara tuntutan kerja dan gagal mengoperasikan HP, saya singgah di penjual coctail pinggir Jalan Tegal Parang. Kebetulan di samping ada penjual gorengan. Sambil minum, saya nyocol gorengan juga, yaitu bakwan goreng. Kalau di Surabaya, dikenal dengan ote-ote. Kemudian pulangnya, saya suruh bungkus enam tahu Sumedang.
Sambil membayar gorengan tadi, saya bertanya kepada penjualnya dengan nada guyonan. “Koq, tahunya dinamakan tahu Sumedang, Pak?”
“Ya, kali tahunya dari Sumedang?” jawab penjual dengan aksen Jakartanan.
Masih kepengin bercanda dengan abang penjual gorengan, saya pun bertanya lagi: “Memang, Bapak belinya ke Sumedang?”
“Ya, enggaklah?” jawab penjual sambil menggoreng yang lainnya.
Setelah pulang, rasa penasaran jadi timbul. Sebenarnya gimana sih riwayat tahu Sumedang itu? Akhirnya, saya berusaha menelusur referensi mengenai asal muasal tahu sumedang ini, yang terkenal enak dan gurih. Dibalik kelezatannya, ternyata tahu Sumedang menyimpan sebuah kisah yang erat kaitannya dengan kaum imigran asal Tiongkok yang memasuki wilayah Priangan Timur, di antaranya Sumedang.


Tahu berasal dari bahasa Tiongkok Hokkian, yaitu Tao Hu. Tao, artinya kacang, dan Hu berarti lumat. Jadi, Tao Hu berarti kacang (kedelai) yang dilumatkan. Kata Tao Hu tadi setelah diucapkan oleh lidah pribumi, ucapannya berubah sedikit menjadi Tahu.
Salah seorang imigran Tiongkok yang bermukim di Sumedang, namanya Ong Kin No berusaha membuat tahu untuk mengenang kebiasaan di kampung halamannya, pada tahun 1917. Awalnya, hanya bertujuan untuk konsumsi keluarga saja. Kemudian tahu buatannya tersebut beredar di kalangan orang Tionghoa, karena memang makanan tersebut berasal dari sana. Lama-lama, banyak orang pribumi juga yang ingin merasakan makanan bernama tahu tersebut. Sejak saat itu, tahunya menjadi dikenal dan Ong Kin No bertekad menjadi pembuat dan penjual tahu.
Perkembangan tahu Sumedang semakin bersinar pada generasi kedua setelah ditangani oleh anaknya Ong Kin No yang bernama Ong Bung Keng. Ong Bung Keng meneruskan usaha ayahnya tersebut dengan bekerja keras. Di tangan Ong Bung Keng usaha tahu milik ayahnya berkembang pesat sehingga tahu buatan Ong Bung Keng lebih dikenal sebagai cikal bakal tahu Sumedang.
Tahu Sumedang, yang semula dikenal dengan nama tahu Bungkeng (dari asal nama pembuatnya, Ong Bung Keng) ini, akhirnya merambah ke seluruh Kabupaten Sumedang kala itu. Bahkan, Bupati Sumedang yang memerintah saat itu, Pangeran Aria Suria Atmaja mengakui kelezatannya dan meminta makanan itu untuk dijual kepada masyarakat luas. Sang Pangeran, yang konon ucapannya pasti terwujud, yakin penganan ini akan menjadi berkah tersendiri untuk ekonomi Sumedang.
Tahu Sumedang yang benar adalah tahu yang dijajakan dalam bentuk sudah digoreng, tidak pong, atau tidak kosong, dan masih berisi sari kedelai yang masih putih. Sari kedelai tersebut memberikan rasa khas perpaduan rasa kulit tahu yang sudah kering digoreng dan bagian dalam yang tidak kering. Tahu Sumedang mempunyai kulit luar yang berbintik-bintik atau curintik (bahasa Sunda) yang khas membedakan dari jenis tahu lainnya.
Kini, tahu Sumedang telah menjamur. Hampir di tiap daerah di Indonesia bisa dijumpai tahu Sumedang, termasuk salah satunya saya ini. Makan tahu Sumedang di pinggir Jalan Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. *** [090416]

0 komentar:

Posting Komentar