The Story of Indonesian Heritage

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Kota Tanjungpinang

Dalam perjalanan menuju ke Pelabuhan Sri Bintan Pura untuk melanjutkan ke Batam lagi usai melakukan qualitative research perihal Segmentasi dan Profil Pelanggan Agung Toyota di Tanjungpinang, saya berkesempatan mengunjungi sebuah museum yang bernama Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.  Museum ini terletak di Jalan Ketapang No. 2 Kelurahan Kemboja, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi museum ini berada di sebelah timur laut GPIB Bethel Tanjungpinang, atau sekitar 500 meter dari Pelabuhan Sri Bintan Pura.
Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah merupakan museum milik Pemerintah Kota Tanjungpinang yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bangunan yang digunakan sebagai museum ini menempati sebuah bangunan lawas peninggalan kolonial Belanda yang bernama Hollandsch Inlandsche School (HIS), yang didirikan pada tahun 1918. HIS ini merupakan sekolah Melayu berbahasa Belanda pertama yang berada di Tanjungpinang dengan Kepala Sekolahnya yang cukup terkenal saat itu adalah G. Stavast.


Pada masa pendudukan Jepang, HIS ini dibekukan. Karena pendudukan Jepang kurang menyukai segala sesuatu yang berbau Belanda, dan diganti menjadi Kokumin Gakko selama 2,5 tahun. Kokumin Gakko berasal dari bahasa Jepang yang terdiri atas dua kata, yaitu kokumin dan gakko. Kokumin Gakko adalah Sekolah Rakyat (SR).
Setelah Indonesia merdeka, bangunan gedung ini tetap difungsikan sebagai SR hingga berubah menjadi Sekolah Dasar (SD) 01 sampai dengan tahun 2004. Mengingat gedung ini memiliki nilai penting bagi sejarah awal mula pendidikan di Tanjungpinang, maka oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang beserta tokoh masyarakat dan BP3 Batu Sangkar setuju merekomendasikan gedung tersebut untuk dijadikan sebagai museum di Kota Tanjungpinang.


Pada tahun 2006 Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Permukiman dan Prasana Wilayah (Kimpraswil) merenovasi gedung utama sekaligus mengembalikan ke bentuk semula sebagaimana bentuk awalnya. Kemudian pada tahun 2007 Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau merehabilitasi bangunan tambahan sebagai fasilitas pendukung gedung museum seperti Ruang Kantor, Rumah Jaga, Pos Jaga, MCK dan Sumur.
Setelah selesai renovasi bangunan utama, rehabilitasi bangunan tambahan, dan pembangunan interior display untuk menempatkan koleksi-koleksinya maka pada 31 Januari 2009, gedung ini resmi menjadi Museum Kota Tanjungpinang dengan nama Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.
Nama Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah yang ditetapkan untuk nama Museum Kota Tanjungpinang, dikarenakan beliau merupakan tokoh yang sangat bersejarah di dalam perkembangan sejarah Melayu. Beliau merupakan sultan yang memerintah Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga pada tahun 1722-1760. Beliau merupakan sultan yang sangat peduli dalam bidang pendidikan.

Benda Koleksi Museum
Sesuai dengan denah museum yang diletakkan di dekat pintu masuk ruang pamer museum, diketahui bahwa museum ini memiliki berbagai benda koleksi yang ditata di ruang-ruang pamer yang ada. Ruang-ruang pamer itu terdiri atas:

Ruang Tanjungpinang Kota Bermula
Di dalam ruang ini dipamerkan sejumlah koleksi yang berkenaan dengan sejarah Tanjungpinang pada masa kolonial, dan masa Tamadun Melayu. Story line perihal sejarah Melayu mendominasi ruangan ini. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat koleksi uang kuno, teko permata, duplikat cogan, peta wilayah Riau dan Lingga tahun 1830, foto Tanjungpinang tempo doeloe yang diambil dari ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), keris Melayu, tombak, dan lain-lain.

Ruang Khazanah Arsip
Setelah puas dengan memperhatikan koleksi yang dipajang di ruang Tanjungpinang Kota Bermula, pengunjung bisa lanjut ke ruang berikutnya, yaitu Ruang Khazanah Arsip.
Ruang ini memuat sejumlah koleksi, seperti Silsilah Kesultanan Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga, khazanah arsip (kesusasteraan Melayu, dokumen tetang pajak pendapatan di Kerajaan Riau 1861, Al Qur’an bertuliskan tangan tahun 1275 H), alat penghisap candu, dan lain-lain.
Ruangan ini banyak dipenuhi koleksi mengenai jenis filologika, yaitu benda koleksi yang menjadi objek penelitian, berupa naskah kuno yang ditulis tangan atau pun cetak yang menguraikan suatu hal atau peristiwa.

Ruang Budaya Bahari dan Keramik
Ruang ini memajang benda koleksi milik museum, seperti wadah perhiasan Kristal, story line perihal masyarakat suku Laut di Kepulauan Riau, aneka pakaian adat Melayu, dan manekin sepasang pengantin lengkap dengan perlengkapan upacaranya, seperti mahar, dan pelaminan.
Wadah perhiasan Kristal yang dipamerkan di sini berbentuk oval seperti telur, sehingga untuk menyangga wadah ini ditempatkan pada sebuah penyangga yang terbuat dari besi berkaki 3. Wadah kristal ini bermotif hiasan flora berwarna kuning dan sebagian biru di seluruh badannya. Berbahan dasar kristal putih susu dan kuningan. Berfungsi sebagai tempat menyimpan perhiasan pada periode Islam dan Kolonial.
Selain itu, dalam ruang ini juga dijumpai koleksi jenis keramologika, yaitu benda koleksi yang dibuat dari dari bahan tanah liat yang dibakar (baked clay) berupa barang pecah belah. Di museum ini, pengunjung dapat menyaksikan guci tanah liat, cangkir, dan piring.
Guci tanah liat ini berglasir coklat pada bagian leher terdapat tonjolan berbentuk kepala singa. Guci yang berasal dari China sekitar abad 17 Masehi ini digunakan sebagai wadah untuk menyimpan air. Cangkir yang berbentuk bulat cekung dan kecil, berglasir dengan motif hias flora yang dilukis sapuan berwarna orange. Diperkirakan cangkir ini berasal dari Eropa abad 17-18 M.
Piring besar berglasir dengan motif bunga dilukis tangan, sebagai wadah makanan dan hiasan ruangan. Bagian dasar terdapat cap pabrik buatan Petrous Regout Maastricht, Belanda sekitar akhir abad 19-20 awal.

Keberadaan museum ini menjadi ruang yang luas bagi masyarakat Tanjungpinang pada khususnya atau masyarakat Melayu pada umumnya untuk mengetahui kesejarahan dan kebudayaan di Tanah Melayu sehingga museum ini bisa berperan sebagai jendela warisan budaya bangsa. Ayo ke museum! *** [210918]




Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terpopuler

Mutiara Kekunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Blog Archive

Label

Statistik Blog

Sahabat Kekunaan

Hubungi Kami