Minggu, 14 Mei 2017

Indraloka Family Homestay Yogyakarta

Kawasan Jalan Cik Di Tiro tempo doeloe di mulut orang Belanda dikenal dengan Yap Boulevard. Boulevard itu berasal dari bahasa Perancis, yang artinya suatu jalan lebar nan ramai. Biasanya pada boulevard terdapat median pemisah, dan di kiri maupun kanannya ada tanaman peneduhnya yang cukup rindang. Jalan Cik Di Tiro dari dulu hingga sekarang masih seperti dulu, tidak banyak mengalami perubahan lebar jalan. Hanya saja pohon-pohon peneduhnya sudah mulai hilang seiring kawasan tersebut berubah menjadi kawasan komersial.
Namun demikian, jalan tersebut masih mencitrakan sebagai kawasan tempo doeloe yang banyak berdiri bangunan lawasnya. Salah satu bangunan lawas yang masih bisa kita jumpai adalah Indraloka Family Homestay. Homestay ini terletak di Jalan Cik Di Tiro No. 18 Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi homestay ini berada di pojok pertigaan ke Sagan atau pertemuan antara Jalan Cik Di Tiro dengan Jalan Kartini.
Menurut catatan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, bangunan Indraloka Family Homestay ini dulunya merupakan rumah milik orang Belanda yang bernama Van der Vin, yang dibangun pada tahun 1930.


Ketika tentara Jepang menduduki Yogyakarta, bangunan rumah Van der Vin ini sempat terlantar karena pada waktu pasukan tentara Jepang berusaha memenjarakan orang-orang Belanda maupun orang Eropa lainnya yang berada maupun bermukim di Yogyakarta. Mereka pada umumnya menjadi interniran.
Pada waktu ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, rumah tersebut pernah menjadi rumah dinas Dr. Prawoto Mangkusasmita, salah seorang anggota parlemen dari Partai Masyumi. Setelah ibu kota Republik Indonesia balik kembali ke Jakarta, rumah tersebut berada di bawah kewenangan Jawatan Perumahan Yogyakarta.
Pada tahun 1960 rumah tersebut dibeli oleh Moerdiyono Danoesastro, seorang ambtenaar di Yogyakarta. Prof. Dr. Soebakdi Soemanto, S.U. dalam Diskusi Great Thinker Umar Kayam di Sekolah Pascasarjana UGM pada 24 Mei 2011 menuturkan bahwa ‘priyayi’ yang dilukiskan dalam novel ‘Para Priyayi’, bukan priyayi yang berdarah biru tetapi kelas bawah yang berproses bergerak secara vertikal dan kemudian berada di kalangan elitis. Pada zaman penjajahan Belanda, mereka disebut ambtenaar. Pada zaman republic awal hingga sekarang, yang disebut ambtenaar adalah pegawai negeri. Jadi, Toean Moerdiyono Danoesastro sudah tergolong sebagai priyayi kala itu.
Setelah menjadi milik Moerdiyono Danoesastro, pada tahun 1970 fungsi bangunan rumah tersebut dirubah menjadi homestay. Homestay ini sampai sekarang masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya yang bergaya Indis di mana antara tradisional khas Jawa yang dibalut dengan gaya khas Eropa. Rumah yang menghadap ke arah barat dan selatan ini memiliki dua lantai dengan balkonnya yang khas. Keunikan yang lainnya adalah memiliki atap bangunan yang sangat curam. Awalnya atap tersebut terbuat dari sirap, akan tetapi sekitar tahun 2005 sirap tersebut diganti dengan genteng dengan alasan untuk mempermudah perawatan dan pemeliharaan.
Bila Anda sedang berkunjung ke Kota Yogyakarta, sempatkanlah mengunjungi bangunan bergaya Indis ini. Atau, bisa juga Anda menginap di homestay tersebut sekalian menikmati suasana tempo doeloe. Karena bangunan Indraloka Family Homestay ini telah menjadi Bangunan Warisan Budaya (BWB) dengan nomor 798/KEP/2009. *** [010417]

Foto : Rilya Bagus Ariesta Niko Prasetyo

Kepustakaan:
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/06/24/selayang-pandang-homestay-indraloka/
https://ugm.ac.id/id/berita/3378-umar.kayam.sastrawan.peduli.%C3%A2%E2%82%AC%CB%9Cwong.cilik%C3%A2%E2%82%AC%E2%84%A2

0 komentar:

Posting Komentar