Senin, 17 April 2017

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Tanggal 1 April 2017, saya mendapat undangan diskusi dari Medang Heritage Society (MHS) di Ruang Seminar Agus Dwiyanto, Gedung Masrisingarimbun, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Usai diskusi, saya mencoba melakukan jalan kaki dari PSKK menuju ke Stasiun Yogyakarta. Tujuannya, selain melemaskan otot-otot di badan juga melihat-lihat bangunan lawas yang ada di Yogyakarta di antaranya adalah Rumah Sakit (RS) Panti Rapih.
Rumah sakit ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 30 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi rumah sakit ini berada di tenggara bundaran UGM atau sebelah barat SPBU Pertamina 44.552.12.
Berdasarkan papan nama yang dipasang oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, diketahui bahwa bangunan RS Panti Rapih merupakan bekas bangunan Onder de Bogen Hospitol. Berawal dari pembentukan yayasan Onder de Bogen (Onder de Bogen Stichting) oleh pengurus Gereja Yogyakarta, kemudian diteruskan untuk mendirikan sebuah rumah sakit dengan meminta bantuan kepada Suster-suster Carolus Borromeus yang berpusat di Maastricht Belanda.


Peletakan batu pertama dilakukan oleh Nyonya C.T.M. Schmutzer van Rijckevorsel pada tanggal 14 September 1928. Nyonya C.T.M. Schmutzer van Rijckevorsel adalah istri Ir. Julius Robert Anton Marie Schmutzer, seorang administratur onderneming Gondang Lipoero Ganjuran Bantul, dan juga pernah menjadi murid sekolah perawat yang dikelola oleh Suster Carolus Borromeus di Belanda.
Pembangunan rumah sakit ini dapat diselesaikan pada pertengahan Agustus 1929, dan pada tanggal 24 Agustus 1929 Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, SJ berkenan memberkati bangunan rumah sakit tersebut. Kemudian pada tanggal 14 September 1929 rumah sakit dibuka secara resmi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dengan nama Rumah Sakit Onder de Bogen.
Sesuai namanya, bangunan rumah sakit ini banyak dihiasi dengan lengkungan-lengkungan (bogen). Lengkungan-lengkungan ini yang menjadi kekhasan dari bangunan rumah sakit tersebut. Bangunan rumah sakit ini dirancang oleh seorang arsitek bernama Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels dari Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA).
Para suster melayani dan merawat orang sakit, meringankan penderitaan sesama sesuai dengan ajaran Injil tanpa memandang agama dan bangsa. Sedikit demi sedikit penderita datang dan semakin lama semakin bertambah dan meningkat jumlahnya. Pasiennya sebagian besar adalah para pejabat Belanda dan kerabat Kraton. Sultan Hamengku Buwono VIII menjelang wafatnya juga pernah dirawat di rumah sakit ini.
Pada tahun 1942 Jepang datang ke bumi Nusantara untuk mendudukinya, tak terkecuali Yogyakarta. Pada masa pendudukan inilah, RS Onder de Bogen tidak luput dari penguasaan Jepang. Para Suster Belanda diinternir dan dimasukkan ke kamp tahanan Jepang. Akibatnya, pengelolaan rumah sakit menjadi kacau balau. Pemerintah Jepang menghendaki agar segala sesuatu yang berbau Belanda untuk dihilangkan, termasuk salah satunya penggantian nama rumah sakit ini. Akhirnya, rumah sakit ini diberi nama baru “Rumah Sakit Panti Rapih”, yang berarti Rumah Penyembuhan oleh Mgr. Albertus Soegijopranoto, SJ (Uskup pada Keuskupan Semarang).
Setelah Indonesia merdeka, para pejuang kemerdekaan semasa Revolusi Nasional dirawat di rumah sakit ini termasuk Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia Jenderal Sudirman. Pada waktu dirawat di rumah sakit ini, beliau pernah menuliskan sebuah sajak yang berjudul “Rumah nan Bahagia”, yang hingga kini masih tersimpan dengan baik.
Kini, RS Panti Rapih berkembang menjadi rumah sakit swasta Katolik yang terkemuka di Kota Yogyakarta, dengan pelayanan dan pengelolaan yang modern. *** [150417]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

2 komentar:

  1. rumah sakit yang menjadi rumah kedua bagi saya...terimakasih sudah mengulasnya melalui artikel singkat ini...salam

    BalasHapus
  2. Terima kasih Mas Yosef Krisnadi telah berkenan membaca sejarah anak negeri ini. Saya kebetulan memiliki hobi untuk mengumpulkan serpihan sejarah yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.

    BalasHapus