Senin, 22 Mei 2017

The Phoenix Hotel Yogyakarta

Pelan tapi pasti, itulah kira-kira perjalanan saya menggunakan kaki dari PSKK UGM menuju Stasiun Yogyakarta. Pelan di sini bukan berarti lelet atau lamban dalam berjalan, melainkan dalam jalan kaki tersebut ada unsur sambil menikmati keindahan bangunan lawas yang dilewati. Sehingga, tiap kali menemukan bangunan lawas, saya berusaha berhenti untuk melihat, menanyakan kisahnya dan memotretnya.
Di antara bangunan lawas yang saya singgahi adalah The Phoenix Hotel. Hotel ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 9 Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi hotel ini berada di sebelah timur Bank Mandiri Graha Tugu atau Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut historisnya, hotel ini dulunya merupakan bangunan rumah tempat tinggal Kwik Djoen Eng yang dibangun pada tahun 1918. Kwik Djoen Eng adalah seorang Tionghoa yang berusaha membangun usahanya di Hindia Belanda kala itu. Ia bersama saudaranya (Kwik bersaudara) pertama kali mendirikan usahanya di Solo pada Juli 1894 dengan nama NV Kwik Hoo Tong Handel Maatschappij, yang bergerak dalam bidang ekspor impor hasil bumi (terutama teh dan gula). Usahanya ini sempat berkembang pesat hingga mengantarkan Kwik Djoen Eng menjadi saudagar kaya, dan NV Kwik Hoo Tong Handel Maatschappij menjadi firma di Hindia Belanda yang mampu mempunyai jaringan perdagangan yang luas di Asia Tenggara, Asia Timur bahkan sampai ke Eropa dan Amerika. Sekitar tahun 1920, perusahaan dagang Kwik bersaudara ini, kantor pusatnya dipindahkan ke Semarang sampai mengalami kebangkrutan pada tahun 1932 karena resesi ekonomi.


Akibat krisis ekonomi tersebut, banyak properti yang dimiliki oleh Kwik Djoen Eng yang tersebar di sejumlah daerah, harus lepas kepemilikannya. Ada yang disita oleh Javasche Bank, dan ada pula yang dijual sendiri. Termasuk di antaranya adalah rumah tinggalnya yang berada di Yogyakarta tersebut. Rumah bergaya Indis (Indische Landhuis) tersebut dijual kepada Liem Djoen Hwat. Oleh Liem Djoen Hwat, rumah tersebut disewakan kepada orang Belanda yang bernama D.N.E. Franckle. Franckle kemudian mengubah rumah tempat tingal menjadi sebuah hotel yang diberi nama Hotel Splendid.
Pada tahun 1942 pasukan Jepang berusaha menduduki Yogyakarta. Hotel yang semula dirintis oleh Franckle tersebut, akhirnya dikuasai oleh pasukan Jepang yang kemudian berganti nama menjadi Hotel Yamato. Penyematan nama Yamato ini hanya bertahan hingga hengkangnya Jepang pada tahun 1945, dan hotel tersebut kembali ke pemiliknya, yaitu Liem Djoen Hwat.
Pada tahun 1946 sampai dengan 1949 ketika Yogyakarta menjadi ibu kota dari pemerintahan Indonesia, bangunan bekas Hotel Splendid atau Hotel Yamato tersebut digunakan sebagai Kantor Konsulat China. Selang dua tahun kemudian, bangunan bekas Kantor Konsulat kembali digunakan sebagai hotel lagi. Hotel tersebut bernama Hotel Merdeka. Pergantian nama menjadi Hotel Merdeka ini bertahan hingga tahun 1987.
Setelah selesai difungsikan sebagai Hotel Merdeka, bangunan lawas tersebut dikembalikan kepada pemiliknya, yang pada saat itu telah berada di tangan cucunya. Lalu, bangunan tersebut direnovasi tanpa mengubah bentuknya dan pada tahun 1993 kembali difungsikan sebagai hotel, yang diberi nama Phoenix Heritage Hotel.
Sepuluh tahun kemudian, jaringan Accor Hotel Group mengambil alih manajemen Phoenix Heritage Hotel. Perubahan manajemen ini dibarengi dengan melakukan renovasi besar-besaran pada hotel ini. Setelah selesai renovasi, pada 14 Mei 2004 nama Phoenix Heritage Hotel resmi berganti nama menjadi Grand Mercure. Perubahan nama tersebut bertahan sampai dengan 29 Maret 2009, dan pada 30 Maret 2009, nama Grand Mercure diganti menjadi The Phoenix Hotel Yogyakarta hingga sekarang.
Kini, The Poenix Hotel Yogyakarta telah menjelma menjadi hotel bintang lima, dan berada jantung kota yang strategis letaknya. Namun demikian, hotel ini masih mempertahankan bangunan awalnya yang menjadi ciri dari keunikan bangunan tersebut sebagai fasadnya kendati di halaman belakangnya telah ada penambahan bangunan baru untuk menopang kelengakapan fasilitas hotel tersebut.
Berdasarkan Data Referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bangunan The Phoenix Hotel Yogyakarta ini sudah dimasukkan dalam Daftar Entitas Kebudayaan sebagai cagar budaya dengan kode pengelolaan KB001561. *** [010417]

Kepustakaan:
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2017/03/16/2468/
http://referensi.data.kemdikbud.go.id/index71.php?kode=046013&level=3
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/19555/Chapter%20II.pdf;jsessionid=7E086742B0539D6C4AE379C687E13422?sequence=3

0 komentar:

Posting Komentar