Kamis, 11 Mei 2017

Rumah Sakit Mata Dr. Yap Yogyakarta

Jalan kaki dari Gedung PSKK UGM menuju Stasiun Yogyakarta usai menghadiri undangan diskusi dari Medang Heritage Sociery (MHS), cukup lumayan jauh. Jaraknya mendekati 4 kilometer, namun rasa capek di kaki serasa menguap manakala menyaksikan bangunan-bangunan lawas yang membentang sepanjang perjalanan. Salah satu bangunan lawas yang masih bisa dilihat adalah Rumah Sakit Mata Dr. Yap. Rumah sakit ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 5 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi rumah sakit ini berada di sebelah utara BRI Cabang Cik Di Tiro, dan tidak begitu jauh dari Rumah Sakit Panti Rapih.
Keberadaan rumah sakit ini tidak lepas dari prakarsa dan usaha dari dr. Yap Hong Tjoen. Dr. Yap adalah anak muda Tionghoa kelahiran Yogyakarta 30 Maret 1885, yang berpikiran besar jauh sebelum adanya Indonesia merdeka atau beberapa tahun sebelum ikrar sumpah pemuda disuarakan.
Era Hindia Belanda, selain orang Belanda banyak orang yang tidak bisa bersekolah. Yap Hong Tjoen agak beruntung dibandingkan dengan anak seusianya kala itu, karena berkesempatan mengenyam pendidikan sampai ke Negeri Belanda. Yap Hong Tjoeng berangkat ke Leiden untuk melanjutkan studi dengan bidang spesialisasi mata. Yap Hong Tjoen menjadi mahasiswa Tionghoa dari Hindia Belanda pertama yang mempertahankan tesisnya di Leiden pada 19 Januari 1919.
Selama belajar di Negeri Belanda, Yap Hong Tjoen juga gemar melakukan kegiatan di dalam berbagai organisasi, seperti Chung Hwa Hui (CHH), Indonesisch Verbond van Studeerenden (IVS) atau Perserikatan Pelajar Indonesia (PPI). Dari situlah kemudian timbul hasrat untuk mengamalkan keahlian dan kepandaiannya kepada masyarakat di Hindia Belanda.


Setelah menyelesaikan pendidikannya di Negeri Belanda, dr. Yap Hoeng Tjoen berusaha merealisasikan cita-citanya setibanya di Hindia Belanda. Dilandasi keinginan menolong masyarakat Hindia Belanda yang menderita penyakit mata dan kebutaan, dr. Yap Hong Tjoen bersama beberapa warga keturunan Tionghoa dan keturunan Belanda mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Centrale Vereeniging tot bevordering der Oogheelkunde in Nederlandsch-Indie (CVO). Perkumpulan yang berkedudukan di Batavia ini berdiri pada tanggal 24 September 1920, dan dicatatkan di Notaris Mr. A.H. van Ophuijsen serta diumumkan kepada khalayak melalui media massa Javasche Courant No. 96 tertanggal 30 November 1920.
Pendirian CVO, memiliki tujuan untuk menolong penderita penyakit mata, memberantas kebutaan, dan memperbaiki nasib penyandang tunanetra, serta memajukan ilmu penyakit mata. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ditetapkan berbagai usaha, di antaranya adalah mendirikan rumah sakit dan klinik untuk penderita penyakit mata, dan memberi bantuan kepada lembaga lain yang bermaksud memberikan sarana tersebut.
Berdasarkan kuasa yang diterima oleh CVO, dr. Yap Hong Tjoe membangun sebuah rumah sakit di atas lahan seluas 2.995 m² di Yogyakarta di Jalan Cik Ditiro (dulu bernama Yap Boulevard). Untuk mewujudkan rumah sakit ini, Yap Hong Tjoe berusaha mencari dana untuk pembangunannya. Dana yang diperoleh antara lain dari Pemerintah Hindia Belanda, Kesultanan Yogyakarta, perusahaan perkebunan dan para dermawan.
Setelah dana terkumpul, CVO mempercayakan desain bangunannya kepada Eduard Cuypers, seorang arsitek terkenal berkebangsaan Belanda. Cuypers bekerja dari jarak jauh di Amsterdam. Fermont dan kolega-kolega lain merealisasikan gagasan Cuypers dari kantor biro arsitek ternama di Batavia, NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam. Pada tahun tersebut, nama Hulswit sudah tidak dicantumkan lagi pada nama biro arsitek tersebut karena Hulswit sudah meninggal pada tahun 1921.
Menurut prasasti yang berada pada dinding teras bawah sisi barat yang berbentuk persegi, peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit mata dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tanggal 21 November 1922 (De Eerste Steen Geledg Door Z.H Hamengkoe Boewono VIII Op Den 21 Sten Nov 1922).


Pada tanggal 29 Mei 1923 rumah sakit mata ini diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock, yang mendapat kuasa dari Ratu Belanda. Rumah sakit mata tersebut kemudian diberi nama Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders, yang artinya Rumah Sakit Mata Putri Juliana untuk Penderita Penyakit Mata. Selain itu, rumah sakit mata ini juga sering disebut Rumah Sakit CVO, dan oleh CVO sendiri dr. Yap Hong Tjoen diangkat sebagai direktur.
Untuk melanjutkan cita-citanya dan melaksanakan tujuan pendirian CVO (pasal 2 stauten v/d CVO, tentang tujuan pada butir (d), yaitu memperbaiki penyandang tunanetra), maka pada tanggal 12 September 1926, dr. Yap Hong Tjoen mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama Stichting Voerstenlandsch Blinden Instituut. Lembaga ini bertujuan memberikan keterampilan kepada penyandang tunanetra yang berasal dari berbagai pelosok pedesaan.
Pada tahun 1927 Voerstenlandsch Blinden Instituut mendirikan panti perawatan dan pendidikan keterampilan bagi penyandang tunanetra. Panti ini kemudian diberi nama Balai Mardi Wuto. Di Balai Mardi Wuto, para penyandang tunanetra dididik dan diberi keterampilan supaya dapat mandiri dan menjadi lebih baik kesejahteraannya.
Sampai sebelum pendudukan Jepang di Indonesia, Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders dan Balai Mardi Wuto mengalami perkembangan yang cukup baik. Banyak penderita penyakit mata dapat tertolong sedangkan yang mengalami kebutaan banyak ditampung dan diberi pendidikan dan keterampilan guna membekali hidupnya.
Ketika Jepang menduduki Yogyakarta pada tahun 1942, Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders berganti nama menjadi Rumah Sakit Mata Dr. Yap untuk menghilangkan yang ada hubungannya dengan pemerintahan penjajah Belanda. Namun demikian, Rumah Sakit Mata Dr. Yap tetap diusik oleh bala tentara pendudukan Jepang bahkan dr. Yap Hong Tjoen ditangkap dan ditawan. Sejak saat itu hingga sekarang nama Rumah Sakit Mata Dr. Yap tidak pernah mengalami perubahan.
Pada tahun 1948, dr. Yap Kie Tiong putra dr. Yap Hong Tjoen kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya di Belanda. Melalui Akta Notaris No. 53 tanggal 17 Juni 1949 dihadapan Notaris J. Hofstade di Semarang, dr. Yap Hong Tjoen menyerahkan kuasa sepenuhnya kepada putranya dr. Yap Kie Tiong. Selama kepemimpinan dr. Yap Kie Tiong sampai beliau wafat tanggal 9 Januari 1969 tidak ada perubahan struktur dewan pengurus. Sebelum meninggal dr. Yap Kie Tiong sempat menulis sepucuk surat wasiat berkaitan dengan kelangsungan Rumah Sakit Mata Dr. Yap yang ditujukan kepada Kanjeng Gusti Paku Alam VIII, Soemito Kolopaking, Soemarman, dan dua orang anggota yang tidak disebutkan namanya. Isi wasiat tersebut antara lain permintaan mengambil alih Rumah Sakit Mata Dr. Yap guna kepentingan masyarakat.
Setelah dr. Yap Kie Tiong tiada, Rumah Sakit Mata Dr. Yap sempat mengalami kekosongan pimpinan sehingga mempengaruhi kelangsungan kegiatan rumah sakit. Kemudian dibentuklah yayasan penyantun Rumah Sakit Mata Dr. Yap Prawirohusodo sebagai pengelola Rumah Sakit Mata Dr. Yap.
Pada tanggal 1 Agustus 2002 Yayasan Rumah Sakit Mata Dr. Yap Prawirohusodo berubah menjadi Yayasan Dr. Yap Prawirohusodo sampai sekarang. Yayasan inilah yang mengkoordinir Rumah Sakit Mata Dr. Yap dan Badan Usaha Sosial Mardi Wuto. *** [010417]

Foto: Rilya Bagus Ariesta Nico Prasetyo

Kepustakaan:

http://ftp.unpad.ac.id/koran/republika/2011-02-04/republika_2011-02-04_024.pdf

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2015/01/29/lintasan-sejarah-rumah-sakit-mata-dr-yap-yogyakarta/

http://www.norbruis.eu/opdrachten/onderzoek-penelitian/cuypers-hulswit/

https://openaccess.leidenuniv.nl/handle/1887/40027

https://repository.usd.ac.id/2650/2/022214134_Full.pdf

http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2627-dr-yap-hong-tjoen-pendiri-rs-mata-dr-yap-di-yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar